JAYALAH NELAYANKU

Foto : Para Nelayan sedang menyelam
Teringat kala itu
Kala kita sedang tak punya malu untuk berjalan telanjang
Mandi telanjang di bibir pantai
Kadang berenang menuju pulau ular
Bahagia

Kawan-kawan sejawat berubah jadi ayah
Pacarku berubah jadi ibu anaknya
Sedang aku masih sama seperti dulu
Setiap pagi meminum kopi dan menulis sajak untuk desa ku

Hembusan angin musim hujan masih sama
Mengantarkan kita pada satu nostalgia
Keasrian pulau dan keabadian karang
Namun semua hanyalah kenangan

Nelayanku sudah tak lagi memancing
Karena doping siap menghantam samudra karang
Persetan mata kail
Nelayan ku lapar
Bom berdenting-dentang
Ikan ku mati
Karang ku hancur
Jayalah nelayanku


Gie
28 Januari 2019
Pena langit di bumi pai

SATU

Foto : ilustrasi puisi
Setan sedang bersemedi
Di gua tanpa lubang
Lubang tertutup mimpi
Mimpi manis para pembual
Hilang janji di atas meja
Meja bundar tempat rapat para birokrasi
Birokrasi tanpa aqidah pada dosa

Dosa adalah perkara akhirat
Akhirat neraka hanyalah dongeng
Dongeng yang indah sebelum para bayi tertidur
Tertidur dan terlelap di tengah kegentingan
Kegentingan melanda di setiap waktu
Waktu yang tak mau berpihak pada kita
Kita orang miskin jangan ber-ulah

Ber-ulah adalah hak milik orang-orang
Orang-orang miskin siap saja menengadah
Menengadah pada penguasa juga pada yang kuasa
Kuasa hukum tak mampu membela jika tak punya uang

Uang rakyat hanya untuk kampanye politik
Politik apa yang entah bagaimana
Bagaimana kemana apa kenapa
Kenapa hanya tanda tanya tanpa jawab
Jawabnya masih dalam satu goa
Goa si buta tuli di atas mimbar pun di belakang meja

Meja para aktivis
Aktivis birokrasi
Birokrasi amplop
Amplop tebal buat kita
Kita satu goa


Gie
27 Januari 2019
Pena langit di bumi pai


MEREKA

Foto : penulis sedang mendaki
Haha
Kalian
Kucingku
Hilang
Tikusmu
Mati
Hidup dalam pikiranmu
Mereka
Semua
Kau
Kalian
Mati saja


Gie
28 Januari 2019
Pena langit di bumi pai

ADA YANG HARI INI

Foto : inspirasi dan  ilustrasi puisi
Ada yang hari ini melihat tanpa menatap

Ada yang hari ini membaca tanpa meng-eja

Ada yang hari ini seorang seniman tanpa tau mana kerja fiksi dan fiktif

Ada yang hari ini yang meminum kopi tanpa tau menikmatinya

Ada yang hari ini mengetik sebuah naskah tanpa tau apa yang ia tulis

Ada yang hari ini terjerumus dalam kubangan yang di gali oleh dirinya sendiri

Ada yang hari ini berjalan melewati belantara luas namun punya jalan untuk pulang

Ada yang hari ini berjalan di tengah deru kendaraan kota namun tak tau kemana ia harus pulang

Ada yang hari ini

Gie
26 Januari 2019
Pena langit di bumi pai

MOKSA

Foto : penulis
Jika saja rasa takut dan rasa deg-degan dalam jantung ini ialah seperti barang mainan sewaktu kita masih kecil, adalah benar akan ku buang semua mainan itu, agar aku bisa mengungkapkan semua ini. Semua semu, semua rasa yang menyelimuti pikiran dan hati ini.

Ketakutan datang menjadi
Menjelma butir-butir embun di sekujur ini
Hilang rahmat dalam keyakinan
Tuhanku Tuhanmu adalah keyakinan

Maka aku memilih mati agar aku bisa berjumpa dalam perjumpaan

Aku telah lama ingin mati
Bahkan sebelum oleh tuhan
Aku ingin hilang dari ada
Semoga lekas izrail datang memeluk
Di atas awan putih aku bersemayam
Hingga pintal-pintal cahaya bertebrangan layaknya kunang-kunang.

Moksa jalan para sufistik
Kini bernaung di bawah lentera hati
Berbisik tanpa suara :
Nyawaku adalah ketiadaan
Aku hidup dalam .
Tanpa ruh
Tanpa jasad
Aku hidup dalam kegersangan akidah
Aku hilang

Gie
25 Januari 2019
Pena langit di antero pai