PREDATOR LUMPUH KARENA CINTA

Foto : penulis
Bukit-bukit meranjau habis tertakluk
Bringasnya tirani terjewantahkan oleh amarahku
Bejatnya penghianat telah lumpuh ku menjajak
Sayang, aku mati tersengat asmara

Tidurku hanya mengigau tentang parasmu
Hidup ini telah sibuk memba'it tentang kita
Aktivitasku terbedaya oleh sadisnya rindu
Padahal, engkau telah terselimutkan pada rasa yang lain

Inikah bentuk dari cinta buta?
Atau, aku memang buta dalam bercinta?
Kenapa engkau hadir dan berlalu?
Rasa ini, menyita mimpiku dan  mengusik dalam tidur

Engkau dengan mudah menyelinap dalam pikirku
Aku telah habih, hari-hariku habis karena memikirkanmu
Walau ku tahu, jodoh tergantung ilahi
Sungguh, aku tidak berpasrah karena tercampak

Lihatlah gunung berapi disana!
Akulah penakluknya
Dan lihatlah dirimu!
Begitu sulit ku mengerti

Sajak-sajakmu semuanya terserap cakraku
Memang benar, kau telah bersamanya
Tapi, hidupmu terisi cerita kita
Terbanglah!, setidaknya aku pernah berjuang

Setiap senja, banyangmu tergambar tak tersamar
Terbenang sinar, akan kembali cahaya
Walau sebatas bayang, surga tercipta di dalamnya
Impianku kan tetap ku gapai

Ini kisah dari cerita
Karena aku adalah orang yang pandai mengarang cerita
Predator lumpuh karena cinta
Itu hanya bumbu dalam berita

Ba'it-ba'it cinta hanya teruntuk penalar rasa
Gambaran khalbu telah termaktub dalam takbir
Tiba masa, tibalah azal
Azalku hanya bercinta dengan ilahi

#PuisiRakyat

PESAN RINDU UNTUK AYAH

Foto : Penulis
Jejak kaki telah mengabur dan hilang
diterpa angin dan hujan kehidupan
namun luka masih nanah tersayat
merongrong sukma dalam kehidupan

 Aku berlari mencari keheningan
 agar dalam sepih ku gapai kedamaian
 sendiri dan menyendiri q didera ketakutan
 mengharap keabadian kasih sayang

Di puncak gunung yg tinggi
dilautan yg luas dan dalam
diderasnya hujan dan kepekatan malam
telah ku teriakan ''AYAH'' aku rinduu,,itu kata ku

tetapi kerinduan hanyalah sebatas kerinduan
karena kita telah berjarak
anak mu kini menanggung beban hidup sendirian
dan kau malah pergi menghilang

Berhembuslah wahai sang angin ketulusan
Bawakan pesan rindu ku untuk ayah
Cepatlah berlalu duhai sang lorong waktu
Agar aku tau apa yang ia tetapkan

Penulis Muliati Guslina Amirudin

ALFATEKA

Ilustrasi puisi
Kubangan istana kini di gali kembali
Setelah lubang buaya menjadi saksi kedzoliman sejarah
Kini lubang got di trotoar jalan jalanan menjadi citra
Terbangun opini raja merakyat bukan pro rakyat

Langkah gontai pertanda kejujuran
Hilang konglomerat di sisi mata tak berkaca
Dia seorang yang jujur kata rakyat jelata
Dibalik panggung alfateka kekufuran tertimpal

Dua belas rekening hadir di beberapa negara
Kekayaannya bertambah empat tahun berkuasa
Data pengawas tak terlihat di pemilu tahun lalu
Kekayaan bertumpu entah dari negeri antah brantah ia datang

Citra ku naik kawan
Aku elektabilitas tanpa perhitungan
Bahkan wanita genit mampu ku bayar dengan sejuta triliun
Ah.... Tak seberapa jika aku naik satu periode lagi

Jual saja bangsa ini
Ucap seorang tokoh saat tiga bulan aku menjabat
Bukankah itu pertanda aku sejak lama sudah di percaya?
Bahwa dengan satu diri ini
Mampu menghancurkan sebuah bangsa

SENI ADALAH BUDAYA

Foto : Logo Komunitas Literasi Indonesia
Seni adalah satu kesatuan cabang ilmu
Ia adalah orcestra bagi semua muara
Yang terhimpun dalam diri setiap insan
Menjadi primordial bagi jiwa-jiwa suci

Laku seni adalah suatu keabsahan kalimat
Meramu juta juntai imajinasi
Hingga rak-rak buku menjadi sangat indah
Di perpustakaan kota juga di dalam lemari kamarku

Kursi adalah seni
Guru adalah budaya
Sekolah adalah pendidikan
Mereka terangkum dalam satu ruangan

Seni adalah budaya untuk mendidik
Belajar menjadi penikmat yang ulung
Tertampil setiap hasil imajinasi
Hingga harga semua adalah kebanggaan

CANDUMU RINDUKU

Ilustrasi puisi
Ada rembulan dimatamu
Memberi cahaya bagi jiwaku
Membasuh semua kerontang di dalam diri
Hingga mekar mawar yang merekah

Kunjung pertama tatap menatap
Memenjara jiwa hengkang terkekang
Basuh membasuh jiwa teraniaya
Sunggik mu pembawa candu untuk luka yang harus ku semai

Ada yang bersemayam dalam jabat yang tak sempat
Mendidih aksa selaksa prindavan
Jejak waktu tak kunjung mau hilang
Hingga raut terpancar bak bintang

Buraq melepas pandang tertuju jejak
Hingga rawat jauh pun datang jua menerpa
Melanda rasa selaksa ababil
Hati terbakar bak daun termakan ulat

Hatimu mataku
Candumu rinduku
Jiwamu sukmaku
Satu yang tak menyatu di alam nyata tanpa tanya