YENI (Yakinkah Engkau Nama Itu?)

Foto : Ilustrasi Puisi
Yakinkah Engkau Nama Itu?
Yang Engkau Niscayakan Indahnya
Yang Engkau Narasikan Imutnya
Yang Engkau Nadakan Iramanya
Yang Engkau Napaskan Ikararnya

Yakinkah Engkau Nama Itu?
Yakni Emas Naib Islamiah
Yang Enyahkan Nasib Intusi
Yakut Ending Nurani Insan

Yakinkah Engkau Nama Itu?
Yakini Ejaan Naskah Ilmiah
Yayaya Ending Narasi Ilmu
Yang Engkau Nisbihkan Ilhamnya


SAJAK UNTUK PENITI DAN SOPIR BUS

Masa aksi

Oleh : Ginanjar Gie

Aku terlahir untuk ini, memandang semua yang terjadi tanpa sesuatu yang harus di selesaikan bersama tukang peniti yang merangkul bawahannya untuk mengecam para pembawa sampah di hadapan menara megah yang berwarna biru. Mereka berteriak dengan lantang lalu tukang peniti menyambutnya dengan suara senjata, dengan berteriak selaksa petir menyambar : datanglah kesini kauuuuu, agar ku gelitik otakmu dengan tumitku, otak kalian teracuni, sini ku bersihkan semua sampah yang ada di kepalamu agar semua sistem bekerja dan berjalan dengan baik ujarnya sembari mengarahkan moncong senjata kepada penindas elit yang tertindas, yang sangat membutuhkan nilai keadilan.

Tukang peniti itu penyulam yang bagus bahkan dalam situasi yang pengap mereka tetap menjahit kain untuk menyumpal mulut para komunal dengan paksa, merah padam muka para peniti berdiri di gerbang gedung megah, dengan suara gagah berani sang komando berkata : perisai komando tegapkan senjata, hancurkan para tikus-tikus kecil itu, mereka hanyalah sampah bagi negeri maka tenggelamkan saja.
Sambut sang jenderal dengan komando yang tak kalah lantang : lakukan sesuatu yang kalian anggap benar...!!!

Sebuah tragedi besar pun tercatat oleh sejarah, sang orator di bungkam dengan moncong senjata, batu dan kayu tak lagi punya nilai sebab letusan senjata dari para wajah beringas mulai fi dengungkan, seirama alunan musih k-pop korea yang di dengar oleh seorang ayah ketika seorang ayah tengah menderita sakit gigi.

Peniti mulai beringas di arena laga ia berteriak dengan seraya memerintah : hancurkan semuanya, kemarin kalian yang menduduki gedung ini, mari sini ku ajarkan bagaimana berada di tanah yang menjadi dasar bangunannya agar kalian tau bagaiman sakitnya di siksa oleh kata-kata atau sakit yang kalian inginkan adalah moncong senjata yang akan memberikan keadilan dan ketenangan. Lalu sang peniti menarik paksa seseorang yang kurus kering tanpa rasa manusiawi dalam diri memandang ia sebagai seekor domba para gembala yang akan di kurbankan saat idul adha tiba, kemudian ia lemparkan tubuh tak berdaya itu, sebelum bagian-sebagian dari peniti itu memukuli dan menyerangnya bagai srigala kelaparan. Seorang wanita berjas hijau memeluk tubuh kurus itu, membelainya dengan mesra sambil membisiki seuntai kata di telinganya "Kawan inilah bagain dari perjuangan, Revolusi belum usai, kami pasti menyelamatkanmu, Bersabarlah." sebelum ia di tarik paksa oleh peniti bengis. Perempuan itu tetap memeluk dan menenangkan dirinya, tapi wajah bengis tanpa ampun menariknya dengan paksa. Di angkutnya tubuh kurus kering itu di atas mobil bak terbuka, lalu seorang peniti datang menjemputnya sebelum mereka telanjangi bajunya. "Dasar sampah" sinisnya sambil memungut rambut panjang si tubuh kurus kering .

Kemudian satu per satu mereka datang dengan tangan di belakang punggung, dan di pegang dengan kuat oleh para peniti tangannya, lalu memaksa para jalang jalanan itu untuk melepaskan pakainnya lalu di buat paksa untuk duduk di atas aspal yang panas karena di terpa matahari sedari pagi. Sempat para komunal itu berteriak berontak hendak memprotes apakah ada aturan di atas aturan yang membuat mereka harus melepaskan bajunya laksana maling ayam di kampung-kampung tanpa listrik di sudut ibu kota.

Hampir semua dari komunal itu di babat habis oleh asap air mata, hingga cair mencairkan semua yang hadir dalam aksi, hadirkan tafsir dan makna bahwa mereka yang berdiri di depan gerbang adalah sampah sumpah serapah para elit. Orang seorang dari peniti hadir kembali membawa orang per orang  tuk di jatuhkan hukuman di atas meja hijau. Keadilan yang di perjuangkan kini berbalik menyerang bagai ibu tiri yang takut kehilangan kasih sayang suami dan takut kehilangan warisan sang suami lalu menghardik anak kandung dari lelaki yang mempersuntingnya hingga ia tewas dalam fhobia yang mengerikkan. Kasian mereka yang berjiwa merdeka, mereka telah lihai dengan kekuatan revolusi hingga lupa bahwa taring dan moncong senjata masih tegap berdiri di gerbang istana.

Setelah mobil membawa para komunal ke pengasingan, lalu hadir sebuah bus sewaan dengan tulisan di depan kaca "Berkedok Almamater (berwajah preman) di gedung berwarna biru. Mereka hadir bawakan makanan untuk para komunal, dengan daging dan ayam di bungkusi oleh plastik nasi sebelum mereka bubuhi semua makanan itu dengan racun. Racun itu lahirkan kematian bagi para jiwa perindu keadilan.

Racun-racun itu adalah obat untuk kebijaksanaan ucap seorang jendral dari kumpulan tertindas, karena racun itu adalah setidaknya mampu membawanya kepada keabadian hingga tak lagi melihat dunia yang begitu kacau oleh ulah manusia-manusia kerdil. Kematian adalah perebahan abadi yang membuat jiwa tenang karena tak ada lagi sisi yang dapat membantu menghancurkan sistem yang terstruktur oleh para peniti. Setidaknya kematian dapat mengantarku pada surga maka akan ku raih itu, namun sebelum nyawa terenggut oleh racun itu, ijinkan aku bersuara di depan istana itu lagi dan menghancurkan para penghuninya, kemudian ku ikhlaskan jiwa ku kalian ambil, tubuhku kalian cincang, dan setiap dagingnya kalian berikan saja kepada anjing-anjing kampung yang kelaparan. Karena bagiku kemerdekaan yang tertindas adalah mati bagiku. Ucapnya dengan air mata darah.

#Suara hati para aksioner

SEBUTIR PELURU DI SUDUT GERBANG

Foto: ilustrasi puisi
Sebutir peluru di sudut gerbang
Terlindes terinjak kaki pejalan jalanan
Hentak terkaget sang hati anak polos
Peluru karet bukan lagi kawan

Peluru itu berbentuk lonjong kuningan
Tertulis pin angka di ujung sisa
Dua digit digit dua
Entah apa maknanya aku tak mengerti

Peluru itu ku masukan dalam saku celana
Ku buang di pinggir kiri trotoar
Suara kiri tak boleh mati karenamu kawan
Karena kau bagian dari kiri mulai sekarang

Peluru itu misterius kawan ucap sahabat ketika bermain gitar
Peluru itu menembak seorang anggota berwajah kriminal
Hingga pahanya terkena peluru
Menjelma handphone sebagai pahlawan

Pahlawan telah retak bersama dengan selamatnya paha dari peluru
Sang anggota berteriak dengan lantang dengan emosi
Aku bunuh kalian semua jika benar aku berdarah
Sinisnya memandang karena paha yang satu terkena batu misterius pula

Kasian
Bahkan anggota mengamankan anggota
Bentuk dari terstrukturnya rencana propaganda
Alangkah indah stratag penguasa

Kalian mau lawan?
Intc adalah lawan stratag kutu buku
Hahaha bergidik semua bulu kuduk
Tak akan mampu tak akan bisa

Ingat kawan
Kalian adalah jalang jalanan bagi mereka
Kalian adalah sampah peradaban bagi mereka
Tapi jangan sampai kau berkecil hati
Karena aku selalu bersama jiwa-jiwa pembebas kaum tertindas

SUARA YANG RINDU AKAN KEADILAN

Foto : ilustrasi puisi
Suara berakhir di penjara
Pelopori semua hasil semu
Gerakan masif hancur di mimbar jalanan
Kini tinggalkan meja hijau yang akan mengambi alih

Hantu-hantu berkeliaran dimana-mana
Tak terbang namun berjalan layaknya anak harimau
Liar tanpa cakar mengaum tanpa busana
Hendakkah kiri terisolir di muka bumi?

Asap gas air mata adalah senjata pamungkas
Meneteskan air mata meski dalam laga perang
Apa yang hendak kau tangisi?
Tanya sang ibu penjual somai di pinggir trotoar

Air mataku jahat Tuan ujar seorang gadis saat menyapa wajah muram petugas
Aku bukanlah dari air mataku
Air mataku air matamu yang kau tumpahkan lewat diriku
Karena aku yakin generasi dari anakmu akan mengalami nasib yang demikian yang kini tengah kami alami

Kembali besok kata teman di atas surau
Namun senjata tak mampu di hadang oleh kekuatan Toa di tepi atap
Sekali terbang asap gas mengepul
Air mata kembali berlinang di atas sana

Loakkan kata seorang pengendara di jalanan
Sampah ucap seorang petugas saat mengejar para pencari keadilan
Busuk ucap media dalam headline deadline
Tetaplah semangat dan hidup ucapku dalam hati
Karena suara yang rindu akan keadilan tetap abadi
Seabadi fajar merah saat pagi datang
Seabadi fajar merah ketika melantunkan senandung kebenaran tak pernah mati

MEMAHAMI TAKDIR

Foto : penulis dan si jenggot keramat
Menghardik diri dan yakin ini
Coba ku pahami
Namun semua tetap tak terbaca
Aku hilang dalam gelap
Merintih di sudut jalan
Aku tak terbaca
Aku terbuang
Aku tak ternilai

Sempatku terdiam dan memahami segala soal ini
Namun semua tetap terlilit dalam kabut yang menganga

Tanyaku
Akankah semua kembali berwarna?
Akankah kanvas kusam mampu kembali memekarkan bunga?

Aku diam dalam dekapan luka
Memahami torehan takdir dalam goresan pena Tuhan
Hingga diri melebur dalam diri
Agar cahaya kebenaran mampu di tampung oleh hati