SYAIR MINUS

Foto : lagi berpikir dan menulis
Menerjang batas
Dengan kopi di dalam gelas
Menyisakan hitam berikut ampas
Dalam hikayat suara hati yang tak terbalas

Hati adalah tempat lepas landas
Bukit tempias tanpa impas
Di menara pissa terpendam cadas
Angkuh jiwa untuk rasa malas
Mengenal hamba tanpa tau balas

Sombong sialan sadis sang gadis
Di ujung malam yang amat manis
Tatapan itu terlihat begitu sadis
Menggoyahkan hatiku yang di pandu miris
Hingga teraksa wujud balqis
Dalam rona jelmaan rengganis

Sialan sang judes
Ia terduduk di depan pintu kos
Mengeram jiwa pada satu kata egois
Mengeram egois pada titik nol celcius
Merawat lupa pada kenangan yang tak pernah mulus
Selaksa saturnus menyapa pinus
Cinta yang selalu punya siklus
Namun tak punya penghulu di ujung syair minus
Luluh lurus
Hatiku mampus

LOLONGAN MALAM BERCERITERA (eka)

Foto : wanita pemberi inspirasi
Lorong waktu yang terangkai
Sakuntala terkulai layu
Bubuhan aksara menyemai di atas pembaringan
Semoga lekas
Semoga membekas

Lolongan malam berceritera
Tentang ruh suci yang tertanam dalam jiwa gadis sunyi
Hendak apa
Kau siapa
Hilang tanya tanpa tanda
Tanpa jawab
Ia lenyap
Hilang
Mati

Sakuntala saku sakura
Keindahan tanpa tanda baca
Berimajinasi di atas cangkiran kopi
Moksa kata terakhir di bibir sebelum penyatuan

Lahir hilang
Silih berganti
Sakuntala datang dalam jelmaan nawan wulan
Menjelma dalam tubuh wanita satu malam
Sungguh hidup adalah perputaran
Ia adalah sakuntala dari sasak

Roda melaju
Waktu berlalu
Suara bersatu
Ucap takbir di ujung senja
Hamparan sajadah tempat kita bersimpuh

Kembali
Ingat
Mengingat
Karena kau adalah satu dalam satu
Satu rindu di hatiku dan dimatamu

PADA SEBUAH KATA PERGI

Foto : ilustrasi penulis
Pada sebuah kata yang telah pergi
Aku ingin mengunjungi di tepi matamu
Di sudut dua puluh tempat bersandar
Tanpa gravitasi ia mendekap
Kehampaan penuh keyakinan

Pada satu kata pergi yang telah menghilang
Mengunjungi lewat mimpi dalam sadar
Hilang ego pada satu harapan
Andai terjaga dalam benak
Kefakiran akan tetap menuju pemujaan
Bagi semua adalah milik yang hilang
Alasan untuk tetap adalah keniscayaan
Karena perkara hati adalah tak mampu tertafsir
Ia dalam dari semua kedalaman

Pada kata dan kalimat yang menghilang
Secara Kolosal dalam ambigu yang amat dahsyat
Pergi di terpa langit mengaum
Sontakan dan teriakkan semua jiwa yang tertidur
Hilang akal sehat dalam memangku dunia
Tercermin mimpi untuk meraih
Hampa ada di dalam kata harap
Pupus segalanya

Aku merindu pada kata pergi
Meniduri kata ingin
Meng-angani kata hilang
Lepas liar dalam-dalam
Aku pulang dengan kehampaan
Aku menyerah

KOTA ADALAH HUTAN RIMBA

Foto : Ilustrasi puisi
Kota adalah hutan rimba
Samudra liar tempat bertumpu para sampah
Semeru tak mampu menepis bah
Gundul-menggunduli terlahir dari rahim keramaian

Tubuh pendosa sedang mencari wadah
Di mana tumpu menitik-kan kumpul
Hingga tercermin kambing dalam belang-belang hitam
Liar tatap menengok siapa yang sedang mengintai

Yang mengintai ikut terintai
Mengintai takut di intai
Intai menjadi siklus saling ketidak percayaan
Hukum lahir dari rasa sadar akan kekhawatiran akan di intai

Sampah dan sumpah tercampur di ujung lidah
Bersilat semahir pendekar kungfu saolin
Lahirkan dogma dalam tatanan kewibawaan serakah
Dosa ku bukan dosamu ucap hati dengan sombong

Sementara di ujung hari
Mereka bercerita tentang kesejahteraan
Tanpa beranjak dari mimpi
Hutan gundul tengah menanti hujan
Musibah siap menanti
Pasti

AKU BUKAN PENULIS

Foto : Penulis
Aku tak ingin belajar bagaimana menulis puisi
Sebab aku tahu bahwa kata titik ku bermakna berhenti

Aku tak ingin mendengar koreksi dari orang lain
Sebab puisiku bukan untuk di koreksi

Aku tak Akan pernah bisa mengulang apa yang aku tulis
Sebab aku bukan orang yang menulisnya
Aku sedang tak berada di sini
Kau tau itu pasti
Aku bukan penulis

Aku hanyalah penikmat aksara-aksara suci
Aku hanyalah penikmat kalimat-kalimat hanpa
Paragraf-paragraf tanpa arti yang memiliki ribuan makna
Itulah aku
Sekali lagi aku ucapkan
Aku bukan penulis