MENGENANG JUBAH KEKACAUAN BIROKRASI

Foto : ilustrasi puisi
Kelak kelakar akan datang
Lelucon malang di tiap kedai
Hamburkan isu di benak para pemimpi
Aktivis hilang dalam gejolak nista
Kawula muda hidup dalam patriot sejati
Namun kemana merebah tak ada tempat
Siapa peduli?

Kasihan sekali
Nasibmu kini hanya menjadi penonton terbaik
Instrument sistem berkiprah di atas karpet merah
Semua bersujud pada wujud tuan Tuhan tua

Ironi negeri yang selalu terjadi
Tragedi trisakti hingga morowali
Kemanusiaan hanya sebatas tinta di atas kertas usang negeri
Hahaha cerita lama yang tak lagi pergi

Kembali
Mengenang jubah kekacauan birokrasi
Negeri dongeng hikayat samudra pasai
Mitos lama di ujung mimpi
Kesejahteran hanya wacana dan janji
Keadilan lebih populer dari dilan 1990 dan para fraksi partai
Mari ceritakan tentang mimpi
Kita adalah garda pembasmi feodalis dan borjuasi
Revolusi harga mati
Revolusi harus mati
Harus siap masuk jeruji besi

Jangan pesimis
Sehelai daun mampu mengguncang istana
Selembar surat mampu meruntuhkan feodalis
Mari bermimpi
Kita akan mengguncang negeri
Sebab kekuatan besar akan terkalahkan oleh kekuatan terkecil apabila kita bisa mengendali
Mengendarai
Kita bisa

#melawan

Gie
30 Maret 2019
Pena pangit di kota tepian air

RINDU KU PADAM DALAM PENDAM

Foto : Rahayu Agustina
Menghakimi cinta yang ada di kepala
Kenapa selalu hati yang tersakiti?
Saat pikiran tertuju pada gelaga
Cinta yang kau tanam di bulan juni

Menulisku adalah jalan mencarimu
Menapaki jalan pikiran yang membawa rautmu
Kempali pada satu titik semu
Kau terangkum murung di sisi hulu
Hendak kemana layar kau padu

Tanda tanya datang pada suratmu
Ayal ayat yang tak pernah ku terjemahkan
Entah apa yang hendak kau maksud
Aku membebani pikiran dengan ribuan pertanyaan

Kenapa?

Rindu ku padam dalam pendam
Sekulum senyum ada di kepala
Meredam gurindam dalam-dalam
Menyelam hingga kedasar antartika

Dingin menyelimuti diri
Peri suci datang menghampiri
Bertanya tentang para sufi
Sunyi jalanku di sisi langit yang tak bertepi

Aku rindu yang di rindui
Dimalam bisu muak ku datang menghampiri
Gadis bisu di pinggir kali
Kalimat ini ku untai untuk sepi

Literasi cara ku merajut mimpi
Mimpi manis sang pujangga rumi
Cinta suci di ujung puisi
Kurajut kembali untuk mu wahai sang bidadari

Gie
30 Maret 2019
Pena langit di kota tepian air

LANGIT TERSAKITI

PUAN PERGI
Foto : ainun yakin
Rindu yang sangat jarang terjadi
Kini datang mengendali merajai
Menjejali setiap andai
Puan siapa dimana yang sangat pandai
Memborgol pikiran dalam-dalam tanpa puisi

Intuisi datang menghampiri
Selaksa pertapa suci yang tengah menyepi
Diri kian sepi pada ramai
Keramaian entah kemana terurai
Sepi sunyi di sudut ini
Ramai damai kan dimana diri
Kelangit mana cakrawala pergi meratapi
Dirimu kini kian pergi
Dari imaji semakin diri menjadi majazi
Hancur mimpi terhadir multatuli

Berlari

Pergi
Menjauh dari dingin yang memenjara diri
Hingga musim semi datang kembali
Membawamu untuk kembali
Menggenggam mimpi kita saat kau putus untuk pergi
Aku masih bermimpi
Disini
Bersama dirimu yang telah lama pergi

Kau siapa aku tak mengerti
Kemana jua aku mencari
Mencari diri pun puan jua dirimu bak bidadari
Hilang lenyap di telan bumi
Langit tersakiti
Aku terhenti
Kita sama-sama tak saling mengenali
Kita harus kembali
Aku disini

Gie
29 Maret 2019
Pena langit di kota tepian air

SANG JANDA YANG SEDANG BERGOYANG

Foto : Ilustrasi Puisi
Setan yang berdiri mengangkang
Di tepi kuburan generasi di kekang
Terbunuh dalam nafsu bezat sang janda yang tak berkutang
Dasar si sinting jalang
Janda lumayan bodi jangan bilang-bilang

Sungguh negeri yang malang
Tepimpin pimpinan bolang
Cari muara macan macam tante girang

Rambut terurai gelombang
Sengaja ter-cat pirang
Lelucon di negeri kalong
Sebab Tuhan telah merestui pelakor melepas kacung
Di ujung malam tanpa bimbang
Sayang
Kita akan segera pulang

Hahaha jangan dulu sayang
Kita lihat sang janda yang sedang begoyang
Di atas kursi tahta moyang
Berdalih tentang sembahyang

Dinasti kerontang
Pangeran rantang datang mengguncang
Mari bersulang

Terhegemoni oleh bayang-bayang
Janji untuk negeri sesejahtera karang
Tanpa sadar mereka adalah pemain layang
Jalang

Terbang benang tak tergulung
Tertunduk gunung dalam palung
Camar burung busung

Ah si maling
Mari bersaing
Kita akhiri pesta poling
Mari tiup seruling miring
Senandung suara para pecinta giting
Bakar bling-bling
Buwling
Pusing

Pangeran ganteng datang menenteng
Janda datang untuk menggadeng
Aku datang untuk menantang
Pesta kita akan segera berakhir di ujung petang
Mari akhiri semua
Kita yang akan terjerumus dalam jurang
Atau kita akan bermain curang
Laksana para maling
Mari kita semua giring
Sebelum kita terhempas oleh garing
Buasnya nafsu lelaki garong

Tawarkan janji setinggi gunung
Gunung kembar terbentuk pada dada si pemulung
Hahaha si sulung sedang menyulung
Mari KPK segera kurung

Gie

26 Maret 1992
Pena langit di kota tepian air

AKTIVIS BERJIWA PRAGMATIS

Foto : Ilustrasi Puisi
Para aktivis berjiwa pragmatis
Sedang di serang oleh rasa dilematis
Berjuang mencapai finis
Di ujung perjuangan yang miris

Semua orang memvonis
Bahwa jalan yang di ambil adalah strategis
Tanpa tau mereka adalah orang fanatis
Terhadap hati yang humoris

Pikiran kronis
Memaksa jiwa patriot terkikis
Hingga perjuang terkilis
Terlindes oleh peradaban milenialis

Sadis

Sementara jangan di gubris
Mereka adalah intelektual tanpa baris
Barisan jalanan di ujang persimpangan majusi

Strategis

Pikiran dan logika kaum shopis
Menang di atas mimbar adalah prioritas
Kesimbongan pada ego sentris
Pintar cerdas jenius
Logika identitas
Devinisi tanpa ujung pada retorika keris

Tragis

Lika-liku di ujung paris
Revolusi kata di ujung garis
Di pintu gerbang bulus
Tanpa rasio yang penting mulus
Kalkulus