LANGIT TERSAKITI

PUAN PERGI
Foto : ainun yakin
Rindu yang sangat jarang terjadi
Kini datang mengendali merajai
Menjejali setiap andai
Puan siapa dimana yang sangat pandai
Memborgol pikiran dalam-dalam tanpa puisi

Intuisi datang menghampiri
Selaksa pertapa suci yang tengah menyepi
Diri kian sepi pada ramai
Keramaian entah kemana terurai
Sepi sunyi di sudut ini
Ramai damai kan dimana diri
Kelangit mana cakrawala pergi meratapi
Dirimu kini kian pergi
Dari imaji semakin diri menjadi majazi
Hancur mimpi terhadir multatuli

Berlari

Pergi
Menjauh dari dingin yang memenjara diri
Hingga musim semi datang kembali
Membawamu untuk kembali
Menggenggam mimpi kita saat kau putus untuk pergi
Aku masih bermimpi
Disini
Bersama dirimu yang telah lama pergi

Kau siapa aku tak mengerti
Kemana jua aku mencari
Mencari diri pun puan jua dirimu bak bidadari
Hilang lenyap di telan bumi
Langit tersakiti
Aku terhenti
Kita sama-sama tak saling mengenali
Kita harus kembali
Aku disini

Gie
29 Maret 2019
Pena langit di kota tepian air

SANG JANDA YANG SEDANG BERGOYANG

Foto : Ilustrasi Puisi
Setan yang berdiri mengangkang
Di tepi kuburan generasi di kekang
Terbunuh dalam nafsu bezat sang janda yang tak berkutang
Dasar si sinting jalang
Janda lumayan bodi jangan bilang-bilang

Sungguh negeri yang malang
Tepimpin pimpinan bolang
Cari muara macan macam tante girang

Rambut terurai gelombang
Sengaja ter-cat pirang
Lelucon di negeri kalong
Sebab Tuhan telah merestui pelakor melepas kacung
Di ujung malam tanpa bimbang
Sayang
Kita akan segera pulang

Hahaha jangan dulu sayang
Kita lihat sang janda yang sedang begoyang
Di atas kursi tahta moyang
Berdalih tentang sembahyang

Dinasti kerontang
Pangeran rantang datang mengguncang
Mari bersulang

Terhegemoni oleh bayang-bayang
Janji untuk negeri sesejahtera karang
Tanpa sadar mereka adalah pemain layang
Jalang

Terbang benang tak tergulung
Tertunduk gunung dalam palung
Camar burung busung

Ah si maling
Mari bersaing
Kita akhiri pesta poling
Mari tiup seruling miring
Senandung suara para pecinta giting
Bakar bling-bling
Buwling
Pusing

Pangeran ganteng datang menenteng
Janda datang untuk menggadeng
Aku datang untuk menantang
Pesta kita akan segera berakhir di ujung petang
Mari akhiri semua
Kita yang akan terjerumus dalam jurang
Atau kita akan bermain curang
Laksana para maling
Mari kita semua giring
Sebelum kita terhempas oleh garing
Buasnya nafsu lelaki garong

Tawarkan janji setinggi gunung
Gunung kembar terbentuk pada dada si pemulung
Hahaha si sulung sedang menyulung
Mari KPK segera kurung

Gie

26 Maret 1992
Pena langit di kota tepian air

AKTIVIS BERJIWA PRAGMATIS

Foto : Ilustrasi Puisi
Para aktivis berjiwa pragmatis
Sedang di serang oleh rasa dilematis
Berjuang mencapai finis
Di ujung perjuangan yang miris

Semua orang memvonis
Bahwa jalan yang di ambil adalah strategis
Tanpa tau mereka adalah orang fanatis
Terhadap hati yang humoris

Pikiran kronis
Memaksa jiwa patriot terkikis
Hingga perjuang terkilis
Terlindes oleh peradaban milenialis

Sadis

Sementara jangan di gubris
Mereka adalah intelektual tanpa baris
Barisan jalanan di ujang persimpangan majusi

Strategis

Pikiran dan logika kaum shopis
Menang di atas mimbar adalah prioritas
Kesimbongan pada ego sentris
Pintar cerdas jenius
Logika identitas
Devinisi tanpa ujung pada retorika keris

Tragis

Lika-liku di ujung paris
Revolusi kata di ujung garis
Di pintu gerbang bulus
Tanpa rasio yang penting mulus
Kalkulus

DAUN ILUSI

Foto : ilustrasi puisi
Daun ilusi
Para penikmat kopi
Pencetus intuisi-intuisi pada sepi
Hadirkan puisi bersama literasi
Untuk para jiwa-jiwa sunyi
Mari tetap bernyanyi
Mainkan gitar untuk sang bidadari
Kita abadi pagi ini

Ayo bakar kembali
Lintingan masih ada sisa tadi pagi
Tambahkan lagi kopi
Kita mainkan imaji di langit tinggi
Terbang bersama jibril yang sedang menyendiri
Menghibur luka yang telah lama lebam oleh janji
Janji para politisi

Kita jangan mau tertipu wahai generasi
Mari kita bakar lagi daun ilusi
Kita bermain di sini
Di dinding mimpi-mimpi bob marley
No woman no cry
Ayo tony
Kita kembali menikmati mimpi
Menjumpai langit yang metangkul bumi
Kita main di sini
Di bumi tanpa arti
Hidup seratus tahun lagi
Kita abadi

Gie
26 Maret 2019
Pena langit di kota tepian air

MIMPI UNTUK LITERASI BIMA YANG INDAH BAHKAN MENGALAHKAN INDAH(nya) DAMAYANTI PUTRI

Foto : ilustrasi puisi
Kebebasanku kini tak lagi sempurna
Karena rindu kini telah menjelma dalam lara
Menjadikan hidup kini tak lagi bermakna
Pada setiap langkah kaki yang yang kupijaki di tiap bayangan lentera
Kau seumpama belantara
Suaka marga satwa mampu kau bina
Namun tak dapat kau pilih mana yang akan menjadi raja rimba

Mungkin kau akan memilih singa yang akan menjadi raja rimba
Namun sang janda tetap berkiprah di atas malapetaka
Menggerogoti setiap aliran darah sistem janggal yang sedang di tunggangi
Kuda liar dalam nafsu syahwat
Hendak menerjang liarnya nafsu birahi penguasa tahta
Konon katanya adalah dinasti ming-mung-meong

Oh... Iya
Mereka tengah terbangun dari mimpi untuk membangun peradaban literasi Bima
Literasi wacana rencana bencana
Korupsi buku budaya yang enyah entah kemana
Siapa?
Sistem katanya tak mau di tau..!!!!
Selasar ruangmu
Tak beratap namun berdinding
Bergelinding merinding pingin
Naik ke atas atap melepas
Sistem berikrar pada publik

Phobia kataku tak mengerti
Kita bangun litetasi kiri untuk bima yang lebih harmoni

Ogah

Semoga Tuhan tak lupa menulis
Sama sepertiku
Untuk membungkam sejarah dan meruncingkan nalar
Untuk mengingat dosa peradaban
Untuk mengingat pelacur ada di di atas meja istana
Istana para borjuasi yang sedang di serang penyakit busung lapar

Sundi

Kita punya tuan
Kita punya Tuhan
Kita punya raja
Raja singa kata tetangga
Tetangga malang terinfeksi bualan janda
Janda menggoda memperkosa menyebarkan virus
Virus cinta pada setiap sentuhan lembut tangan mulusnya

Aku pun kagum
Kagum dalam program yang entah apa?
Literasi ku akan tetap tergapai
Sang surya dalam darah membara membakar saraf-saraf murni
Hingga menemui langit dalam dekapan bumi
Bermimpi untuk literasi Bima yang indah
Bahkan melebihi Indah(nya) Damayanti Putry

Ini mimpi ku
Dalam hati tak memilih kekuatan untuk yang utama
Tapi Garuda ku ingin cepat terbang bersama semua mimpi dan cita-cita Negeri
Kecerdasan anak bangsa
Keabadian dalam sejarah
Literatur litetasiku

Gie
25 Maret 2019
Pena langit di ujung timur wera