HAMPA HATI

Foto : penulis

Alang-alang nan tinggi
Panorama asing menutup halaman
Angkernya hati dikala kosong
Terasa hening, senyap menyengap

Getir, takut, seram beraroma
Tatapan yang datang penuh rindingan
Janganlah takut
Aku tetaplah aku
Aku masih punya hati
Meski tiada yang menyinggahi

Alam, bantulah aku
Angin, bawalah aku
Hujan, sirami hatiku
Cahaya, sinari hatiku

Aku butuh teman
Sebagai pendamping dalam hidupku
Yang mampu merawat dan menjaga anak-anakku nanti
Yang menyayangiku sampai akhir hayat menjemput
Hingga lahir aura yang baru
 Menjadi jiwa yang merasa hidup

Penulis : Aris

SENJA KENANGAN BATAS KOTA TEPIAN AIR

Foto : perbatasan kota tepian air (bima)
(Sumber : Fotografer HUMAS Kota Bima)

HAHAHA
Tentunya kau ingat bukan?
Saat kita berada di atas jalur roda dua
Kau memeluk punggungku
Kau bisiki keindahan dan kebahagiaan hatimu
Serasa rasa nyaman itu hanya ada pada nafasku

Masihkah kau menyimpan hasrat itu?
Kepercayaan yang kau tanamkan padaku di senja yang hampir buta?
Ketika sandaran kepala kau rebahkan di pundakku

Masihkah kau ingat?
Sekulum senyum dari sunggikkan bibirmu yang di olesi lipstik merahmu.
Kau bergurau dalam suatu kelakar

"Es buah di batas kota tak semanis dan seranum buah dada, namun cinta tak membutuhkan buah dada ataupun hasrat nafsu yang melekat pada birahi."

Kau adalah sesuatu yang berbeda bagiku
Kau luar biasa
Ada jiwa liar yang bersemayam dalam dirimu, yang membuat diriku merasakan ada hal yang sama dalam kelakar liar kita.

Aku masih tak percaya hal ini, sesuatu yang mengerikan menerpa hubungan kita, menjumpai pisah dalam kata yang ingin ku hapuskan di atas muka bumi ini.

Hahaha
Sekali lagi aku menertawakan diriku
Lintinganku tetap i bersama secangkir kopi
Menumbuhkan imaji pada asa yang tak terjangkau
Menemui maya pada rasa yang tengah beradu
Hingga lenyap dirimu dalam pikiranku
Meski kau sedang merebah di pundakku
Saat senja di batas kota tepian air itu

Aku kamu dan lintinganku
Itu yang ku beri judul dalam pikiranku
Kemudian pikiran liarku menggerakkan bibirku
Berucap sepatah kata cinta demi halusinasiku

Kau percaya bukan??
Aku tengah membual dengan sejuta bahasa pujian
Menyeruput kopi
Sambil mengepulkan asap lintingan yang tengah ku isap.

Hufffftttt
Abu putih menyerupai awan keluar dari rongga mulutku
Lalu kau terbatuk
Memintaku tuk mematikan hasratku
Tuk melupakanmu
Tuk melupakan lintinganku

Kau tau juga bukan??
Aku lelaki yang tak bisa di kekang
Aku merdeka dalam segala tindak tandukku
Sebab itu kau jua mengerti
Tapi senja yang hampir punah itu emunculkan keberanianmu
Kau sekali lagi memintaku untuk menjaga diriku

Tentunya kau tak main-main dengan nasehat itu
Ada aura kasih sayang yang kau pancarkan dari sorot indah matamu
Sebelum gelap datang menerpa
Menggerogoti semua kebahagiaan kita
Kau jatuh di atas sandaran pundakku

Kau pingsan ?
Aku terhenyak bukan kepalang
Ku papah kau
Ku gendong dirimu
Meski sabuk celanaku
Ku copot tuk mengikat punggungmu
Karena aku tak rela jika tubuhmu di sentuh orang lain

Semua gas telah ku tanjak
Namun lajunya tetap terasa pelan rasaku saat itu
Kau tetap kaku dalam kebisuanmu
Kau tak bisa
Hanya saja masihku rasakan degup jantungmu

Masih bersama tubuhmu yang pucat tak bertenaga, masih tak percaya kau sudah tak lagi bernyawa.
Secepat kilat ku tembus jarak batas kota menuju RSM Muhammadyah.

Aku merayu mu, mengajakmu untuk betbicara selaksa jiwa liarmu yang masih ku hidupkan
" sayang lihatlah awan-awan itu, seumpama melukis namamu di udara, gemulai sayu terpaan angin yang di hembuskan oleh kecepatan pesawat yang seakan berpadu dalam hingar bingar cahaya langit dan lentera bumi, dan kita berdua seakan berada di surga, dimana kita bisa melihat keindahan bintang-bintang seumpama firdaus sedang merindukan penghuninya."

Kau kekasihku
Satu-satunya cintaku
Kini tertidur di dalam ruanga ICU
Kau terlelap letih di pembaringan itu
Aku yang tengah was-was, sesekali memandang lewat kaca jendela.

Bersambung........

DEMOKRASI ADALAH DEMONSTRASI

Foto : ilustrasi puisi (kecintaan kepada indonesia)

Demokrasi adalah aksi
Demokrasi adalah orasi
Demokrasi adalah aspirasi
Demokrasi adalah demonstrasi
Demokrasi adalah konspirasi
Demokrasi adalah politisi

Demokrasi adalah dompetisasi
Demokrasi adalah kolusi
Demokrasi adalah korupsi
Demokrasi adalah manipulasi
Demokrasi adalah pencuri berdasi

Demokrasi adalah jeritan petani
Demokrasi adalah harga sembako menjulang tinggi
Demokrasi adalah pendidikan yang terdzolimi
Demokrasi adalah kesehatan yang punya kelas vip
Demokrasi adalah tahanan kpk yang bebas keluar negeri

Demokrasi adalah anti PKI
Demokrasi adalah anti HTI
Demokrasi adalah OPM yang berkeliaran di ujung timur Negeri
Demokrasi adalah nasi yang di kunyam lama hingga berubah menjadi tai kata seorang aktivis yang telah di bunuh dan kasus telah menjadi misteri
Demokrasi adalah luapan amarah para politisi yang di marginalkan oleh rezim otoriter pada saat kisah 19 mei

Demokrasi adalah kasih sayang para elit kepada negeri
Demokrasi adalah luka para nelayan dan petani
Demokrasi adalah luapan ambisi membangun negeri
Demokrasi adalah hak yang terjamah oleh penghuni birokrasi
Demokrasi adalah Demokratis partai

WAHAI LANGIT DAN BUMI

Foto : ilustrasi puisi

Indahnya malam ini
Terasa sejuk dan begitu damai
Meski jiwa selalu sepi dan sendiri
Namun hati ini begitu menikmati
Atas indahnya karya ilahi

Tuhan jangan kau hilangkan keindahan ini
Ijinkan dia untuk menikmati keindahan ini
Meski ia jauh disana
Biarkan ia merasakan yang sama
Hal serupa berupa tahta
Yang kau cipta untuk di puja

Wahai bumi yang rindu akan hujan langit sepi
Terima kasih telah kau sediakan punggung untuk berpijak
Dalam menggapai makna kalimat-kalimat Tuhan
Yang tertafsir di setiap wujud yang telah tertoreh
Di setiap wajah yang telah tercipta

Wahai langit yang meniduri bumi
Sungguh indah pancaran sinar matamu di tiap bintang
Hingga dunia malam yang begitu sunyi
Dapat tergilas oleh kekaguman hati pada indahmu

Wahai Tuhan
Terima kasih telah menciptakan langit dan bumi pun juga dia
Tolong berikan cahaya untuknya
Untuk dia yang lagi bersemayam di hati
Agar dia tau aku disini menaruh simpati
akan hadirnya yang begitu berarti
Akan hadir sosoknya sebagai pelidung rasa ini
Rasa yang berkonak ingin memiliki
Yang inginkan dia menjadi istri

BERSEMENDA

Foto : ilustrasi puisi (sumber : fatwa cincin)

Laku dalam tutur sudah tertata
Rajutan mimpi kini telah rampung
Membalut kasih dalam sebuah ikatan
Bersemenda menuju altar
Meraih restu akad sang wali
Ahh indahnya......

Selaksa surga tertumpu di ujung mata
Memanggil kasih berpadu sua
Di atas mimbar sang bulan madu
Menggapai indah di pelataran rembulan
Hingga terpuaskan hak untuk cintai dan memiliki

Ikatan cincin telah terlaksa
Janji suci telah terucap
Bahagia di rasa kini berpaut jua
Menjelma sukma dalam torehan kasih
Sebab memilikimu adalah doa yang tersemogakan

Bahagia rasanya
Membimbing bahtera rumah tangga yang indah
Bersemenda
Bersemai dalam ikatan asmara
Merajut asa dalam doa para undangan
Semoga sakinah mawadah warahman