SUMPAH KEABADIAN

Ilustrasi puisi
Seuntai kata dalam bingkai kenangan
Untuk merajut sebuah dilema yang sudah lama bergejolak
Menjumpai mimpi dalam sebuah cita-cita suci
Menuju altar dengan rajutan kasih
Atas restu ikrar wali

Haru kasih Tuhan akan terlaksa dalam ucapan akhir
Menjumpai rasa sakral dalam menggapai sumpah keabadian
Tertuju jua serangkai resesi resepsi
Tertuju ribuan mata untuk saksi
Seleksi alam untuk sebuah pilihan kini telah berakhir
Merestui semua mimpi bagi dua hati yang telah lama merajut asmara
Resepsi

MAWAT TERHALANG SEMAK

Foto : penulis
Samudra berbinar-binar pelangi
Mawar kumbang menakjubkan menjajal mata
Tapi laut begitu sunyi akan melati
Keindahan tertimbun di dasar karang

Jauh disana ku pandang ilalang
Bunga mawar jelita jadi tontonan ilalang
Mawar kumbang ku genggam
Duri semak meranjau di ulu hati

Sejak aku bermimpi disuatu waktu
Tak akan pernah hati tersentuh tirani
Namun jauh sebelum bermimpi
Dinding besar telah berdiri

Kini, menengok pun telah terhalang
Apa lagi menggapainya
Bunga mawarku dalam mimpi
Kenyataan terhalang ilalang

Samudra ku arungi
Tetap saja mawar kuimpikan
Dia tumbuh dalam mimpi
Namun menjelma tirani dalam nyata
Hingga nelangsa hati dalam perbudakan majazi


#PuisiRakyat
Penulis : sofyan

KEMANA AKU PULANG?

Ilustrasi puisi
Aku tersesat di dalam waktu yang sangat panjang
Himpit terapit oleh polemik kehidupan
Hingga kata pulang terasa malu tuk terucap
Kata pulang terasa hina tuk di dengar

Tak tau jalan dan tujuan untuk pulang
Aku berdiri di persimpangan jalan
Mendongak langit saat rintik hujan perlahan satu persatu menyetubuhi tubuh
Dengan kerinduannya kepada bumi membuat aku terasa menggigil

Pulanglah nak
Kata bunda di seberang telinga pulau
Sayup-sayup terdengar dalam bunyi adzan
Perlahan air mata meniti bersama hujan yang tak jua reda

Termenung antara sunah dan wajib
Hamparan sajadah saksi kegundahan hati
Pertanyaan bertubi datang menimpali pikiran
Hingga khusuk jauh dari kata harap

Kemana aku pulang?
Aku bukan lagi bagian dari bagian
Aku bukan satu dari kesatuan
Hanya saja bunda yang masih berharap

Kemana aku melangkah
Harap doa bunda datang memberi cahaya
Sebab kata pulang adalah sumpah serapah
Jika tak ada sukses bersama jiwa juga hidup

Gie

ALAM PRIMORDIAL

Ilustrasi puisi
(sumber id.meowshareid.com)
Selasih sukma terketuk dalam adab peradaban
Terkuak janin tertiup ruh
Terbungkus daging dalam belulang
Sum-sum terbentuk dari kematian plasma

Ruh tertanam dalam ragam adam
Selaksa doa mengikat pada bibir para sufismen
Menghadirkan malaikat tuk berucap Aamiin
Atas kehadiran jabang dalam rahim

Kebahagian tertumpu dalam asa sang ayah
Bunda berkabung dalam tiga bulan kepahitan
Merawat laku agar sang buah cinta hadir menjamu suka cita

Bahagia
Bahkan dalam alam primordial membawa berkah
Haru kasih Tuhan menjelma dalam doa kesyukuran
Atas limpahan generasi tanpa kepunahan

Bayi mungil
Hasil cinta dalam cita
Semoga terwujud untuk jiwa pendamba
Yang berharap keturunan untuk keabadian nama
Semoga
Aamiin

AKSA AKSARAKU HILANG

Penulis
Letih meramu aksara
Cakra bait-bait kini hilang dalam lelah yang pekat
Lilin yang semakin larut kini makin memenjara jiwa dalam laut kesepian

Entah apa yang ku urai dalam syair-syairku
Sebab terbuka mata sangat jauh dari kata ingin
Namun hampalah jawabanya

Aksa aksaraku hilang
Namun imaji masih di atas arasy
Ingin membubuhi dengan kiasan langit
Namun tirai terhalang penat yang menjadi

Hausssss akan luapan aksara
Namun
Hampa tersendak
Aku pengagum kata-kata
Aku hanyalah pexandu dari goresan tintamu

Aku lelah
Aku letih
Aku lunglai
Aku tanpa kekuatan juga pikiran