MESIU CINTAMU

Potongan puisi
Beri aku kata rindumu
Sebab kau harus mempertanggungjawabkan ini
Sebuah rasa yang telah kau pupuk bersama syairmu

Kau harus menjadi laskar dalam geriliamu
Kau mengajakku perang tanpa koloni
Di saat peperangan tanpa kolonial yang menjajah
Namun kau datang menawarkanku perang ketiga
Melawan segala penjajahan hati yang oleh aksara-aksara saktimu

Karena rindu ini ialah seumpama gas fasfor israel
Meracuni setiap yang menghirup racunnya
Membawanya kepada kedamaian abadi
Di dalam alam mati sepi tanpa pelita
Selaksa kubur terkubur dalam kuburan

Datanglah sayang
Sebagai pahlawan meskipun siang
Sebab pertahananku semakin lemah dalam melawan mesiu cintamu
Yang menghacurkan semesta berpikirku

Aku tak lagi mengerti taktik apalagi strategis
Sebab semua blokade yang ku kuasai
Telah kau hancurkan bersama lemparan torpedo rindumu

Aku hancur
Berkeping-keping dalam menjamu peperangan ini
Kau menang
Tapi bantu juga aku memapah kawan-kawan aksaku
Agar aku mampu mempertahankan sebagian dari warasku
Yang hendak pergi dari akal jernihku

Tolonglah
Aku di kuasai oleh jajahanmu
Pertahananku telah hancur
Kau yang melakukannya
Kau harus bantu memapahku
Melewati ini demi sebuah cita-cita kemerdekaan cintaku
Sekali lagi tolonglah

LDR "Kekasih Dalam Puisi"

Foto : ilustrasi puisi
Sumber gambar : comece

Kekasih dalam puisi yang memenjarakan
Pembual tanpa raut
Menghisap darah dalam kenangang
Hingga laut tanpa pantai kembali menjajah

Ia kembali merajuk
Merajutpun enggan
Kau kekasihku
Kekasih hayal dalam bait-bait akasara
Yang tertuang melalui imajinasi
Hingga keberadaannya tergambar hanya lewat ilusi

Kau hantu?
Bukan...!!!
Kau hanya tak pernah kulihat dalam nyata
Sebab kehadiranmu adalah mimpi dalam sadar

LDR?
Lalui duka romansa
Menggapai cinta dalam alam yang tak pernah di lihat
Menyambut cinta dalam maya khayal yang hitam
Menyambutnya indah
Namun cinta yang semu siap memenjara
Karena jarak waktu adalah ujian dalam harapan
Sebab cintaimu adalah benar
Namun kau tak pernah bersua dengan ku dalam nyata

Kau lukaku
Sebab sesuntuk malam tanpa hingar bingar
Begitulah rasaku padamu
Kau memenjaraku tanpa rautmu yang bisa ku jumpai
Dalam hayal
Dalam nyata
Kau tak bergeming dari cadar pembungkusmu
Hingga diriku lelah dalam memujamu
Tanpa raut
Tanpa senyum
Aku mengagumi hanya lewat aksara yang kau tuangkan
Di bait puisimu
Kau kekasih puisiku

BIARKAN SAJA


Foto : ilustrasi puisi
Baiklah akan kurangkaikan kata pembalasan untuk mu
Untuk hari-hariku yang telah kau renggut
Demi mencapai kepuasanmu dalam menindasku
Biarkan saja

Aku bukanlah sesuatu yang bisa kau penjarakan
Aku adalah liar yang tak pernah terjamah
Aku adalah luka yang tak pernah sakit
Sebab hatiku adalah batu legam dari hajar bumi
Lepaskan saja

Kau tau sekarang
Aku adalah pecundang dari kelas seni
Meluapkan sakit pada sebait kata puitis
Hingga sakit tak lagi menjerit
Bersama tertuang di lautan kertas suci
Dengarkan saja

Biarkan
Jangan melarang
Biarkan aku meluapkan semua ini
Sebab terlalu sakti kau memainkan ajian ini
Hingga menepispun enggan ku bisa dari pengaruhnya

Biarkan saja aku mati di syair-syairku
Anggap saja ini adalah kata mayat dari mumi laut merah
Yang menuntaskan dendam
Pada wakil pembawa kasih
Agar kau tau aku adalag bualan tanpa rasa

Biarkan lepas dengar
Semoga kau tuli dalam semua hal
Agar kau tak lagi mendengar rayuanku
Sebab aku selalu tak bisa mengendalikan diriku
Jika berhadapan dengan dirimu

TANPA CINTA

Foto : ilustrasi puisi
Sumber foto : fb #musafir kelana

Hancur terlindes oleh luka masa lalu
Hingga capain angan sang penyair tersobek di pelataran hati

Sempat tergores dalam naungan amor
Hingga penyangga yang datang di hapus karena luka lama

Liar sekali tafsiranmu
Hingga aku kau dia mereka adalah sama
Menjadi satu dalam diri
Hingga aku adalah diriku
Telah kau lenyakan semboyanku
Mewakili semua seluk beluk ucapanku
Dalam setiap bait yang terlaksa dalam baris paragraf-paragraf hampa

Aku pernah bercerita bukan?
Di sudut malam aku begumam dalam satu nama
Hingga pagi jua pun kau bersuara
Bahwa malammu telah kau habiskan untuk melihat ceritaku di atas altar bersama dia siapa aku tak tau

Lalu dengan selembar kata dalam sobekan kertas
Kau menitip lewat angin malam
Bahwa rindumu telah terguncang bersama vulkanik semesta di pulau seberang

Hingga kau putuskan
Aku telah kalah dalam dramamu
Sekarang kau pulanglah bersama malam
Menyambut pagi nan indah di esok hari
Tanpa ku
Tanpa mu
Tanpa cinta

SEMUA SAMA DIMATA HATI

Foto : ilustrasi puisi
Sumbet foto : tikel line

Baiklah aku tak akan memaksa
Mari kita sama-sama lanjutkan permainan ini
Atau kita akhiri saja permainan ini
Sebab lukanya akan sangat menyayat jika rindu selalu di bubuhi setiap saat

Aku tak memaksa setiap kehendak
Sebab aku percaya akan takdir
Untuk apa aku bercerita tentang rasa
Jika karma adalah kata terakhir yang harus mengirimkan luka?

Lengkapi saja lukanya
Lengkapi saja dukanya
Karena tak ada sakit yang tak berdarah
Tak ada suci yang tak ternoda

Akhiri saja
Kata tetangga saja adalah Tuhan bagi puan
Kenapa tak lenyap saja?

Aku hanya pelahir kata-kata sakti buatmu bukan?

Sudahlah akhiri saja
Jangan terlalu melemahkan pikiranmu melawan kesakitan
Sebab luka dari sayatan lama masih membekas

Lalu?
Mengapa berucap pada waktu
Dia naungan masa bukan?
Dengan hari ini ia memberikan rasa ketidakpercayaan pada semesta
Bahwa cinta dan lelaki adalah buta
Semua sama dimata hati