LAPINAKU WANITA REMBULAN

Foto : ilustrasi puisi
Rembulan sekarang aku percaya bahwa indahmu adalah semu
Aku percaya dengan kalimat yang tak pernah kau ucap
Bahwa kau tidaklah indah bagi pemujamu
Karena kau hanyalah olesan dari lipstik matahari
Yang meminjamkan cahaya saat kau butuh pemuja dari jiwa pedamba

Rembulan sekarang aku tau
Kau adalah pembohong bagi para jiwa
Yang memuja keindahanmu
Kau bahkan tak lebih dari seonggok daging yang telah busuk
Yang di tuang dengan anggur keindahan
Hingga semua mata mabuk dalam kesemuan keindahanmu

Rembulan kau adalah wanita terbusuk
Kau lukai lukaku
Kau sayat lagi luka lama yang telah terkoyak cabik
Hinngga sesak melanda detak nadi
Bernapaspun tak menentu dalam memaknai skenariomu

Rembulan kau wanitaku
Wanita lapinaku
Yang menghibur di kala butuh
Butuh terpenuhi lalu menghilang
Menghilang di balik awan hitam
Hitam jemariku legam
Legam hati yang dendam
Dendam pada rindumu yang semu
Semumu wahai lapinaku
Lapinaku wanita rembulan

Rembulan tanpa rasa tanpa kasih
Menghilang di ujung harap pekat malam
Tanpa gemintang sang bintang
Kejora pun hilang
Di telan jingga yang terbungkus rapi di ufuk timur

Pagi ku datang
Rembulan hilang
Namun sayatan malam sang rembulan masih membekas
Membawaku pada kematian rasa
Aku lelah

KAU INTAN DARI KERAK BUMI

Foto : sang penginspirasi puisi
Aroma aksara dari bau tubuhmu semakin bisa ku baca
Menidurimu dalam kasih huruf buta
Lalu kau membuat puing dari kiasan masa lalu
Entah seperti apa aku akan menjamu mu

Ratapanmu tentang rindu selalu kau bisiki tiap waktu ku
Hingga aku percaya kau hanyalah pecandu dari aksaraku
Hingga tak lagi aku hiraukan kalimatku
Ternyata kau adalah penulis sunyi di balik sepi
Yang menertawakan kalimat-kalimat hampaku

Amboyyy
Kau intan dari kerak bumi
Yang telah terasah dari zam-zam vulkanik
Melapas busur tikam pitaku
Hingga bisu semua kalimatku

Aku gagap dalam fasihmu
Aku tuli dalam suaramu
Aku tanpa kata tanpamu pun darimu


KETIKA SEPOTONG CHAT TAK LAGI BERMAKNA



Foto : potongan chatingan


Kemarin kita sibuk berbicara tentang rindu
Mengabarkan bahkan hal sekelumit pun
Bercerita tentang mimpi-mimpi surga
Yang akan kita raih di kala hati berpaut dalam satu ikatan
Potongan chat

Sekarang kita sibuk mencari cara untuk saling melupakan
Seakan akan ada piala dari kejuaraan perlombaan ini
Berlomba-lomba menghapus semua kenangan
Yang kita urai di tiap lembaran chatingan pendek
Potongan chat

Haha
Aku memang bodoh
Sampai sekarang potongan sms mu pun masih saja ku lihat
Bahkan tawa wkwkwkwkwk mu begitu nikmat ku baca
Setelahmu hilang dari kabarmu
Kabarku apa lagi
Potongan chat

ketika sepotong chat tak lagi bermakna
Dalam mencari kabar pun jua rautmu
Yang kau selipkan di galeri hidupku
Bersama pagi kau kirim kopi dari cintamu
Hingga ampasnya pun aku teguk
Potongan chat

Sekarang
Kau sibuk bukan?
Sibuk yang entah apa kau sibuki
Melupakanku yang entahlah
Aku muak
Potongan chat

KAU JAHAT MALAM INI

Foto : ilustrasi puisi

Harapanku telah hambar
Saat suara mu mulai parau
Saat kau mengucap tidak untuk malam ini
Untuk sebuah cumbuan puing kata dari dasar hatimu
Yang tak jua kau mau berbunyi
Atas desakan dari rohku yang rindu rentetan baitnya

Kau jahat malam ini sayang
Kau tak lagi mendengar ucapku
Apalagi harapku
Kau bungkam dari kata-katamu
Kau racuni jiwaku yang gundul dalam tafsiran
Kau hiasi semua dengan kesemuan
Sedang kau adalah pendesain huruf

Apakah kau sudah lelah dalam merangkai kata untukku?
Hingga kau selipkan sebuah kata tak mampu
Untukku
Untuk permintaanku
Satu bait kata rindu di ujung puisi
Untukmu
Untukku
Untuk kita
Yang sedang di landa rindu oleh kata-kata hampa di ujung malam

ELEGI KIDUNG PERINDU

Foto : ilustrasi puisi
Sumber gambar : kompasiana
Rindu menghadirkan elegi
Bersiul bernyanyi bahkan dalam kamar mandi
Meratapi juga bukan
Karena imbas rindu adalah senandung tanpa paksa

Saat senja pulang pun ia berhasrat
Merajut menyatu bagai kain sutera
Membungkus sepi kemudian pulang
Membawa kembali pada sang raja yang kerontang

Masih pada senja
Mata enggan terpejam memukau menanti hitam
Sebelum jingga benar hilang dari pelataran
Memetik senar dari dawai yang kini telah berkarat

Bernyanyi
Mengalunkan lagi lagu kenangan
Tepi pantai perjanjian tuk pulang
Merekatkan kembali syair-syair yang berserakan

Lagu rindu untuk kidung perindu
Yang terucap saat layar hadirkan kata
Bersama mikrofon pun jua speacker
Bersama kita alunkan lagu sendu
Karenamu akan pulang
Karenamu akan kembali
Karenamu akan hilang
Pergi keseberang pulau tempat menjajal ilmu

Di tepi pantai aku menunggumu
Bersama toga engkau kembali
Menemuiku
Menemui walimu
Ikrarku akan terucap
Pasti