LUKA ADALAH KATA YANG PALING SEMPURNA

Foto : ilustrasi puisi

Rindu adalah kata yang paling bijak
Yang di rangkai dari aksara-aksara sempurna
Hingga terpola sebuah kata istimewa
Yang mengaum bersama duka terpendam
Ia mampu menyihir segala sukma
Hingga terlaksa derai air mata di ujung senja
Menaungi lintah rindu yang siap menghisap sendu
Di ujung hati yang sempat di sayat luka

Luka adalah kata yang paling sempurna dari semua kata
Sebab darinya kita bisa belajar
Bahwa memiliki tak harus terluka
Bahwa merindui tak harus bersua
Bahwa kesakitan tak selalu nyawa terenggut
Bahwa mencintai tak harus memiliki

Mencinta adalah kata hati bagi para pendamba
Sedangkan memiliki adalah takdir dari tafsiran kalam yang menaungi segala alam
Tak ada hubungannya cinta dengan menikah atau memiliki sebab alasan mencintai tak harus memiliki dan berakhir di pelaminan

Sedangkan pelaminan adalah kata dan tempat yamg selalu di nanti oleh seorang wanita untuk di bawakan oleh lelaki setelah ikrar terucap di hadapan sang wali

KAU ADALAH SESAK YANG KU RINDUI

Foto : Penulis saat menikmati senja

Kau kemana hari ini?
Tak ada kabarmu kali ini
Kenapa kau penjarakan nurani
Setelah kau berucap jangan kau larang rindu ini

Kau kemana sore ini?
Bolehkah aku bersamamu menikmati senja?
Menikmati gelap yang perlahan mengutuk bumi
Yang memberi pekat tiap hati yang tengah gundah gulana di landa rindu

Kau kemana saat senja?
Harapku hanya hampa
Kau menghilang tanpa kabar
Meninggalkan luka tanpa ampun
Atas ucapmu yang kau tawarkan tentang rindu kala itu

Senjaku pun berlalu di telan malam melintang nelangsa
Sebab kau telah menaburkan candu racun dalam setiap ucapanmu yang tak dapat kau pertanggungjawabkan
Kau pembual yang ku kagumi
Kau pembohong yang ku sayangi
Kau adalah luka yang ku ingini
Kau adalah sakit yang ku cintai
Kau adalah sesak yang ku rindui

SEBUAH CACATAN UNTUK KAWAN-KAWANKU

Foto :  Ilustrasi puisi

Disuatu hari aku sedang membaca buku tentang cacatan  revolusi rakyat yang di tuliskan oleh che guevara.

Aku digerakan oleh batin dan kesadaran politik untuk melibatkan diri dalam perjuangan rakyat kulonprogo yang melawan, rakyat sukoharjo melawan racun PT. RUM, kawan-kawan aktivis yang dikriminalisasi, dan bangsa papua yang dibantai, dijajah oleh negara kolonial indonesia pada 1961 tanggal 19 desember.

Aku sanggat malu, sanggat malu melihat kawan-kawan mahasiswa yang hanya berbondong-bondong untuk melibatkan diri dalam kegiatan konser, kegiatan yang hanya melahirkan watak hedonisme kegiatan yang tidak mampu membakar semangat perjuangan rakyat melawan.

Kini aku sadar bahwa pendidikan tidak mampu menciptakan  kaum muda untuk terlibat dalam perjuangan rakyat, kini aku sadar bahwa pendidikan hanya dijadikan komersialisasi kepentingan modal.

Kaum muda harus sadar bahwa pendidikan bukanlah satu-satunya jalan untuk merubah nasib, kaum muda harus sadar bahwa melibatkan diri dalam ajang kampanye elit-elit politik busuk bukanlah jalan terakhir, kaum muda dan rakyat harus sadar bahwa menitipkan nasib pada elit politik borjuasi bukanlah jalan akhir.

Aku ingin mengajak kalian semuah belajar bersama, berjuang bersama dan mengorganisasikan seluruh rakyat-rakyat yang malawan hari ini untuk bisa mencapai apa yang diinginkan oleh petani, buruh, dan kaum miskin kota.

Aku ingin menyampaikan kepada seluruh kawan-kawan bahwa organisasi bukanlah alat untuk berkumpul seperti arisan, bukanlah alat untuk dijadikan tempat bergosip tentang kemiskinan dan ketidak adilan.

Kawan-kawanku tak usah lagi dicari penyebab kemiskinan tapi cari sistem yang mampu mempertangung jawabkan kemiskinan dan mampu mengatasinya, ajak pikiran kita dan baca kembali buku-buku yang dituliskan oleh kaum marxis-leninis dan apa yang sekarang perlu kita kerjakan dan gerakan sosial diberbagai belahan dunia, gabungkan diri kita semuah dalam gerakan rakyat, bukan gerakan LSM, tapi bersama rakyat miskin untuk membuat sistem produksi, tidak ada yang bermartabat dari seorang kaum muda, kecuali dua hal, bekerja untuk melawan penindasan dan melatih diri kita untuk selalu melawan kemapanan.

Aku ingin mengatakan kepada kalian bahwa organisasi adalah alat perjuangan, dan alat alternatif pendidikan agar kita tau realitas bahwa kapitalismelah yang memiskinkan rakyat, merampas tanah-tanah rakyat, dan melakukan PHK terhadap buruh.

Akun ingin mengatakan kepada kalian kawan-kawanku bahwa tulang punggung revolusi adalah buruh, karna suatu saat nanti kita akan menjadi burun, inggat kawan-kawan bahwa suatu saat nanti akan menjadi buruh, ingat, ingat.

Aku gusar memandang negeri, yang tidak lagi  punya ksatria yang mau hidup dalam kesunyian dan gagah meneriakkan perlawan, kita harus berani mempertahankan nyali untuk selalu bertanya pada kemapanan, kelaziman, dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh para penguasa.

Rasa nyaman yang kini kusaksikan disekeliling kawan-kawanku seperti racun yang membuat lumpuh sehingga tidak mampu bergerrak untuk mencapai perubahan revolusioner.

Ada elit politik busuk yang duduk diparlemen memintah tambahan gaji, sedangkan sebagian  kaum muda menyumbangkan tenaga  menjadi preman bagi penguasa bandit, bahkan pendididkan hukum mereka gunakan untuk membela kaum pengusaha ketimbang orang miskin.

Kaum muda yang banyak lagak ini memang tidak bisa dibinasakan, karena mereka hidup ada kemiskinan, keculasan kekuasaan, dan lindungan proyek lembaga donor, aku enggan untuk bersekutu dengan mereka yang hanya mengandalkan titel, keperkasaan, dan kelincahan berdebat untuk membohohi rakyat.

Kawan-kawanku kita berhadapan dengan dunia pendidikan yang menghasilkan ilmu tentang bagai mana menjadi budak kapitalisme yang baik, bergulat dengan kawan-kawan yang bosan hidup berjuang tampa uang, yang bebal dengan parlemen yang dulu ikut memilih, tapi kini tambah membuat kebijakan yang anti demokrasi, kini apakah kawan-kawan hanya mampu perlahan-lahan jadi orang hanya mampu melampiaskan kemarahan tampa mampu untuk merubah.

Kawan-kawan apakah kemudian percaya kalau pemecahannya adalah melalui mekanisme, partisipasi, dan membrikan dukungan logistik, yang mencukupi,kin kawan-kawan diam tak lagi percaya dengan revolusi, apakah kawan-kawan yakin bahwa melibatkan diri dalam partai elit politik busuk dan masuk dalam parlemen mampu membawa perubahan.

Tanggal,16-mei-2018
Penulis : MORGAN GUEVARA

KONSOLIDASI HARI TANI

Foto : ilustrasi puisi

Rapatkan barisan untuk konsolidasi
Membangun semangat dan jiwa kritis
Untuk mematenkan kembali ideologi mahasiswa
Ideologi yang tanpa penindasan, yang tanpa kebohongan dan ideologi bangsa yang gandrung akan keadilan

Managemen aksi siap di paparkan
Para orator siap di nisbatkan
Para kordinator lapangan siap di himpun
Masa aksi adalah mahasiswa indonesia

Kami siap melawan penindasan
Kami siap menumpas kedzoliman
Kami siap melawan persekusi
Karena kebebasan yang terpenjara adalah mati bagi kami

Hari tani adalah marhaenisme sejati
Dengarkan suara kami
Suara mahasiswa dari anak petani
Suara mahasiswa dari anak nelayan
Suara mahasiswa dari anak pedagang kaki lima
Yang kau marginalkan di tepi kuburan peradaban

Tanggal 24 september nanti
Suara kami akan di gaungkan
Dan jalanan adalah saksinya
Saksi bisu bahwa kalian tak mampu melakukan apa yang menjadi mandat konstitusi

TUHANNYA DEMOKRASI

Foto : ilustrasi puisi

Memecah keheningan ibu kota
Kali berkali kami turun berorasi
Hingga legam kulit di sengat terik matahari
Kami membawa aspirasi

Kau tau kami adalah rakyat jelata
Berbaris rapi lantang berteriak bersama para orator
Yang tanpa kuasa kami meminta dengan teriakan di jalanan
Menuntut harga dari upeti yang telah kami tabur di tiap sakumu

Masihkah kau tuli dengan jeritan hati kami?
Masihkah kau dengar sedu-sedan kami?
Masihkah kau bungkam di istana hasil keringat kami?
Masihkah kau diam setelah melihat aksi kami?

Apakah kau buta?
Apakah kau tuli?
Apakah kau pesek?
Sehingga tak mampu mencium bau keringat kami yang jatuh bercucuran demi merawat bawang kami?

Naikkan harga bawang
Turunkan harga insektisida
Naikkan harga cabe
Tolak impor beras
Turunkan kurs dolar
Sebelum kami menurunkanmu dan mencabut mandatmu sebagai babu

Jangan abaikan suara kami
Sebab kami bersama suara Tuhan
Tuhannya demokrasi
Rakyat
Foto : darah djuang rakdjat