DEMOKRASI RASA KAPITALIS

Foto : Penulis


Aku pengemis demokrasi yang mencari keadilan dan kejujuran dalam kepekatan kabut politik....
Engkau yang berlalu lalang dengan sutera berkereta kuda....
Emas kami telah kau rampas bersama kuasa yang berada ditanganmu....
Aku merasa ada dinegeri ujung tanduk....
Bersama bangsa yang dibangun oleh para Bedebah....
Engkau memahat mimbarmu sendiri dan berceramah tentang kebaikan didepan keburukan....
Tanganmu bagai sutera tapi hatimu besi....
Kata-kata yang menguap bersama kotoran gigi - gigi busukmu bagai madu saat ini....
Dan akan menjadi racun dikemudian hari....
Inilah keringat kami yang menjadi nasi....
Bukan sepertimu yang menabur janji menjadi berlian....
Sadarlah bila engkau berdansa diatas kubangan keringat rakyat jelata........

JUJUR TIDAK MEMBUNUHMU

Foto : Penulis

Mengapa tidak kau katakan saja isi hatimu
Hatimu yang selalu merindu
Merindukan tatapku yang membuatmu tunduk merunduk

Mengapa tak kau akui saja isi hatimu
Bahwa akulah wanita yang kamu tuju
Akulah wanita yang kau inginkan tuk hadir dalam hidupmu

Namum gengsimu membuatmu bungkam
Hingga rasamu tak kunjung mendapat balasan dari hatiku

Aku bukanlah sahabat rentenir yang menukar hati dengan sebongkahan perhiasan

Aku bukan pula bukan seorang Hitler yang membutuh akar hatimu

Tapi aku hanya ingin bergerilia bersama bunga asmaramu.

Penulis : Dian Novita

PAHIT TAK BERKEHIDUPAN

Foto : penulis

Pahit getirnya hidup telah banyak ku lalui
dalam setiap hembusan nafas dan deraian air mata
semua itu telah melukiskan luka tersendiri
dalam satu ruang di hati ini

Kecewa, sakit, menahan setiap luka
goresan itu telah melukai batin yang sudah cukup tersiksa ini
dan semakin lama membuatku makin sakit dan sakit
kini aku telah di rambah oleh keterasingan hidup dan kesengsaraannya
semangatku telah patah

senyumanku telah pudar
karena aku telah terjerat dalam sebuah kehidupan yang semu
Aku terjatuh di sebuah jurang kegelapan
tersesat dalam jalan tak brujung dan
tenggelam di tengah lautan tak bertepi

Dingin dan sunyinya malam selalu menyudutkanku dalam tangis
manis pahitnya hidup membuatku bimbang dan resah
aku bener-benar terpuruk dalam keterpurukan yang panjang
kesedihan memenuhi setiap anganku

fikiranku di penuhi awan mendung yang gelap
semakin lama semakin ku ingin menjauh pergi dan lari
membawa setiap luka dan rasa kecewa

namun aku tak mau terlalu lama di jajah oleh rasa pilu
karena rasa itu telah menghancurkan harapan ini
Aku telah didera oleh dinginnya angin malam yang menusuk ragaku
aku di landa ketakutan kegelapan yang mencekam
Kini aku benar-benar merasakan pahitnya hidup
sendiri dalam sebuah keterasingan
yang mengheningkan sejuta luka kalbu
Setiap ku mencoba tuk berdiri

aku selalu di dudukkan oleh bayangan dunia kegelapan
bayangan itu selalu melayang-melayang di benak ni
mengiringi setiap pijakan alangkah kaki dan detak jantung
Aku lemah langkahku gontai

merasakan tabir kehidupan ni
alunan nada sendu selalu berdengung-dengung di pendengaranku
tatapan kebencian selalu membayangiku dalam tangis
Kesunyian, Kesendirian, dan kesedihanku
telah menggagalkanku dalam mengarungi hidup ini
aku kehilangan


Penulis Arizona

MEDIA ADALAH SENJATA PENGUASA

Foto : sang penulis 

Media merupakan aset penting dalam keberlangsungan masa depan negara dan bangsa.

Karena memang satu tinta pada pena yang turukir dalam sebuah media bisa membungkam  ribuan penguasa dan bisa pula sebaliknya. Pemimpin besar bahkan diktator sekalipun dibelahan dunia manapun banyak yang rontok dengan keperkasaan sebuah pena, atau dimasa sekarang jari-jari wartwan yang menari di atas keyboard komputernya.Tarian jemari itulah yang mengantarkan semua fakta untuk dipublikasikan.

Akibatnya media dengan segala keunggulannya mampu mempengaruhi opini publik hingga berujung tumbangnya kekuasaan, sekali pun dia teramat berkuasa. Kekuasaan akan tumbang jika jari jemari wartawan sudah mulai menari- nari.

Tak bisa di pungkiri bahwa media adalah senjata revolusi masa kini. Media massa menjadi bagian dari alat kekuasaan yang bekerja seakan secara berideologi untuk membangun kepatutan terhadap kelompok yang berkuasa.

 Negeri ini, keampuhan media masa baru terlihat seketika setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 mei 1998, tepatnya semasa orde reformasi tiba. Berbagai tokoh besar dan kecil rontok dan jatuh dari kursinya. Sedikit Banyak hal itu dipengaruhi oleh kekuatan media massa.

Disisi lain Antonio Gramsci (1971, dalam Al Zastrouw 2000) melihat media merupakan arena pergulatan antar ideologi yang saling berkompetisi, Gramsci berpandangan media massa sebagai ruang bagi semua ideologi, Ini berarti media bisa menjadi alat penguasa, alat legitimasi, juga control terhadap wacana publik. Namun, dia juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan, seperti yang terjadi pada tahun 1998 di Indonesia. Media juga bisa menjadi alat membangun kultur dan ideologi yang dominan bagi kepentingan kaum elit, sekaligus menjadi instrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.
Media juga bisa memberikan pengaruh positif dan bisa saja negatif, pengaruh tersebut bersifat relatif bergantung pada yang idiologi pengendali, itulah yang menyebabkan kenapa media sebagai kekuatan raksasa yang sangat diperhitungkan.
Selain itu Pers atau Media secara kelembagaan memilikikode etik dan kesempatan yang sama untuk memberikan pemaknaan terhadap realitas sosial serta mencoba mempengaruhi khalayak dalam pikiran, gagasan maupun nilai-nilai yang dianggap baik oleh si penyampai pesan (komunikator) atau pengelolanya.
Menurut wartawan senior Parni Hadi, Jurnalis yang baik harus memahami banyak persoalan dan berwawasan luas, karena pada hakikatnya jurnalis adalah jendela yang menghubungkan sebuah ruangan dengan dunia luar, maka jurnalis harus menjadi jendela yang senantiasa terbuka, jernih bagi siapa saja yang hendak memandang dari luar maupun dari dalam jendela.

Persoalan mengenai realitas yang akan diliput media massa adalah perdebatan paling penting diantara kubu kaum pluralis dengan nalar kritis. Mereka para penulis pluralis melihat apa yang terjadi, apa yang terlihat adalah fakta sebenarnya yang dapat dilihat dan diliput. Sebaliknya pandangan kritis melihat relitas yang hadir sesungguhnya merupakan realitas yang terdistorsi.

Hal ini berarti realitas yang ditampilkan media bukan yang sesungguhnya, tetapi telah dipoles sedemikian rupa untuk kepentingan dominan.  Dalam konteks ini media menjadi semacam alat untuk mensosialisasikan kelompok tertentu.
Menjadi Persoalan bangsa Indonesia bagaimana keadaan media massa saat ini, sehingga terkadang dapat diamati media yang satu memihak salah satu komunitas tententu sesui konspirasi semula, sehingga pemberitaan media tersebut selalu berulang-ulang ditayangkan di televis maupun media online.   Sehingga hadir pertanyaan,  apakah masih ada media yang netral dan independen dalam memberitakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara secara meluas dan bersifat netral  bagi konsumen atau penontonnya, media cetak dan media online seakan menjadi cambuk yang menakutkan bagi seluruh rakyat yang indonesia,  terlebih lagi kaum tertindas.
Mungkin rakyat sudah bisa menilai media yang telah berpihak pada seseorang elit atau oada kelompok tertentu, sehingga berita tersebut selalu mencoba menyudutkan lawan semisal dalam hal politik.  seperti kita Tahu TV one itu punya Aburizal Bakri, Metro Tv itu punya Surya palo, semua sudah memahami isi pemberitaan mereka yang seakan memiliki suatu kendati dan bisa dikatakan pro dan kontrak.
Ini adalah Bayangan nyata yang terjadi di Indonesia, dimana media sudah tidak lagi menempatkan posisinya sebagai control sosial dan penetralitas serta balance dalam pemberitaan, semuanya hanya dijadikan alat kepentingan politik, maka yang tidak memiliki media akan selalu mendapat kritik pedas meski kesalahannya hanya sedikit.
Kita hanya berharap ada perubahan dalam media massa kita saat ini yaitu netral dan balance, karena untuk control sosial yang lebih terarah buat masyarakat dalam hal penyampaian informasi. Apa lagi media memiliki kode etik sendiri,  harusnya menjadi dasar bagi media untuk menunjukan sikap independensi tanpa tendensi politik dan lain sebagainya.

Penulis : KILLING LAW

BERTANYA PADA SI BISU

Foto : penulis puisi


Tanyaku pada sang rembulan
Apakah hanya aku yang menyelinap pada mimpi di hari esok

Namun engkau masih saja menatapku dengan penuh sinis

Bukankah aku bersamamu,  hanya jarak yang tak memutuskan kita sejajar

Namun aku masih menatap sendiri

Mungkinkah aku hanya berilusi,  tapi tidak

Aku melihat sendiri,  kaum jelatan menetes berharap tangan mengulur

Namun nihil tersentuh jawaban, maka aku beramarah

Saatnya masa kelam,  1998 pun menjunjungku untuk bertapa pada tepian-tepian lalu tintas

Negeri tengurap,  bertelanjang hukum berbasic korup

Dijamak sang belatuk cina, bersurban pelita
Bongkar kata ifan fals,  namun banyak yang telah tutup usia idiologi

Kapal selam mengelembung pada lautan,  asap   kapal meracuni kehidupan akal

Ayo ciptakan asap kebebasan

"fhyan Mapera"
Makassar,  9/9/2018