HIKAYAT SUARA ALAM

Foto : penulis
Dengan sejuta diam yang kau tawar
Sekulum senyum yang terpendam
Seribu harap tak sampai
Sekian duri tertanam
Serangkai bait tersirat
Semua kamu ku rangkai
Seraut wajah bertabir
Kepalsuan datang menimpali
Merasuk bak kesurupan di dalam surau
Terpental terdengar suara adzan
Jiwa pitam naik murka
Di rukiah oleh ayat suci
Menerima balasan setimpal kesakitan
Ia terbuai dalam alunan magadhir
Cinta sempoyongan pada insan
Berlaku jua tawaran si dukun tua
Jampe-jampe dari sari manusia mati
Meramu ghoib dalam darah yang mengalir
Menjumpai suara hikayat alam
Bahwa langkah kaki adalah tumpuan pijakan
Hilir berganti papas memapas
Lari meninggi di tangga tanpa anak
Entah napas kemana jua ku tak tau
Nadi berdenyut selaksa sonar terpancar
Dalam konduktor ada muatan positif
Hilang negatif aliran listrik mengalir di keduanya
Lalu hadir api dalam gesekan kedua
Ia menjadi sesuatu yang ganas
Terenggut pula sampah terbakar
Lalu tumbuh kembang bunga trotoar
Hadir di tangan seorang gadis belia
Bahwa mimpi akan terbeli jika kehormatan di jual
Ia bermimpi di sudut sepertiga
Datang perjaka ulung melantunkan syair merdu
Dalam dunia tak perlu merasa besar
Sebab hikayat tanah tetap tempat tertumpu semua
Adab alam akan mengikuti tafsiran ayat
Taubat nasuha adalah ujung tombak dari kehitaman
Maka lantanglah seru perlawanan
Menuju mimbar keEsaan sang ilahi
Kita mencuci suci yang ternodai
Hingga lebur hitam hilang tanpa tumbuh
Suci itu ialah bayi yang baru terbuang
Dari rahim jadah yang tak dapat pengakuan
Kemudian tercermin dunia telah tua
Hingga bencana datang tanpa syarat
Aku harus pulang kepangkuan
Menuju kebenaran hakiki
Menuju kepada sang pencipta
Di dunia dan di akhirat

KU PINJAM KATA-KATAMU UNTUK PUISIKU

Foto : penulis puisi
Gienan
Berapa kadar heroin yang kau jejal di Hatiku malam ini.?
Rasanya aku ingin mati
Mati karena sakau dalam merindu

Gienan
Aku harap polisi segera menangkapmu!
Lalu memberimu pelajaran atas kejahatanmu yg telah melibatkan rinduku
Rindu yang selalu kau pupuk dengan heroin aksaramu
Dan aku akan membesukmu dalam penjara atas nama rindu
Ucapmu kala itu
Aku masih mengingatnya dengan sangat pasti

Kata-kata terakhirmu
Akan selalu ku kenang
Dan ku pinjam kata-katamu
Sebagai pelengkap puisiku
Sebagai kenangan dan penyejuk luka
Yang terbakar saat rindu melanda

Puisi malam itu kini hanya menjadi kenangan
Akan ku simpan dalam peti hati
Bahwa kau pernah menjadi yang terindah
Dalam hidupku dan juga cintaku
Aku masih selalu mengharapkan mu
Wahai mantan terindahku

PALU BERDUKA

Foto : korban bencana Tsunami donggala dan palu
Di tengah meriahnya isu politik yang marak di perbincangkan di setiap media
Di timur indonesia ratapan duka melanda
Membubuhi mata dengan genangan air mata pun air laut yang ganas0

Tsunami melanda negeriku

Air bah limpah ruah
Menyapu sampah seluruh lautan
Membersihkan puing-puing bangunan
Meninggal mayat-mayat berserakan
Lukaaaaaaa

Semua luka adalah kita
Lombokku terendam dalam reruntuhan bangunan
Paluku terendam oleh air limpah ruah
Menghadirkan bahasa kasih di seluruh ujung negeri

Air mata
Air laut
Air dan tanah melebur dalam pemberian duka
Duka untuk kita
Kita indonesia
Indonesia timurku

Menangisku pun tak akan menghapus air matamu
Air mata duka Paluku

WANITA AKSIONERKU LEMAH DALAM ASMARA

Foto : Wanita aksioner yang lemah dalam asmara

Dalam urain dan guratan di wajahmu terlihat begitu tangguh semua mu
Semua terpapar kau begitu ganas dalam ucapmu
Kua wanita tanpa taring yang ku kagumi
Kau wanita pergerakan yang ku geluti semua aksimu

Namun di balik semua jiwa aksionermu
Terselip sebutir embun di sudut pipimu
Yang tertuang ketika luka lama asmaramu
Datang membabibu mengorek kembali bekas luka sayatan yang tengah kau sembuhkan dalam pengobatan kesendirianmu

Terselip dalam sunggikanmu
Sebuah kebencian yang amat dalam yang tengah kau tawarkan
Bukan untukku
Bukan untukmu
Tapi untuknya yang sedang membubuhi lukamu dengan racun kegilaan

Kau lemah sayang
Kau wanita asmaraku yang lemah pada asmara
Kata yang paling ku benci dalam hidupku
Ternyata pernah jua mendapatimu di masa yang telah silam

Wanita aksionerku yang tengah lunglai
Bangkitlah dalam keterpurukan
Kau harus kuat dalam segala menghadapi segala persoalan
Sebab kau harus tetap hidup
Untuk membela hak-hak mereka yang tengah di marginalkan oleh penguasa
Kau harus bangkit sayang
Percayalah dunia asmara yang tengah melandamu adalah racun yang tengah ingin membunuh semangatmu

Bangkitlah
Aku mengagumimu
Aku mengagumi semua pergerakanmu
Bangkitlah sayang
Jangan kau menjadi pecundang lantaran asmaramu pernah merasuki relung jiwamu

Bangkitt
Bangkit
Bangkit
Jangan biarkan dia mengungkit
Sebab hidup bukan tentang soal sakit
Tapi bagaimana kita menghadapi saat tersulit
Dengan cara menghasut jiwa agar tak lagi sulit
Memahami hidup untuk tetap bangkit

JALANG KU

Foto : ilustrasi puisi

Jalangku
Apa kabar hari ini
Masihkah kau dalam diammu dalam minyakapi rasaku?
Aku harap kau bersuara

Lonteku
Harus kau tau
Aku tengah berandai disini
Bersama mimpi semu yang kau toreh di sudut malam
Yang bergema ingin menjadi
Namun semuanya telah menjadi asa yang kau jual sebagai penghibur sepi
Di kala rindu meniduri pikiran picikmu

jalangku
kau baik-baikkah hari ini?
Apakah masih ada secercah luka yang masih kau rawat?
Ataukah bekas sayatan yang membuatmu membalaskan kepada semua pemilik cinta lawan jenismu?

Jalangku
Kau begitu naif sayang
Kau membalaskan sakitmu dengan cara menyakiti hati lain
Kau penjahat lebih dari pembunuh berdarah dingin
Kau pembunuh tanpa senjata tajam
Kau pembunuh tanpa bubuhan sianida di dalam cangkir kopi
Kau pembunuh rasa rasa indah dalam hidupku
Jalangku

Lonteku
Aku masih berharap sampai kini
Menunggu disini dengan kepastian hati
Bersama luka yang menganga
Menyambut hari dengan sejuta kesakitan kesaktianmu
Yang kau rajut bersama ajian pembasuh peluh saat penatku saat ku berkata doanya adalah kebencianku

Jalangku
Aku menunggu mu di tepi malam bersama mimpi
Tanpa ragu akan harapan
Sebab aku percaya pada seorang sufi yang berkata : tangan yang satu tak akan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.