NEGERIKU BERPOLIGAMI

Logo : MPR Mapera Nusantara


Negeri ini bernama Indonesia
Bernafaskan Pancasila dan beridiologikan Demokrasi
Kekuatan bernama rakyat
Hukum hidup mensejahterakan rakyat

Negeri yang bergelimpahan kekayaan alam
Dibangun dari tumpukan-tumpukan jasad para pahlawan
Lautan darah pernah mengaliri
Perjuangan dari sabang sampai merauke
Dari pulau rote sampai miangas tanpa ambang batas.

Beruntung kala itu penghianat mudah tenggelam.

Ada pula negeri bernama indonesia,  yang kini dikenal dengan lambang Merah darah,  Putih tulang(🇮🇩)

Kini tiba masanya para penjajah negeri sendiri mengumandankan bunyi-bunyi penghianatan

Korupsi merajalelah
Ketidak adilan mendunia
Pembodohan semakin pesat
Kepentingan disanjung
Rakyat ditelantarkan
Kasihanlah Garuda

Garudaku tinggallah seorang diri
Digantikan
Ditelantarkan
Dihianati
lalu dicampakkan.

Penulis : Defisofian

UNIKNYA RINDU

Foto : penulis

Kalimat cinta sudah tak lagi bermakna
Atas kisah yang kini berkelana
Menjarah rasa dalam dada
Berakhirlah semua yang aku rasa
Hati kini semakin merana
Karena cinta telah menjadi asa
Dan rindu hanya sebagai aksara
Pelengkap kata asmara
Pada amor yang katanya adalah dewa

Nurani ingin menjadi tirani
Agar bisa membalas sakit ini
Namun aku tak kuat melawan hati
Yang selalu tetap mencintai
Meski dusta dalam rindu selalu meniduri

Uniknya rindu
Meski setelah apa yg kau lakukan padaku
Membuat luka yang begitu pilu
Namun rasa ingin bersua denganmu
Menghilangkan semua ego dalam diriku

Andai saja engkau tau
Disini kumasih sangat rindu
Menyetubuhi pikiran liarku
Yang ber_asa inginkan sekali lagi cintamu

Namun itu semua hanya angan
Pada pikiran yang ingin melawan
Gejolak asmara yg sudah tertelan
Oleh badai cinta yg menghempaskan

Percayalah wahai gadis ayu
Aku disini bersama sang bayu
Menikmati gemintang buih ombak yang beradu
Di tepi pantai laut biru
Sekali lagi aku menunggumu
Kembalilah bidadariku

AKU ADALAH DIRIKU

Foto : penulis

Hadirku memang tak memberi warna
Karena aku bukanlah pelangi atau pelita
Yang dapat menerangimu dengan cahaya
Aku hanyalah pemuda pengembara
Yang tak tau arah dan tak tau kemana

Hanya penguasa yang tau
Apa yang aku cari dan ku mau
Jika dirimu tak sanggup mengimbangi hidupku
Terpaksa ku lepas engkau tuk berlalu
Agar kau bisa menjalani hidup baru

Kini aku tau
Kamu memang begitu
Tak pernah mengharapkan ku
Apalagi mencintaiku
Andai saja dari dulu aku tau
Kamu hanya mempermainkanku
Tak akan ku kenal dirimu
Meski dalam semu

Aku memang tak sempurna
Tak berparas tampan dalam rupa
Tak juga bergelimangan harta

Tapi inilah aku
Aku adalah diriku
Tak punya rasa kaku
Setiap hari berjalan tanpa ragu
Meraih cita-cita dan membuatmu malu
Karena telah mencampakkan cinta sejatiku

Setiap hari aku melewati kerikil kehidupan
Yang mengganjal pada tiap tapakkan
Dalam menggapai sebuah harapan
Untuk sebuah kesuksesan
Dihari yang telah Tuhan takdirkan!!


Saat itu aku akan berteriak dengan lantang
Menyatakan pada dunia aku datang untuk menantang
Menjadikan namaku seorang yang terpandang
Menaburkan genderang gendang
Tanda waktu kita mulai untuk berperang

Semua ini adalah sandang
Untuk ku jadikan pedang
Penumpas kehidupanku yang malang
Sayang (sandal melayang)

BERSABAR MENUNGGU KEPASTIAN

Foto : penulis
Kesabaran Bukanlah telapak tangan yang selalu menghadap dinding langit

Kesabaranku bukan pula menanti ketibang permata

Namun kesabaran adalah Menundukan hati menegakkan kaki untuk terus berusaha

Berbicara kesabaran tidak membenci ketidak pastian dan tidak menyembah keberuntungan,  tapi kesabaran berbicara tentang rasa syukur akan keadaan yang masih belum sependapat

Jauh melintang kehidupan tersirat tabir-tabir penghalang
Bagi yang tak pandai mendaki akan tergelincir dan terkocar kacir,  yang telah mendaki belum pula merasa telah menang

Karena hidup tak sebatas   menjadi nomor satu
Tapi hidup yang sesungguhnya adalah menanti kematian

Sebelum kematian datang,  bersabarlah menunggu kepastian

Penulis :sofyan

MANUSIA PENJAMAK TUHAN

Foto : penulis

Dibawah rembulan yang terang
Menyinari hati yang redup
Mengungkap suatu tanya
Akan waktu yang tak bertumput arah

Akankah suatu tanya menjadi jawaban
Dimalam yang terang disaat hati yang redup
Kuasanya tuhan memang bukan aku yang menentukan
Adakah secercah cahaya yang terpendam dibalik dada yang sesak

Engkau rembulan tidak pernah menjadi sahabatku
Padahal engkau selalu bersamaku
Kenapa hanya engkau yang bercahaya
Tanpa engkau tahu gelapnya rasaku
Bila engkau sahabatku, aku pun rindu gemerlap tanpa noda berhala

Dibawa rembulan yang terang menyirat hati yang redup
Luka lama tergores menjadi luka baru tanpa tepian

Ternyata benar,  batasku hanya seorang manusia lusuh yang tak berdaya akan kehendak.

Penulis : Defisofian