HILANG DALAM JARAK

Foto : Ilustrasi puisi
Hati nelangsa dalam kerinduan yang menggebu
Memenjara pikiran dalam satu antero
Kerangkeng tanpa penjaga
Terpendam dalam kubangan kenangan

Hancur lebur semua luka
Menyatu dalam ampas kopi
Menghadirkan candu dalam pancaran sinaran temaram wajahmu
Sang ikhtisyarku

Menjelma dalam halusinasi keabadian
Hadir dalam imaji majazi
Jongos dalam tubuh sendiri
Ku peluk diri sendiri
Ku rangkul betis yang terkulai layu
Lelah dalam penat
Kehancuran

Hati hilang dalam jarak
Ada di sisi gelap cakrawala
Hitam pekat tanpa cahaya
Cahaya cintamu hanya harapan
Asa

Gie
24 Februari 2019
Pena langit di bumi kota tepian air

HARLA HMI ( VIDEO PUISI WAHAI HMI KU)

WAHAI HMI KU
Oleh : Ginanjar Gie
Pembaca puisi : Nuhraini
Translate to english  : Indah 
Foto : Harla HMI
Merah jingga merona di ufuk timur
Menghapus hitam kegelapan
Hadirkan bulir-bulir mutiara langit yang membasahi rerumputan padang hijau
Memberi cahaya untuk hijau dedaunan pagi

Di kamar mungil tempat aku merebah
Melelapkan diri saat kepenatan
Tempat menelanjangi semua isi buku
Meramu pikiran pada frasa nilai perjuangan
Untuk membentengi diri dari kebodohan
Yang siap melanda jiwa-jiwa yang mencintai rasa malas

Disini
Terbentang dan berkibar
Hijau hitam pemberi warna
Hijau di hati dan di bumi pertiwi
Hitam tinta membekas dalam usaha
Yakin usaha sampai tertulis dalam pikiran
Hingga hadir di dalam diri
Tentang perjuangan yang harus di perjuangkan

Wahai HMI ku
Sungguh resah di dalam jiwa ini
Tiada bekal ku tunjang namamu
Yang akan membawa namamu agar tetap harum di negeri kita tercinta ini
Maafkan diriku
Wahai HMI ku

Wahai HMI ku
Bagian jiwa ini ku wakafkan untukmu
Semua laku dalam hidupku ku persembahkan untukmu

Wahai HMI ku
Kau adalah bagian dari nafasku
Nafas islamku

Wahai HMI ku
Jiwamu adalah akademisiku
Ragamu adalah pengabdianku
Warnamu adalah keadilan dan kemakmuran bagi jiwa yang bernaung di dalam nafas mu
Nafas Islam yang di rihoi Allah

Jayalah kohati ku
Bahagialah HMI ku
Kau adalah segalanya bagi kami
oleh indah
Oleh nuhraini

Gie
05 Februari 2019
Kota Bima

PAGI YANG TELAH PERGI

Foto : erni johan
Selamat pagi yang telah pergi
Semoga kau cepat kembali
Untuk menemaniku di dalam sepi
Menjadi sandaran jiwa dan hati
Ketika duka menimpa diri

Aku berharap kau adalah nama yang tertulis di arasy
Sebagai pelita dalam kegalauan hati
Sebagai pelengkap hidup sunyi
Semoga kau lekas mengerti
Semoga kau wanita yang dikirim Tuhan untukku persunting menjadi permaisuri

Semoga menjadi
Semoga abadi cinta ini
Untukmu yang ku rindui
Kau selalu di hati

KEBENARAN HAKIKI

Penulis tengah menikmati alam subuh
Aku tengah bergerlya
Melawan diri juga orang lain
Dalam jiwa yang kokoh nan abadi
Ku ucapkan kenisbian pada semesta
Sementara pekat hati akan ku sempurnakan dengan cahaya

Ilahi telah berpesan
Semoga dapat memancarkan dari dalam kedalam
Hingga terpancar dari luar yang sangat dalam
Cahaya kebenaran dalam Tauhid

Kebenaran hakiki
Harap semua insan
Jiwa penghambaan yang merindu
Tentang pencipta yang Esa
Semoga
Doa dalam diam
Bisa mengantar kepada kehakikian jua keridhoannya

Gie
21 Februari 2019
Pena langit di bumi pulau ular

MARI_NAK MARTI (MATI)

Foto : Ilustrasi puisi
Tempat dimana para pedagang kaki lima berjualan
Menjajakan makanan untuk para pengendara
Membantu sesama demi satu rupiah
Untuk sekolah anak-anaknya

Mereka tergusur oleh penguasa
Pengusaha berseleweran menabur benih penindasan
Gedung pencakar langit kini berdiri di samping jalan
Menggantikan tempat para pedagang kaki lima

Kasian
Pedagang kaki lima terusik
Pedagang kaki lima terusir
Hanya yang tertinggal bisikan dalam hati
Nak mari mati
Sebab mari_nak marti (mati) sudah mengambil alih
Mereka punya adi kuasa

Nak tak usah lanjutkan sekolahmu
Tak ada lagi biaya untuk membayar SPP
kakak mu akan segera pulang dari rantauan
Sebab SKS nya tak mampu lagi terbayar
Uang semesternya tak lagi mampu lagi di kumpulkan
Karena Mari_nak mati telah merenggut kematian nasib pedagang kaki lima