CANDUMU RINDUKU

Ilustrasi puisi
Ada rembulan dimatamu
Memberi cahaya bagi jiwaku
Membasuh semua kerontang di dalam diri
Hingga mekar mawar yang merekah

Kunjung pertama tatap menatap
Memenjara jiwa hengkang terkekang
Basuh membasuh jiwa teraniaya
Sunggik mu pembawa candu untuk luka yang harus ku semai

Ada yang bersemayam dalam jabat yang tak sempat
Mendidih aksa selaksa prindavan
Jejak waktu tak kunjung mau hilang
Hingga raut terpancar bak bintang

Buraq melepas pandang tertuju jejak
Hingga rawat jauh pun datang jua menerpa
Melanda rasa selaksa ababil
Hati terbakar bak daun termakan ulat

Hatimu mataku
Candumu rinduku
Jiwamu sukmaku
Satu yang tak menyatu di alam nyata tanpa tanya

AKU ADALAH SI GILA YANG KALIAN KUCILKAN

Aku tunjukan karyaku agar kalian mengakui, namun kalian tetap menganggap aku tak pernah ada.
(sumber gambar : penerbit specta)
Aku adalah si gila yang kalian kucilkan
Bahkan terbahak-bahak tawa dari mulut racun hinaan itu
Masih selalu ku ingat semuanya
Semaumu berkata tanpa peduli

Aku berusaha hadir dalam satu karya
Mencipta kalimat agar tak tertindas oleh jaman
Namun tak ada jua hati bahkan mata yang mau melirik
Atas sebuah perjuangan ku melawan ketidakadilan hidup

Keluarga
Kata yang terucap dari bibir yang berucap disaat tubuh menggigil
Merawat sendiri luka yang kesekian tersayat di lubuk mimpi
Hingga lahir kata satu setan puduli iblis pun tidak

Aku berkarya
Berusaha menaklukan semua hati para keluarga
Namun harap hanya sebuah aksara
Pelengkap mimpi di ujung senja sebelum pekat

Melalang buana mimpi yang terbeli namun tak pernah laku
Terpaksa ku jual semua harga bahkan harga diri
Agar semua bisa menjadi semboyan untuk bisa menyamai
Kedudukan di mata mereka yang telah menjadi raja

Aku menulis dengan air mata yang terjatuh di ujung bibir
Dengan segala kenangan pahit yang tertoreh
Aku menyemangati diri tuk tetap berdiri pada keyakinan diri
Meski semua orang adalah orang lain

Aku muak
Aku si gila tengah menangis
Meratapi luka sejak jejak tertinggal ayah
Hingga luput sang kasih yang tertanam dalam darah
Menjadi bunga pelengkap silsilah ucapku di ujung air mata

Aku kembali menemui semua
Menawarkan diri untuk menduniai semua kemelaratan hidup
Menjadi sesuatu yang terpandang dari erupsi waktu
Namun kalian kamu bukan juga bagianku

Akulah si gila yang sakit
Berusaha bangun dari setiap luka yang kalian toreh
Berusaha mengingat semua untaian indah di ujung bibirmu
"Jangan harap aku akan memanggilmu dan menganggapmu sebagai adikku lagi" ucap bibir indah itu
Masih selalu ku semai dalam pikiranku

Aku bangkit mengungkit
Namun tak kuasa memisahkan darah yang melebur menjadi nanah
Aku paksa menerima
Hingga setiap sejawat yang datang bertanya
Ku ucap saja dia adalah kakak kandungku

Masih bersama ingatan yang lumpuh
Si gila yang sakit bergeming dalam diam yang tertata
Menggurat pena kehacuran jiwa di dalam sepinya malam
Hingga terdengar sayu adzan subuh di telinga
"Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar" terucap tanpa sadar

Ibuku
Rumahku
Ya rumahku
Hanya rumah yang menawarkanku untuk kembali
Menyemai kembali mimpi menjadi si miskin yang tertindas
Merajut kembali kalimat ocehan gila dari para kolega
Yang merasa tinggi dengan segudang harta

AKU KEMBALI HIDUP

  • Ilustrasi puisi
Selingkup pendidikan tanpa arah
Rona seni kemudian hadir dri dalam penat wajah bumi pertiwi
Membubuhi indah pada setiap rentetan klausa kurikulum
Menjadi rasul pembimbing nurani
Menuju imaji terlampau cakrawala

Hiruk pikuk serentetan peristiwa menjajal lingkup pendidikan
Menjejak di hati setiap generasi
Budaya hadir memperelok serunai mimpi pendiri bangsa

Seni hadir dalam kesenjangan berpikir kritis
Lalu mencuat sebuah pemberontakan lemat literasi
Namun indoktrinisasi kembali hadir dalam budaya hoax
Sebab citra penguasa harus selalu agung dan bijaksana
Meski realita menggegerkan para elit berikut mangkubumi

Aku mengingat
Aku teringat
Kubuka kembali lembaran sejarah
Yang hampir lapuk di telan deadline yang dijajal oleh media busuk

Aku lupa

Ya.......
Aku hampir lupa
Seniman berkoar di tindas penguasa tanpa ampun
Kebebasan berpikir tertindas sepeda blusukan sampah
Nyanyian jiwa para nasionalis di persekusi oleh kecintaan NKRI
Entah siapa yang benar-benar cinta

Pendidikan seni dan budaya hadir melalui cela peristiwa misteri
Menghadirkan nostalgia pahit bagi sejarah bangsa
Jiwa mereka yang bebas di penjara demi lancarnya sebuah ambisi

Ah.........
Negeriku bukanlah panorama senja
Hiruk pikuk cakrawala kiblat bukanlah sebuah tujuan
Sebab hitam siap merampat di nadi ibu pertiwi

Aku kembali hidup
Aku hadir mewakili tubuh mereka yang telah wafat habis termarginal
Jiwa mereka hadir dan mengalir dalam darahku
Melalui literasi kiri berikut kanan
Aku hadirkan sejarah mereka yang terurai oleh banjir peradaban sejarah yang tersembunyi

NEGERIKU BUKAN PAPAN SIRKUS

Foto : penyair
"NON BLOK"

Gaung merah darah putih tulang tersendat lawan
Merancap bambu tuk mengekang kawan
Tak sehelai bulu garuda pun kan merintih
Kobaran api semangat di dada mengganyang lawan

Negeriku bukanlah papan sirkus yang seenaknya dimainkan
Pemimpinku bukanlah badut pengibur si lelaki tua putih
Bangsa ku pula bukan ladang yang bebas digarap oleh si mata sipit
Tapi negeriku adalah istana bagi rakyatnya

Jauh sebelum pencitraan merajalela
Sebelum pemimpin berbondong masuk got
Dan jauh sebelum agamaku diperolok
Negeri ini pernah berjaya dengan independennya

Dimana generasi berdikari?
Kemana super hero yang berdedikasi tinggi?
Siapa lagi yang harus dipercaya?
Negeriku terlantar oleh pemimpin badut asing

Aset bangsa ludes terjual
Alam berbentuk tengkorak bumi
Utang pun telah menggunung
Apa lagi yang berharga?

Martabat bangsaku hanya ada pada 17 Agustus
Kejayaan tertimbun bersama lumpur bencana
Bangsaku bagai ditopang stunami tak berkasih
Mungkinkah sebabnya pemimpin yang tak pernah bermimpi

Negeriku terlanjur laku
Akhirnya mudah terjual

Defisofian Arwon A.Majid

PUTRI SAYEMBARA

Ilutrasi puisi
Sumber gambar : inue pad
Setiap kata memiliki makna tersendiri ketika aksara yang berbeda tertuang didalamnya
Senyap sepi sunyi ialah perkara hati memahami kata dalam setiap makna jua pun rasa yang terwakilkan

Lalu aku mengurai sebuah kata
Sesuatu tertuju bukan lagi yang terharap di ujung penantian
Ia pelengkap pekat di ujung lilin yang terhanyut oleh pijar lampu kamar

Selaksa lilin menghunus pita penyumpal kata pada bibir yang tengah berucap di saat lalu lalang senyap
Seraut wajah sepi mendekam dalam penjara batin yang terpacaki oleh rayuan bayangan rautmu

Lampu-lampu di saat lilin menghitamkan dunia dengan coretan dinding megah berkerlap kerlip
Hati di sudut mimpi bercerita pada sesosok yang tak pernah menjamu tamu untuk rasa yang datang menghampiri

Kembali
Ia datang menghadap maut tanpa ragu
Bukan tentang maut malaikat ijrail
Ia di dalam penafsiran kata tanpa makna
Hilang dalam penjelasan para pujangga
Ia terurai oleh banjir bandang air mata
Menjelma duka sukma

Hampir menghampiri
Lolongan serigala menghantui sepi malam
Bulu kuduk berdiri di atas panorama rembulan
Tak bergeming jua sebuah mimpi
Ia tertanam dari dasar hati tanpa ketakutan datang menimpali

Jauh kau bagai putri sayembara
Memahami langit sunyi tanpa uapan air bumi
Ia tak mampu mewakili semua bendungan rindu
Yang terwakili saat juni datang menyapa