TAK USAH BERHARAP PADA SUNYI

Foto : penulis

Entahlah
Aku tak lagi tau bagaiman caranya merangkai kata
Sebab imajiku terhalang cakra kehampaan di sudut kata-katamu

Aku bukanlah pemain cinta yang ulung
Aku juga bukan semua type yang di idamkan
Aku hanyalah penyair jalanan gila yang tak mesti harus di restui oleh cinta
Yang mempunyai hati yang telah di labuhkan dalam hati

Sempat terpikir ingin pergi
Namun jiwa terpanggil dan mendesak
Sebab cakra dari sesuatu yang tak pernah ku lihat adalah mimpi abadi bagiku

Aku bukanlah sesuatu yang kau maksudkan bukan?

Kita hanyalah taman indah
Tempat melepas penat di kala penat melanda
Lalu kita tuangkan syair-syair kita di atas sucinya kertas
Membubuhinya dengan kalimat cinta dan rindu

Itu hanya permainan bukan?
Sudahlah
Tak usah berharap pada sunyi
Kata-katanya tetap sama
Semua nya adalah kebencian yang pernah ku untai sejak lama
Sebab doamu adalah semua lelaki ialah sama

ASMARA DAN BELENGGU ORGANISASI

Foto : penukis

Bismilahirohmanirohim.
Bukan ku meninggalkanmu sebagai organisasi yang ku cintai.

Aku hanya takut melampaui batas.
Batas dari pengetahuanku yang minim.

Izinkan aku bersemayam bersamamu dalam setiaku yang diam.

Izinkan pula aku bersama dengan yang lain guna mengembangkanmu.

Sementara itu biarkan dirimu untuk yang lain dan aku masih tetap bersekutu denganmu.

Aku mencintaimu dan amat menjaga nama baikmu.

Maka tidak akan ku lampaui batas dari kekurangan ilmu pengetahuan ku untuk mengotori namamu.

Wahai,,,
HMI ku tidak akan ku sentuh konstitusi dan ajaranmu untuk membuat ku sekadar bangga diri.

Aku ingin lebih pada pengetahuan dimana aku dapat bersemayam bersama rindu rindu gelap malam dapat menjadi cerah karna islam dalam HMI mu.

Tolong.!!!
Tuhanku..
Berkati HMI ku walau tak ku jingkali hingga aku dapat lanjut di LKK,LK2, dan  LK3.
Maafkan pula aku karna hanya berpusar pusar di skala LK1.namun percayalah rintik rintik rindu pengetahuanku slalu ingin menjumpaimu.
HMI ku....

Penulis : karmila
(pemusnah generasi)

AKU ADALAH SAMPAH JALANAN

Foto : penulis

Aku tak memaksa sesuatu yang bukan hak ku
Aku adalah bagian dari sampah pengisi hari
Menjelajahi alam tanpa tanduk
Menyeruduk pun apalagi

Aku adalah sampah jalanan
Menekuk bahu di persimpangan waktu
Bermimpi pada sesuatu yang tak pernah ku lihat
Memantaunya pun enggan terbaca

Senyum?
Ah sudahlah
Jangan terlalu banyak berharap
Sebab hati saja itu sudah cukup
Jangan kau pinta yang bukan hak mu
Sebab luka siap di sayat jika kau berkehendak paksa

Aku?
Sesuatu yang tak pernah kau jaga
Kau bahkan tak pernah melihat dari jauhmu
Bahwa sesuatuku sangat bermakna jika kau cederai akidahmu
Tapi
Sudahlah

Kehampaan itu akan segera terwujud
Sebab cadarmu adalah penafsir kata tanpa suara
Yang kau selipkan di ujung pembicaraan
Bahwa kau akan meninggalkanku

JANGAN DULU TIDUR MALAM INI SAYANG

Foto : penulis
Malam adalah anak yang di lahirkan oleh siang
Yang menangis terisak di tengah pekat
Menjelma bunda menyusui sang bayi mungil
Hingga terpancar cahaya dari imut dan lucunya hari
Di saat ufuk membungkus jingga merah yang masih utuh
Menjumpai panas yang menghanguskan embun pagi yang membasahi hati para jiwa pecinta subuh

Putaran jarum mengikuti bundaran mimpi
Hingga bergejolak hati ingin menemui
Mengobati rasa dalam alam hasrat
Bersua denganmu adalah mimpi yang di semogakan

Kau kemana siang tadi
Seuntai kabar yang terharap tak pernah kunjung tiba
Sayang jangan biarkan rinduku di telan panasnya mentari yang tak kunjung mau bersahabat
Yang ku rayu agar mau menyejukkan hati
Karena rasa rindu kian memanaskan hasrat cintaku

Malam kembali hadir
Menjemput senja di pelataran mimpi
Membubuhi kertas dengan tinta nista
Sebab kesuciannya telah terenggut oleh imaji
Yang menginginkan kau tuk hadir di malam ini

Jangan dulu tidur sayang
Masih ada kata rindu yang harus kita urai malam ini
Aku ingin kau menemaniku menjelaskan semua urainnya sebab sakit adalah duka ketika rindu bercengkrama dengan sepi bersama pekat dan hitamnya lilin

Jangan dulu tidur malam ini sayang
Aku masih ingin bersandar di pangkuanmu
Bercerita tentang mimpi bersama saat kita di satukan oleh tangan Tuhan nantinya
Membelai mesra semua kalimat-kalimat teraksa
Hingga kita larut dalam sepinya malam yang di hiasi bintang gemintang

Jangan dulu tidur malam ini sayang
Aku masih ingin memandang dan melihat raut wajahmu
Biar terpuaskan hasratku untuk memujimu
Biar terobati hausku yang kerontang atas kasihmu
Jangan dulu tidur sayang
Pintaku

SURAT RINDU UNTUK AYAH

Foto : Ilustrasi puisi
Sumber foto : kompassiana

Ibu rangkain kalimatku adalah permintaan ku
Aku bermunajat dalam setiap doa diamku
Membubuhi kalimat indah untuk para penghuni langit
Serupa harap agar tercapai dari iming
Semoga di kau ikhlaskan anakmu untuk berkelana
Mencari jati diri yang tak pernah di ajarkan oleh sejarah
Sebab ayah adalah sejarah yang tak pernah ku tau
Cerita apa yang telah ayah rangkai saat ia memutuskan untuk pergi selamannya

Ayah Daeng atau Pua
Aku tak tau harus memanggilmu apa
Tapi yang ku dengar dari tetangga dan kakakku kalau kau sering di panggil pua

Seandainya ada rasa kasih sayang sebuah waktu
Menuntunmu sedikit lama dalam memapah sejarah hidupku
Agar aku tau bagaimana rasanya bercerita di bawah pohon rindang
Sambil menikmati kopi hitam buatan ibu
Dan kita bercerita tentang sebuah mimpi besar untuk nanti ku gapai

Ayah sebuah sketsa telah coba ku rangkai
Memaknai semua keriput dan lukamu sebelum beranjak
Menjemput malaikat mengikhlaskan ruh
Untuk di pintal bersama penghuni surga :

Ayah adalah jalan
Tumpuan kaki untuk tetap kokoh
Ia adalah tiang bagi berdiri kaki
Untuk kekokohan jiwa bagi setiap anak

Ayah adalah punggung dunia
Di dalam jiwanya adalah tanggung jawab
Tiap bapak yang pernah menjalani belia
Selalu tersimpan naluri anak pada seoarang ayah
Kekokohan jiwa seorang anak ialah bagaimana kasih sayang seorang ayah

Namun itu hanya anggapku dalam mengartikan bahasa tubuh teman-teman sebaya ku
Ketika mereka bercanda ria dengan sosok seorang yang mereka panggil ayah
Yang tak pernah ku panggil selama hampir dua puluh tahun
Sebab waktu tak mau bergeming dari pendiriannya
Merenggutmu tanpa peduli dengan tangisku
Yang menikmati dunia dengan kepahitan yang menganga tanpanya