MAPERA NUSANTARA BERSUARA

Foto : Mapera Nusantara Melawan
Peluru pilu di sudut pulau
Terkungkung teriak menuntut palu
Keadilan pengadilan asasi kelabu
Surut kuasa api membara terpilih kata maju

Aparat keparat berfatwa jerat
Gas air mata dan peluru karet
Jejak sejarah bahasa media termuat
Mula malu mau bertaut-paut
Usah usang dongeng telah luput

Mengaum suara harimau
Hari mau petang usang biru
Mari merebah di jalanan pilu
Kita adalah penegak suara hati, usah malu

Represif di ujung timur nusantara
Menuntut peluru siapa yang menanggung penjara
Copot jabatan lumrah adanya
Jeruji besi adalah jawaban tuntutan kita bersama
Harus tegak, harus benar, harus ada
Jika tidak kita akan terbuai mimpi dusta
Ternina bobo oleh sistem adikuasa
Sungguh kekalahan yang nyata

Kita adalah srigala bagi penguasa
Siap memburu para mangsa yang coba berkuasa
Jangan coba adu taring siapa yang tajam
Karena kami bisa sangat lebih kejam
Kecam

Mapera nusantara bersuara
Siap mengaum bagai singa
Menelanjangi jalanan dengan suara lantang
Jangan coba berucap hilang
Sebab laki satu hilang kedua terbilang
Saling
Taring
Giling
Menang

Gie
19 Maret 2019
Pena langit di kota tepian air

Descartes & Gie

Aku berpikir maka aku ada (Rene Deskartes)
Aku menulis maka aku ada dan abadi (Gie)

KEGILAAN

Gila adalah ketidakmampuan lawan bicara (pendengar) memahami apa yang di sampaikan oleh si pembicara

RINDU TAK BERPENGHULU

Foto : Ilustrasi Puisi
Bulan sedang termenung
Di ujung cakrawala
Lazuardi menjelma hitam kelam
Dalam siluet pelita maya matamu
Yang menerangi setiap imaji liar

Bulanku bukan bulan-bulanan
Sebab kesepian atas kerontang adalah cibiran pasti
Terbitkan amarah pada jiwa mati
Akidah lenyap dalam api nafsu pembenci jiwa sufistik
Itulah atheysme rasa

Matahari mata hati mata-mata para mata
Tetap pada bulan bualan penantian
Bulan yang mengitari seluruh galaxi tak lagi peduli pada kisah cinta
Sebab indahnya semu selaksa debu yang ia banggakan
Untuk menggoda para pendamba
Selaksa pungguk dalam malam purnama
Ialah rindu yang di abadikan laila majnun
Rindu tak berpenghulu
Dalam dekap penantian
Abadi
Abdi

AIR MATA DI MEDAN JUANG

Foto : para pejuang HAM
Lelah lunglai di tengah hamparan hutan belantara
Harum kasturi tercium semerbak
Hilang dahaga di sapa angin yang menelisik dedaunan
Matahari tenggelam di tengah rimbun rimba semesta

Sesak menyapa memberi isyarat untuk berlalu
Menjauh dari amukan nurani diri yang tak kunjung mau mengerti
Sebilah harap telah tertoreh namun enggan menjumpai wujud dari asa yang terimaji oleh cita
Namun tetap selalu berharap pasa satu

Angin mengusik kulit
Rambut terurai tersapa angin
Sepoi-sepoi kadang bak kencana
Helai demi helai bertebrangan di tempias muka

Ku tunggu tanganmu di setiap kemiskinan yang melanda
Dari kerajaan hingga penjajahan belanda
Dari romusa sampai proklasmasi kemerdekaan indonesia
Kemiskinan ini tetap kerontang dalam jiwa, bersimpah air mata

Air mata darah di medan juang
Tak terlihat di tugu kemerdekaan
Ia terpendam dalam ego kekuasaan
Jiwa-jiwa mati dan tertindas bukan apa-apa

Jiwa muda para pemuda
Semesta telah mengukir kisah
Sejarah telah mencatat semua
Perjuang kawula muda adalah perintis kemerdekaan