INTUISI SUNYI

Foto : ilustrasi puisi
Selamat pagi
Kau yang telah pergi
Semoga engkau mengenang diri ini
Agar abadi cinta yang ku yakini

Bersama mimpi yang tak pernah kembali
Aku menunggumu bersama literasi
Menuliskan intuisi-intusi sunyi

Prosa dan puisi
Semoga menjadi
Semoga terjadi
Semoga bersatu pada satu ikrar janji
Harapan hati

Dalam diam semoga tergapai
Dalam semat semoga di Aamiini
Dalam-dalam bermunajat di hati
Semoga kau terkenang abadi
Selaksa majnun yang pergi berhaji
Mazaji
Imaji

Malala Yousafzai

Foto : malala
Dalam langkah terkulai layu
Jiwa perempuan itu hadir dalam diriku
Merasuk dalam nurani
Hingga menyatu bersatu dalam reinkarnasi

Malala yousafzai
Jiwamu adalah hidupku
Cita-cita mu adalah tujuan hidupku

1 pena
1 buku
1 guru
Adalah alat perjuanganmu

Kau adalah inspirasi hidupku
Kau adalah Motivasi perempuanku
Kau jiwa yang di pelihara oleh dunia
Sebagai luapan kasih pada hak-hak perempuan
Hak asasi manusia yang harus di perjuangkan

2012 tepat di hari engkau kembali ke tanah kelahiran
Jiwaku ikut tertanam disana
Menjamu semua jiwa dengan cinta
Hadirkan intuisi-intuisi cinta dalam jiwa
Bahwa kau adalah jelmaan cinta dalam dunia

Jiwa mu perempuan ku
Kau hadir dalam segala jiwa perjuangan
Dunia adalah cerminan kasihmu
Malala kau adalah pikiran wanita yang di penjara
Yang kemudian kau hantarkan kepada keabadian untuk kenangan
Bahwa perempuan adalah bukan barang murahan
Mereka adalah tameng perjuangan
Mereka perintis kemerdekaan dan perjuangan pun pendidikan
Malala kau jiwa yang hidup
Kau akan selalu hidup
Di jiwa ku pun di jiwa mereka
Yang merindukan kesetaraan juga kemerdekaan dalam keseimbangan
Perjuanganmu abadi

RANGKULMU MENJELMA PEKAT

Foto : ilustrasi puisi
Kau menjelma menjadi harimau cinta
Mencabik-cabik sisa daging empuk rasa yang ku miliki
Hentakkan tulang-tulang kekuatan rangkulan kasih
Retak beribu takdir yang telat

Rindu adalah kata yang selalu ku telan
Lalu mencoba memaksa tuk menuju mu
Jika tak hari ini, Kiamat pasti esok hari
Luka

Kemana ku raih
Rangkulmu menjelma pekat
Alam jingga
Langit biru
Semesta raya
Lazuardi dimana?
Hancur lebur dalam majazi mu

Imaji terkungkung -
Nasi telah menjadi bubur
Kita tiada upaya
Hilang engkau
Hilang rasa
Tiada cinta

LANGIT MENJERIT

Foto : pena langit
Aku dimana
Tak ada suara
Hilang dimana
Tak ada sadar dalam diri

Langit menjerit
Meratap dalam kilatan
Hilang kemegahan istana
Terselimut hitam gelap hujan malam

Dimana kita?
Kita tak tau tempat tuk pulang
Rumah adalah neraka bagi jiwa
Sebeb mereka masih butuh untuk di bebaskan
Mereka yang butuh keadilan
Anak-anak yang butuh pendidikan yanh layak

Anak-anak bukan tak punya gedung
Namun kekurangan kasih sayang
Di sekolah tak ada perhatian
Di rumah neraka siap menghadang
Malang
Bukan salah mereka jika jadi bolang
Sebab tak ada yang datang menggandeng

LUKA HADIR KARENA PENOLAKAN TERHADAP KENYATAAN

Foto : Ilustrasi puisi
Seharusnya aku tahu bagaimana rasa sakit itu begitu nikmat, menikmati rasa sakit dari yang tak terluka sebagaimana ketika kopi Dinikmati dan keindahan saat tegukan kopi masuk tenggorokan merangsang dan menggoda imaji untuk terbang ke angkasa lalu merasuk pikiran para jiwa pendamba yang ingin merdeka dari kerangkeng istana manusia yang bernama hati.

Rasa sakit yang melahirkan luka adalah kenikmatan pikiran untuk lagu baru yang ingin keluar untuk di nyanyika hingga lahir pemikiran baru selaksa para filsuf reinance yang mencetus tentang bagaimana indahnya dinamika dalam berdialektika dan membangun epistem-epistem kiri.

Rasa sakit itu lahirkan sebuah penolakan terhadap tirani jua majazi hati pada sosok setan yang menjual seonggok daging busuk yang melekat di dalam selangkangan wanita. Bukankah itu adalah sebuah keindahan dari rasa sakit? Nidah kirani menikmati rasa sakit untuk sebuah pembalasan dendam jua penelanjangan akidah bagi jiwa aktivis-aktivis adzan yang merasa dirinya dekat dengan langit juga Tuhan.

Hahahah, bukankah rasa sakit itu hanya hadir jika dalam sebuah luka tak dapat di terima oleh hati dan alam bawah sadar manusia yang di landa rasa sakit itu. Bukankah ia tak mampu mengendalikan rasa dan keinginannya dan memaksakan kehendak hingga ia tak mengerti tentang bagaimana keluar dari kerangkeng yang ia bangun sendiri dalam alam bawah sadar atau pikirannya.

Lihatlah disana, orang yang terkena sayatan sabit saat memanen padi, rasanya tak ada rasa sakit yang ia rasakan. Dan ia tetap melanjutkan pekerjaannya dan menerima segala rasa sakit itu sebagai bagian dari tanggung jawab hidup dalam keterpurukan dan tuntutan ekonomi yang makin meraja, sebut saja biaya kuliah dan SPP sekolah anaknya adalah kerangkeng pikiran yang memakasa pikiran untuk menerima rasa sakit sebagai insyrument untuk sebuah penerimaan terhadap luka. Juga lihatlah si play boy yang tak pernah merasa sakit ketika gadis yang dedang ia kencani sedang di tiduri orang lain di sepinya kamar kosnya, bukankah itu sebuah penerimaan terjadap segala kejadian yang memaksa alam bawah sadar kita untuk merasa tetsakiti, namun mereka mampu menerimanya sebagai bagian dari intrik kehidupan yang harus di nikmati.

Lihatlah seorang pelacur yang tak pernah mau tau tentang dalil dan adab agama jua adab-adab masyarakat. Ia menerima semua hinaan dengan lapang sebagai bagian dari warna kehidupan yamg haris di nikmati. Hinaan bukanlah sebuah luka namun msrupakan kspuasan nafsu di atas tankang empuk. Ia menikmati sewa menyewa dan bisnis tubuh adalah sebuah pengalaman jua pengamalan yang nikmat fanpa harus menguras endrgi dan pikuran untuk ekonomi mikro dan makfonya yamg dntah jua ia mengerti tentang rumusan ini. Ia adalah bukti bahwa rasa skit adalah suatu kenikmatan bahkan di atas ranjang empuk adalah kesakitan jua kenikmatan yang tak tertandingi.

Yaaaa. Luka adalah lahir dafi hati yang tak mamph menerima, tak mampu menjelaskan tujuan dari kehidupan yang ia geluti, hingga tercipta sebuah luka yang menganga dalam hidupnya.
Hahaha Itulah luka, jangan bermain di dalamnya, jika ku tak ingin tersesat dalam penjara yang kau buat sendiri.

Gie
25 Februari 2019
Pena langit di bumi kota tepian air
Inspirasi Kos U