AKU MENJADI PELACUR DI MEJA YUDISIUM

Foto : ilustrasi puisi
Selamat pagi jiwa yang telah puas rebah
Selamat menemui senyuman indah guru PPL yang sedang menanti dengan sabar
Sebab guru pamong lagi sakit gigi
Entahlah
Hanya anggapku
Karena kemarin aku melihat
Seorang PNS meniduri istri orang di sebuah hotel

Selamat pagi bagi para generasi yang di khianati negara
Kalian adalah jalannya bangsa tanpa punah
Menyemai waktu agar tetap pada satu laju
Dimana keadilan sosial dan kemerdekan bagi jiwa adalah satu bergejolak dalam nadi kita

Selamat pagi merauke
Selamat pagi sabang pun subang
Kita adalah ras yang beda yang terlahir dalam rahim yang sama
Ibu pertiwi adalah ibu kita

Mari bangun pagi generasiku
Lihat mereka yang di bunuh oleh pemerintah dengan dalih full day in school
Lihat mereka di bunuh oleh rektor dengan aturan SPP yang tak terjangkau
Lihat mereka yang di perkosa oleh dosen disaat mereka mengangkang di meja yudisium
Lihat mereka di bahu kiri jalan, yang tengah duduk memeluk dirinya sendiri di atas trotoar
Nasibnya telah lama di injak oleh kapitalisme
Dia adalah orang kaya kemarin
Disaat rezim otoriter berkuasa
Semua pangan begitu murah meriah Pun nyawa begitu murah
Hingga tiap hari selalu ada nyawa yang hilang jika ia berjiwa kritis

Selamat pagi generasiku
Selamat pagi merauke
Selamat pagi sabang
Selamat pagi ibu pertiwiku
Selamat pagi pelacurku
Aku tengah ingin bercerita pagi ini
Aku di perkosa di meja yudisium
Oleh mereka yang katanya pendidik tapi sekarang sukanya menindih

Disaat aku ingin meraih sukses dengan satu kertas yang melegalkan hifupku di birokrasi nantinya
Setidaknya itu mimpiku

Namun kebengisan dan ketamakan hasrat nafsu
Memaksaku untuk turut dalam ajakannya
Sebab tuntutan orang tua aku harus pulang
Aku harus bangga dengan memakai toga
Untuk semua demi kebahagian semuanya


#seorang teman mencerirakan bagaimana seorang disen pembibing di salah satu universitas mengajaknya untuk selalu konsultasi di rumahnya.
Hingga ia di ajak untuk menikmati malam tanpa cahaya di balik buasnya nafsu sang dosen.

Aku menulis mewakili isi hatinya
Jangan tanya dia siapa, sebab aku bida membunuhmu.😒πŸ˜₯😿😫😭

AKU LINTINGANKU DAN KAMU (II)

Foto : penulis : ilustrasi
Masih dengan kisah yang sama
Aku masih disini
Menemuimu di pembaringan abadi
Di atas hamparan tanah merah bekas orang ramai mengantamu kemarin

Aku masih menunggu mu di sini sayang
Bersama lintinganku menuai segala peristiwa dan kenangan bersamamu
Disini di atas pembaringan abadimu
Aku bersama air mataku tersedu sedan meratapi jiwa liarmu yang masih hidup
Yang akan terus aku hidupkan sampai kau aku menyatu dalam kanvas surga bersama kenangan dan seutas kertas lintinganku

Aku mengantuk
Langit datang menghambakan diri
Bumi tak lagi ku pijaki
Semua suara tak ada lagi
Aku hilang di antara bintang-bintang yang indah
Bersama mu pun lintinganku aku mencari keberadaanmu di balik semak pandangan imajinasiku

Kamu di mana sayang
Matahari tak lagi kulihat
Bulan apalagi
Gelap jawaban yang ku dapat
Bisu dari segala suara
Kau kemana sayang
Jangan kau matikan lintinganku
Aku masih ingin membelai wajahmu di atas ini
Bersama cakrawala yang sedang ku nikmati
Aku rindu sayang
Peluklah aku

Seekor burung gagak hinggap di atas nisan
Bersorak teriak bingarkan telinga
Hingga ku tersadar dari lamunan
Adzan subuh kini mulai sayu terdengar
Aku pulang bersema lintinganku
Memberikan bekas kaki di atas tanah merahmu

Bangsat...!!!!!

Foto : ilustrasi puisi
(sumber : megatron)
Aku bahagia hari ini
Aku di ajarkan menjadi seorang yang bangsat
Aku di ajak berdansa dalam sebuah bualan keputusan sepihak
Aku di tuduh meniduri sebuah untain bermakna dalam sebuah komunitas
Yang bahkan aku tak mengerti tentang bagaimana sakralnya kata tersebut

Aku coba menerka makna yang tersampai
Dengan uraian kata-kata tanpa makna yang ku ucap
Namun kata tersebut adalah cambuk bagi lidah dan hidupku
Karena tanpa tau makna aku mengucap tanpa izin

Bangsat...!!!
Bangsat...!!!
Bangsat adalah kata yang sangat indah untuk di sandang saat ini
Saat memaknai bahasa indah yang kau maknai
Tanpa etika kau tuangkan rangkaian kata penusuk sukma
Yang membuat mata hati kini makin buram

Aku tak butuh kumpulan setan
Aku tak butuh kumpulan anjing
Aku tak butuh kumpulan orang-orang tak beretika
Aku tak butuh ikatan tanpa kemerdekaan berpikir dan berekspresi

Jika kau tak suka ucapkan dengan indah di telingaku
Jika kau muak sampaikan lewat suara amukanmu
Bukan adab tanpa etik yang kau coret lewat sebuah pesan singkat
Ahhh.... Aku lupa
Kau tidak pernah di ajarkan etika oleh bapak dan ibumu

AYATKU AYAL DALAM RONAMU

Foto : ilustrasi puisi
Semoga mimpi ini jauh dari kata tumbuh untuk sebuah asa yang hambar
Karena bermimpi tentang sosokmu adalah hambar adanya
Jangankan dalam nyata
Dalam hayalpun kau enggan mengunjungi dunia liar imajiku

Ayatku ayal dalam ronamu
Menumbuhkan resah di ujung pekat sang lilin
Menjumpai hitam tanpa cahaya
Di balik sunggikmu tersimpan makna yang tak dapat ku cerna
Hingga pagi datang
Membisikkan pada tiap embun dengan kata lembut
Agar menghilang tanpa paksa
Sebelum panasnya menyakiti setiap jiwa

Aku memilih menghilang
Sebab auman mu begitu ganas memanggil sukma liarku
Hingga aku takut dalam memaknaimu adalah murka ku yang tumbuh
Aku lebih memilih pergi sebelum kewarasan ku hilang

KAU MERAWAT LUKA KU DENGAN INDAH

Foto : ilustrasi puisi
(sumber : @sepatah rindu)
Aku tak pernah bisa menerimanya
Yakinlah aku akan mengingatnya
Aku akan menulis setiap kata-kata itu dengan kataku
Yakinlah sobat

Lingkaran kemarin subuh adalah pertanda bahwa kita satu
Tapi kau merawat luka ku dengan indah
Hingga sukma tertusuk pilu yang menyayat
Membawa ku pada kata yang di sayangi setan

Dendam........
Ya itu
Itulah
Itu saja
Itu yang ada dalam pikiranku
Kau harus paham sobat
Aku akan menuangkannya
Aku akan merawat bahasa indahmu dalam pikiranku
Hingga lupa bisa ku tepis di tiap lingkaran waktu yang ku lalui
Ini janjiku
Aku akan ada di puncak dimana aku kembali membutuhkanmu
Untuk menjadi penonton dari sekian list catatan hitamku