MASIH SELALU MENGHARAPKANMU

Foto : Ilustrasi puisi

Luka dalam hati begitu pedih
Hati lara galau dan begitu sedih
Bak hujan angin gemuruh
Selimuti hari yg kian jenuh
Setelah kau putuskan untuk menjauh
Dari diriku yg inginkan dirimu menjadi pembasuh peluh

Berlalu kisahku denganmu
Meninggalkan bekas luka dalam kalbu
Membuat hari terasa layu
Berkaca pada cahaya silau
Yang Membuih menjadi tabu
Atas rasa dulu yang sangat biru

Tapi....
Walau engkau pergi meninggalkanku
Tapi yakinlah cintaku selalu untukmu
Meski hati ini begitu parau dan galau
Dan begitu sangat rindu
Ku ikhlaskan engkau berlalu
Jika itu yang terbaik untukmu

Namun jika kau ingin kembali padaku
Percayalah cinta ini masih tetap sama seperti dahulu
Cinta yang sama untukmu
I love u

SELAMAT JALAN KAWAN


AKU MENGUTUK KEMATIAN

Kurasakan betul bagaimana hitam itu
Ia mengalir bagai darah yang membara
Tak ada yang mampu di lihat
Bahkan tatapan tak mampu melihat di depan layar

Sempat di sapa oleh suara
Namun hirau entah kemana
Ia mendekam dalam alam yang sangat jauh
Menyerupai buta tuli tanpa indra

Aku mengutuk kematian
Sebab kehilangan adalah bencana
Pemberi luka derai air mata
Air mata dia
Air mata ku
Air mata para kolega

Aku benci perpisahan
Sebab menidurinya sangat menjijikan
Hampa tanpa tepi
Sakit tanpa luka

Hari kemarin kita minum kopi bersama bukan?
Sekarang kenapa kau lekas pergi tanpa sepatah kata?
Bukankah aku di depan mu tadi?
Di dekat pembaringan aku berdiri
Apa kau tak mendengar?
Aku memanggilmu
Kau tuli?
Kau buta?
Kau mati?

Tak percaya rasanya sobat
Kita baru saja berpikir bahwa kita akan menjadi orang yang akan merubah wajah desa kita
Kita berbicara sambil asap ngebul menjulang di udara
Kini kau telah terlelap abadi
Terkulai dengan wajah pucat pasi

Kau ingat bukan?
Tapi kau bisu dalam diammu
Kau tuli dalam lelapmu

Selamat jalan brother

MENIKMATI DUNIA

Penulis : ilustrasi puisi

Mata tak mau merem
Mikirin puisi yang bermakna dalem
Sambil ngirup lem
Hidup indah terasa kalem
Lalui indahnya malem
Di bawah pohon palem
Main gitar sambil ngelem

Oh dunia bagai di surga
Tak tertandingi dahaga ingin menyapa
Bintang gemerlap pemberi cahaya
Oh indahnya karunia
Menghayal tingkat dewa
Ilusi terasa terbang ke angkasa
Meraih bulan yang menghiasi surga

Cakrawala ku di atas kelana
Melayang hingga ke samudra Hindia
Bermain bersama penghuni bahtera
Yang ingin menikmati dunia

Oh oh oh oh

Andai aku bisa berkarya
Menjadikan ini sebagai kata
Pelepas penat dalam bingkai aksara
Penyambung bait tuk kalimat dara
Yang tengah merayu di ujung senja

MENGAPA?

Foto : penulis


Menggema dalam setiap detakan
Gong ini membingarkan telinga
Andai saja ringkikanku dapat kau tafsirkan
Mungkin aroma dari semerbak harum akan tercium di kala pagi datang menyapa

Seirama sair berdendang dalam senandung
Dekapan pikiran terus menyelam dalam kebisuan yang haus akan hadirmu

Gerakku mulai terhampa pikiranku mulai menganga
Atas ambisiku yang kian hilang oleh torehan yang tak kian menggema

Mengapa?

Mengapa kau tak bisa membaca atas kata yg kurangkai dalam baitku

Mengapa?

Mengapa dalam menjamu hanya sekedar lemparan senyuman sinismu

Mengapa?

Senggama gema kini kian tabu akan harapan
Seiring pikiran telah tengelam dalam raut yang hanya bayangan

Harapanku hampa
Harapan ku sirna
Harapanku harapan

DEMOKRASI RASA KAPITALIS

Foto : Penulis


Aku pengemis demokrasi yang mencari keadilan dan kejujuran dalam kepekatan kabut politik....
Engkau yang berlalu lalang dengan sutera berkereta kuda....
Emas kami telah kau rampas bersama kuasa yang berada ditanganmu....
Aku merasa ada dinegeri ujung tanduk....
Bersama bangsa yang dibangun oleh para Bedebah....
Engkau memahat mimbarmu sendiri dan berceramah tentang kebaikan didepan keburukan....
Tanganmu bagai sutera tapi hatimu besi....
Kata-kata yang menguap bersama kotoran gigi - gigi busukmu bagai madu saat ini....
Dan akan menjadi racun dikemudian hari....
Inilah keringat kami yang menjadi nasi....
Bukan sepertimu yang menabur janji menjadi berlian....
Sadarlah bila engkau berdansa diatas kubangan keringat rakyat jelata........