HIKAYAT PENYAIR ADALAH POLITEA

Penulis puisi
Terlalu puitis jika hanya mengandalkan bahasa tanpa kata
Sebab jabatan tertinggi sebuah bangsa bukan soal tentang sastra
Semua ada seni dalam segala panggung yang di peran
Kau tak mampu melihat dari setiap aksara yang tercetus di setiap media
Sebab ia hanya mampu di baca dan tertafsir oleh si pembaca tanpa kata tanpa aksara

Kau berkata sang penyair dan sastrawan adalah jauh dari kata politik?

Baiklah cinta
Kau membangunkan jiwaku yang kemarin waktu spat mati suri dalam imaji
Kau memanggil kembali jiwa kritis dalam sastra intuisi puisi
Kau menghasut aksara mati yang siap menerjang jiwa para penghuni birokrasi
Kau memanggilku kembali naik di atas panggung literasi

Tak perlu ku urai dalam frasa mana sebagai pembukti
Namun fajar merah selalu menghadirkan makam wiji tukul dalam setiap prosa yang ia senandungkan
Sebagai majemuk tatapan kepada penghiatan politik negeri
Bahwa yang berkuasa adalah kemutlakan dari kebenaran

Frasa-frasa tak mampu mampu mengetuk dinding dan pintu istana
Apalagi pintu hati penguasa yang sedang duduk di atas singgahsana
Hingga terurai kata tanpa makna
Hanya makna para penyair yang bisa memperdalam
Hikayat penyair adalah aksara politea

Kau berkata tak perlu bicara tentang politis?
Penyair adalah jiwa yang jauh dari kata oligarki?

Sungguh indah prosa itu
Bahkan secangkir kopi tak mampu menafsirkannya
Karena da banyak hal intuisi yang masih tak terjamah
Menghadirkan sebuh kalimat di ujung puisi
Lakon sang pemimpin wajib untuk di timpali dengan nada sinis sebuah krikan

AKU KALONG KAU JALANG

Ilustrasi puisi
Aku disini masih tetap bersama harapan
Melumuri darah pada tanganmu atas sakit yang kau cipta
Di ujung malam kelam sejarah cinta
Yang mengusik tiap lembaran waktu

Aku kalong kau jalang
Hidup dalam satu hukum tanpa aturan
Menjajali tiap setiap lekukan
Bagimu bagiku surga kita

Masih setia menanti waktu berpihak
Darah mendidih masih selalu ku semai
Hingga ajal memenggal asa dalam balasku
Kau ku tetap di nanti di ujung api napasku

Aku kamu kau kita
Akhir sakit yang menikam
Menikam rongga menikam ulu
Kau masih ku nanti demi darahmu

Sakitku bahagiamu
Adalah cambuk untuk jiwaku
Tetap menyemai dendam pada asmara
Bahwa kau adalah penjahat cinta yang harus ku balas

KOPIKU KENANGANMU

Ilustrasi puisi
Tetesan air mata di dasar danau esSaat matahari terbang di sayap rembulan
Menghardik diri pada pekatnya lilin
Hingga lahir sejuta gores tersayat yang tak tampak

Terucap satu tanya dari bibir merah merona
Hendakkah kopi mampu memeluk rasa
Saat majazi asmara menindis diri dalam masygul
Adakah rindu kisah yang tertuang dalam kopi
Hingga begitu tinggi nikmatnya dari rindu

Jawabku :
Dengan kopi aku teringat untaian seorang wanita
Saat itu kala senja merona memancarkan jingga
Mengucapkan sepatah kata tentang kopi
Bahwa disaat kau meneguk kopi berikut ampas dari air mataku ialah suatu kenangan yang tak mungkin dapat ku lupakan
Meskipun tangan dan goresen pena Tuhan berkata pada hati yang lain
Namun yakinlah rindu padamu akan tetap ku ramu dalam satu wadah jiwaku
Hingga kata hilang dan kadaluarsa tak pernah tertulis untuk expo rasa di hati
Untukmu juga canduku

MENIKAH TAK HARUS MENCINTAI

Foto : ilustrasi puisi
Tak usah di pikirkan tentangku
Kau jalani saja keseharian dan cintamu
Sementara biarkan aku menggeluti setiap indah wajahmu
Biarkan aku merasa bahagia dengan menafsirkan segala milik molekmu

Kau berkata aku takut
Kau memilih tak pernah ada di dalam liarku
Namun aku berkata lain dalam imajiku
Bahwa aku akan bahagia hanya dengan mencintaimu dalam diam

Mencintai tak harus memiliki bukan?
Menikah pun tak harus mencintai bukan?
Bukankah mencintai dan menikah untuk orang-orang yang beruntung yang mendapatkan keduanya.?

Aku tak meminta dan menuntut
Membuka hati atas rasa ku pun tak usah ku hirau
Yang ku minta hanya ikhlasmu
Berikan bagianku untuk tetap bisa menjaga rasaku padamu
Itu saja

SUMPAH KEABADIAN

Ilustrasi puisi
Seuntai kata dalam bingkai kenangan
Untuk merajut sebuah dilema yang sudah lama bergejolak
Menjumpai mimpi dalam sebuah cita-cita suci
Menuju altar dengan rajutan kasih
Atas restu ikrar wali

Haru kasih Tuhan akan terlaksa dalam ucapan akhir
Menjumpai rasa sakral dalam menggapai sumpah keabadian
Tertuju jua serangkai resesi resepsi
Tertuju ribuan mata untuk saksi
Seleksi alam untuk sebuah pilihan kini telah berakhir
Merestui semua mimpi bagi dua hati yang telah lama merajut asmara
Resepsi