CERITA TANGISKU

Penulis sedang menikmati senja untuk mengeluarkan imajinasi dalam hamparan kertas #madapangga


Mereka bercerita tentang pahit manisnya kehidupan,
sedang aku bercerita tentang bagaimana pahitnya melawan kematian.

mereka bercerita bagaimana ranumnya buah dada para gadis-gadis yang mereka jinaki dengan label janji, sedang aku bercerita bagaimana hidup melawan kesepian.

mereka bercerita tentang megah dan jayanya ruangan dan kendaraan mereka, sedang aku bercerita bagaimana terhimpitnya hidup dalam gubuk derita.

mereka bercerita tentang partai politik yang paling besar, sedang aku bercerita bagaimana menyikapi masalah yang paling besar

Mereka bercerita tentang indonesia yang merdeka sedang aku bercerita kelaparan di persimpangan jalan

Mereka bercerita tentang pancasilais yang memuat sebuah ideologi negara dan merupakan hukum untuk di agungkan, sedang aku menangis dalam dalam bisingnya kota, akibat tak dapat berpendidikan yang layak.

Mereka bercerita tentang luasnya lapangan pekerjaan, sedang aku bercerita tentang bagaimana menciptakan pekerjaan.
Namun ceritaku menjadi suatu kisah pilu
Mereka menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang harus di kasihi.

Mereka bercerita tentang hidupku, sedang aku bercerita tentang bagaimana membuat mereka menjadi penonton di setiap episode kesuksesan ku

Mereka bercerita tentang miskinnya keluargaku sedang Aku bercerita kalian tak patut mengasihani apalagi ku kasihani

Mereka bercerita aku menangis


Gie

MATA WANITA PENYIHIR HIJRAH

Ilustrasi puisi


MATA WANITA PENYIHIR HIJRAH

Kau bagai Garwa padmi
Mengikis membabat habis semua muara kemerdekaan diri
Ketika rasa di rajam oleh naluri rasa
Ia menggali semua hirarki kehidupan

Menerkam semua ambisi, hingga lenyap dan mendekap dalam satu jiwa yang bersembunyi dalam jiwa dewi itshyar.

Sepenginang saja tatapan mata membentur
Membuai seluk beluk lirikan tanpa makna
Menjerumus mimpi dalam angan
Hingga jiwa seakan di geluti oleh pahatan asmara yang menggerogoti setiap kewarasan diri.

Menjenguk rindu dari dalam dasar kholbu
Yang selama ini tengah mati suri
Dari kisah amor yang mencuatkan gulana

Kau usik jiwa yang tengah bersemedi
Menjumpai diri dalam diri
Hingga bergejolak birahi asmara
Menutup hakikat menjumpai Dzatnya.

Kau penyihir ulung
Kesendirian dalam perjalanan fisabilillah bisa kau usik
Bisa kau goyahkan hingga terpancar kembali naluri kelaki-lakianku menggeluti semua lekukan rautmu.
Kau jahat dalam diam mu yang memuakkan
Kau jahat dalam hijrahku
Kau jahat dalam pencapaian ku menuju Tuhan
Kau jahat wanitaku
Kau jahat menyihir sukmaku.

AKU PERNAH DISINI BERSAMA MEREKA



Demi bumi yang tak pernah luput mentasbihkan untuk makhluk Tuhan

Demi Langit yang di dalamnya ribuan makhluk suci
Saksikanlah diriku

Saksikan bahwa Aku pernah disini bersama mereka
Menelajangi semua dinamika hidup
Yang di bungkus dengan canda
Hingga tercapai sebuah pikiran untuk kebersamaan

Menuju sastra ukiran Tuhan
Mencermati segala aksa
Mengilhami sebuah karya
Hingga terwujud sebuah cakra imaji
Menancap indah di hulu tempat saraf
mengetuk bait-bait hampa


Aku pernah disini bersama mereka
Besama gaungan Gong yang kian menderu
Membisiki jiwa yang telah lama hambar
Dari lingkar dentingan-dentingan budaya.
Menjurus pada semesta tepian air

Kualitas diri dalam menata keindahan budaya
Kemudian muncul bersama jiwa-jiwa mereka
Menghadirkan sebuah kehidupan baru
Yang tengah berkelana di hutan rimba yang tak pernah ada.

Patahan kata aku disini bersama mereka adalah cinta


Gie


MITOS PULAU ULAR






Bima adalah salah satu daerah di ujung timur pulau sumbawa yang memiliki banyak potensial sumber daya alam (SDA) yang begitu banyak, dan tempat-tempat pariwisata yang sangat indah. Salah satunya ialah "PULAU ULAR" yang terletak di Desa Pai Kecamatan Wera ini. Tempat ini merupakan salah satu tempat yang sangat mistis dan menyimpan cerita legenda yang begitu menakjubkan. hingga dalam penalaran akal sehat kita tidak mampu menelaahnya.

Menurut Siti Mariam (wa'i Ria), warga asli Desa pai, Pulau Ular merupakan peninggalan sejarah pada jaman kepemimpinan raja indra kumala, yang pada saat itu terjadi peperangan antara Kerajaan Bima dengan Kerajaan Flores, dalam peperangan tersebut kerajaan Bima berhasil menaklukan kerajaan Flores. Akhirnya seluruh wilayah dan peraturan kerajaan Flores di pegang penuh oleh kerajaan Bima.
Setelah sekian tahun tunduk dan takluk pada pemerintahan kerajaan Bima, Kerajaan Flores membangun kembali kekuatan pasukannya dan berniat untuk membebaskan wilayah kerajaannya dari semua aturan kerajaan Bima. Guna untuk meluruskan niatnya tersebut, kerajaan Flores melakukan perjanjian kerjasama dengan pemerintahan Belanda, dengan syarat kerajaan Flores harus membayar upeti kepada pemerintahan Belanda dan seluruh hasil SDA (Sumber Daya Alam), harus di jual kepada Pedagang Belanda.

Namun rencana pemberontakan dan perjanjian kerja sama antara Kerajaan Flores dengan pemerintahan Belanda di ketahui oleh Kerajaan Bima melalui Kabar dari mata-mata yg di kirim khusus oleh kerajaan Bima, Karena melihat kejanggalan aktivitas pemerintahan Belanda terjadi pada wilayah Flores. Mendengar berita yang di sampaikan oleh mata-mata tersebut, Raja Bima (Indra Kumala), kemudian Mempersiapkan pasukan perang guna untuk menghacurkan bibit-bibit pemberontak bersama antek-antek Belandanya.

Setelah pasukan Kerajaan Bima siap, Mereka menghadang musuh yg ingin melakukan pemberontakan di wilayah timur Bima (wera&sape), Terjadilah perang yg dahsyat, Pasukan Kerajaan Bima berhasil menaklukannya.

Sementara kapal Yang memuat Raja Flores dan para petinggi pemerintahan Belanda di tawan/tahan oleh pasukan armada Kerajaan Bima. Kemudian Raja Bima dengan Kemurkaannya Mengutuk seluruh  Awak kapal dan Raja Flores beserta para petinggi Belanda menjadi Hewan melata (ular) dan Kapal nya menjadi batu yang membentuk sebuah pulau, dan, tiang kapal tersebut menjadi pohon Kamboja yang sampai sekarang masih hidup dan tidak pernah tumbuh besar.

Karena batu besar yang membentuk pulau tersebut dan berpenghuni ular. Akhirnya Masyarakat di Wilayah tersebut menyebut tempat tempat itu dengan Nisa (pulau ular).

wilayah Pulau Ular tepatnya di wilayah Timur Kab. Bima, Ujung Kec. Wera, Di laut selat Sapeini menjadi sesuatu pemamdangan yang luar biasa, 

Namun jauhnya wilayah ini dari ibukota kecamatan membuat pulau yg satu2nya ada di belahan dunia menjadi tidak tersentuh oleh para wisatawan, di tambah dengan jalan yg rusak, membuat tempat yg keramat (ular laut jinak) sekaligus pemandangannya yg begitu menenangkan jiwa, menjadi tempat yg hanya mitos belaka,

letak strategis pulau ini menjadi ciri khas tersendiri untuk para wisatawan yg ingin berkunjung ke pariwisata ini,

letak strategisnya tempat ini ialah daya tarik yg begitu memukaukan hati bagi para wisatawan,

sebelah utara terlihat gunung berapi/ pulau sangiang, yg sedang di teduhkan oleh gumpalan awan putih yg memanjakan jiwa,

 di sebelah selatan terlihat dengan jelas biru kehijauan air laut yg di hiasi oleh pantai pasir putih yg menambah imajinasi kita bertambah gairah hingga kita ingin mrlukis indahnya itu dalam bentuk aksara,

di sebelah timur, di pagi hari tempat munculnya sang fajar di atas pulau gili banta, yg menjadi moment paling  berharga ketika kita berada di puncak gunung keramat yg membatasi dusun kalo dan desa payi,.

di sebelah barat ialah desa yg di kelilingi oleh tanah berpetak petak yg di hiasi oleh hijaunya daun bawang para petani, menjadi keindahan trsendiri.

Pulau ular terletak di selat sape, selat yg memisahkan, atau yg jadi pal batas wilayah antara NTB dan NTT, 

Pulau ini menyimpan sejuta sejarah pada masa kejayaan kerajaan Sang bima, (raja pertama bima yg di ambil namanya menjadi nama daerah bima). Dari kisah inilah yg menjadi nilai history yg logika kita tidak akan percaya dengan keramatnya pulau ini.

HIDAYAH MENUJU MAKRIFAT

Hidayah Menuju Makrifat

Rembulan menyeka air mata langit
Atas haru kasih tuhan kepada penduduk bumi
Membekas dalam kubangan
Menjalar menderukan sajak-sajak Tuhan

Terus mengalir penuh di ujung bibir mimpi-mimpi
Menjejak bekas pada hati yang telah lama hitam
Hingga terpancar sebuah alunan bahasa sabda
Diatas lazuardi ia terpental di sudut penjuru cakrawala

Menjumpai diri di dalam diri
Hingga terbesit suara tak berupa
Cahaya ku adalah wujudmu yang tak terlihat
Bezakan aku dari segala Sifat dan Dzatku

Hidayah makrifat adalah impian para jiwa suci
Yang bernaung di bawah lentera para jiwa sufi
Mencapai lauhil mahfudz melewati batas arasy
Hingga tak ada ruang pembatas di dalam kholbu


Lukisan Aby ima