BISU YANG TERBUNGKUS MATI

Foto : Umratun
Bisu yang terbungkus mati
Bagai mumi di tengah antartika
Hilang berpaut di makan makam
Tanpa tempat pulang kemana tertuju

Kau hadir dengan kekosongan rasa
Di tangan mu ada neraka dan surga
Di hatimu ada racun
Di jantungmu ada obat
Kau buat buyar lingkaran imaji

Hentak
Sendak
Pelak
Jalak

Banting
Terpelanting tanpa denting
Hilang dalam keling
Tanpa saling
Pulang berpaling

Kekosongan
Nun jauh khayangan
Bidadari berjalan
Tanpa sayap terbang dalam naungan awan
Dalam pikiran
Selam salam ini pelan
Aku pastikan kebahagian
Untuk mu yang berparas menawan

Gie
24 Januari 2019
Pena langit di antero pai

KAU KU

Foto : Nurmi Yanti
Kau yang memukau
Miliku yang telah miliki kau
Hatiku bukan aku
Kau meramu aku menjadi kau
Merubah aku menjadi kita
Kita tak sama dalam satu
Satu dalam satu-satu
Hilang perbedaan

Aku yang tak memiliki
Memukau kau dalam doaku
Hilang aku kauku hilangkan
Sebelum kita bersama hilang dalam semu

Selama semalam
Lilin masih menyala
Lentera di tepi kuburan
Aku menyapu kehangatan malam
Lewat kebekuan yang di-di diriku

Aku kamu kau
Kau ku aku
Aku kita
Kita menyatu dalam aksara liar
Liarku adalah kau
Kau liarku sayang

Gie
23 Januari 2019
Inspirasi malam
Pai di ujung pena

RINDU JAKARTA

Foto : penulis saat berkunjung ke masjid kubah emas (oleh : mazhab depok)
Senja telah hilang dalam naungan awan
Meninggalkan hati yang berlindung di bawah naungan amor
Kesaktian awan teduhkan dusunku
Disana terlahir samudranya nelayan
Disini terpenjara aku dalam bisa
Bius bisu menjadi kelu
Diam dan bisu tak menjadi apa-apa

Jakarta ramai kota kita
Kita punya ibu kota indonesia
Ramai dari rerantaun jiwa pendamba kampung
Hilang akal hilang saat di sapa kabar
Keluarga wakaf hanya tinggal doa

Jakarta ibu kota kesayangan
Kesayangan bagi semua orang
Orang-orang kelaparan dan pengamen jalanan hidu di ibu kotaku
Sungguh rindu ibu kotaku
Rindu jakarta ku

Petani di seberang sedang membajak
Lega hati menghirup udara segar
Damai hati menulis sajak
Sabar petaniku hidup harus tegar

Gadis tani membisu di pematangan
Sapa mata seakan mengajak mulut untuk menyunggik
Kaukah hilang yang selama ini ku cari
Bisik hati yang tak sempat berucap

Kota ku indah
Kotaku malang
Desaku indah
Petaniku malang
Dusunku asri
Nelayanku

Gie
22 Januari 2019
Inspirasi malam
Pai di ujung pena

AKU BERSAMA MATAHARI

Foto : penulis sedang menikmati senja
Aku bersama matahariTenggelam di ujung cakrawala
Memungut loakan-loakan beku
Menggigilkan diri dalam sunyi yang papa

Hampir datang mengiba
Menghampiri sepi di dalam pekatnya siluet yang mulai pudar

Nelangsa hati jangan tak lagi mampu tertanya
Hendak di semayamkan dimana kemana ini

Ku bawa lamunan terbang ke syurga
Melambaikan dalam muskil pikiran manusia
Picik pun tak sanggup menggugah
Tercoreng nama dalam lafaz yang tak ternilai

Berputar mimpi di kaki gunung dua
Dua kita adalah satu
Satu hati dua kali pertemuan
Di ujung senja pekat datang menerjang

Gie
21 Januari 2019
Inspirasi malam
Pai di ujung pena

LEGENDA PULAU ULAR

Foto : penulis sedang berada di pantai tempat pulau ular
Keberpihakan semesta pada sejarah
Hilangkan naskah di dalam terumbu karang
Segala intrik gejolak terlahir dalam persepsi
Hingga klaim naskah tua siapa yang tertua

Dorong-mendorong
Todong-menodong
Hilang akal sehat
Versi adalah siapa yang pertama mencari
Atau siapa yang paling cepat menulis

Pulau ular
Hilang tanpa naskah
Ada tanpa sejarah
Muncul sebuah kejadian
Dimana rimba hutan belantara
Kitab-kitab semesta tak mungkin hilang
Lautan liur adalah sejarah
Semak belukar rentetan peristiwa
Akan abadi dalam dongeng
Hahahaha
Sejarah hilang
Bukti tanpa sketsa
Lahirkan legenda dalam kisah brahma
Dewa-dewa hadir dalam kecamuk pikiran
Pikiran mana yang entah apa

Legenda pulau ular
Adalah sejarah tanpa naskah
Peristiwa tanpa literatur
Perang tanpa sejarah
Hilang hilangkanlah

Gie
20 Januari 2019
Pai di ujung pena