JANGAN BILANG : KITA AKAN HILANG

Foto : Bupati Bima
Tanah subur dalam segala macam dedaunan
Tumbuh dalam adat yang saling peduli
Menasehati lalu saling membantu
Musyawarah dan gotong royong
Cerita masa lalu
Dalam dongeng sebelum tidur
Tanah tempat pijakan mantan perawan
Kini menjadi janda ganas dalam mengais rupiah
Puas-puaslah rakyat yang masih rindu akan kegilaan

Maja Labo Dahu kini jadi boikot jalan dengan palang
Ngaha aina ngoho kini jadi subsidi bibit jagung
Nggahi rawi pahu kini jadi hutan-hutan tumbang
Kemana kita harus pulang?

Tiada Rumah tanah kita sedang lapang
Tanah ombak kini jadi gudang
Para elit kini jadi dalang
Kita rakyat malang
Jangan bilang
Kita semua Hilang
Tak ada suara lagi di jalanan
Mimbar jalanan kini di pinjam partai politik
Elektabilitas kepetingan pribadi prioritas ideologi


Sarjana Hukum kini jadi Kepala Dinas Kominfo
Sarjana Pendidikan kini jadi Buruh di pasar
Sarjana tanpa bejana
Bukankan izasah telah ada?
Hahaha dongengin aja K dua
Mereka adalah orang suka bekerja
Meski tidak punya gaji untuk sekedar membeli pulsa
Salah siapa?

Buta huruf 
Buta mata
Buta hati
Punya mereka
Bukan aku
Apalagi kita
Karena kita telah menjadi kami
Yang terhianati setelah bilik suara di peroleh
Jangan bilang
Kita akan hilang


Gie
09 April 2019
Pena langit di kota tepian air

KOLOSAL RASA

Foto : Ibu Doktor (Sang Inspirator)
Terpisah dalam bentala
Petala yang tak mampu di lipat
Terkam bengis tak mampu tertepis
Tajam yang menyayat dalam
Jauh antara antero dan jagat dimensi surga
Kolosal rasa yang tak mampu tertera
Dengan kata apa yang tak tau bagaimana
Pada haru kasih Tuhan yang wanginya tak tercium

Untuk kekasih hayalku
Yang hadirku bukan apa dan siapa
Memagari tidurmu dengan do'a
Agar kau selamat dalam perjalanan jauhmu

Sungguh

Merangkul langit inginku
Mengutuk matahari bukan aku
Merawat bulan citaku
Meredam luka hidupku
Menghapus ego nuraniku

Namun

Kata-kata ku tersendak
Kalimatku hampa
Aku tak mampu berucap
Hanya intuisi yang ku rangkai dalam puisi
Mampu ku untuk menguntai
Setelahnya
Aku tak lagi punya
Tenaga dan kekuatan untuk menggerakkan
Segala aksara adalah ketiadaan
Dan
Aku bisu

Suatu apa yang hendak tertanya
Hilang akal dalam menjawab
Pikiran tanpa arah kemana
Kini semu mati terjerambab

Kemana apa aku siapa
Rasaku adalah mata tanpa kata
Kelana kala senja
Mengejar gelagat silau lentera
Bermunajatku Pada semesta
Hadirmu yang sementara
Jangan lagi memberi luka
Sebab hati telah lama kenyang dengan sayatan cinta

Salam malam dalam kelam
Mengusikmu dengan kalam
Semoga kau dapat mengkhatam
Segala luka yang telah lama ku pendam
Agar tak lagi kau buat legam

Semoga engkau adalah Doa
Yang terucap oleh semesta
Saat mendengar ratapan hati
Pada jiwa yang telah lama sunyi

#pengagum buta
Gie
09 April 2019
Pena langit di  kota tepian air

MIMPI SANG AKTIVIS

Foto : Aktivis Inspirasi
Aku belajar dalam sunyi, memahami dilema-dilema manusia yang mendekap dan memeluk tubuhnya sendiri demi bisa berpikir menyikapi segala persoalan yang ia hadapi. Dilema dalam sunyi memberi isyarat hati agar tetap tenang dan tetap mengenang di setiap inci arah putaran jarum jam yang kita lewati, memahami semua, merangkai semuanya menjadi sesuatu yang bermakna meski itu hanyalah sebuah ilusi belaka yang tak pernah tenang ketika tersentak dalam kesadaran dimensi sendiri.

Sementara bagi para filsuf langit, mereka berdilema dalam satu fase pertapaan sunyi, membezakan semua yang hak dan yang batil, memaknai semua skenario langit, yang kemudian mereka wakafkan tubuhnya pada penghambaan yang hakiki, dan menjadi majazi sejati pada Tuhan dan keyakinan yang mereka yakini.

Bukankah Kita adalah orang-orang yang berjalan di luar nalar manusia, kita tak mengikuti pandangan siapapun, namun kebenaran yang kita anggap benar adalah jalannya jalan yang harus kita tempuh.


Ah, mimpi kadang tak indah jika sudah terbangun dalam pelukan tempat tidur. Kita adalah pemimpi untuk mencapai hal yang sama bukan? Bermimpi melihat Nusantara jaya dalam segala hal yang akan menjadi cerminan bangsa-bangsa lain yang ada di dunia?

Ya.... Seharusnya kita adalah orang yang akan sangat bahagia, tanpa harus melibatkan lingkaran hitam yang ada di setiap mata kita, karena tidak tidur karena menahan pilu dalam rindu. Menjejali malam dengan sumpah serapah yang mematikan malam tanpa kehadiran sang terkasih ketika rasa ingin bertemu itu hadir di dalam hati dan pikiran kita.

Seharusnya masa depan kita adalah cerah, sebab tak saling memikirkan antara satu sama lain,  yang kian membuat kita buta. Tapi kita lebih memilih untuk tetap pada satu pendirian yang meyakini bahwa kita berjodoh namun doa kita belum terpaut dalam tangan Tuhan yang akan menyatukan kita. Kita memilih untuk saling bercinta dengan teori-teori dunia yang memecahkan kepala, lalu berdiskusi di atas meja kedai kopi sambil mengisap batangan rokok yang mungkin kita bagi satu sama lain dalam satu batang.

Seharusnya kita sadar kita adalah garda terdepan Bangsa yang akan membawa perubahan bangsa kita kepada arah pembaharuan yang lebih maju. Memikirkan setiap gerak dan geopolitik dan kestabilan Negara, pun jua keamanan dalam kancah dunia. Namun kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal besar untuk berlangsungnya umat manusia dengan penerapan juga penyatuan teori-teori barat dan timur agar terpadu dan terciptanya keseimbangan informasi, sehingga dalam penerapan wacana untuk kemajuan peradaban mampu kita langsungkan dengan sebuah pergerakan pada mimbar jalanan.

Seharusnya masa depan kita selalu dan akan cerah, menuai mimpi dengan penyatuan hati pada satu cita dan cinta yang akan di saksikan oleh para petani. Kita berdua dalam satu altar mengikrarkan satu janji suci di depan para wali. Bercerita tentang perjuangan kita masa lalu sambil menanam benih-benih padi di sawah, lalu berjalan bergandengan tangan di pematang sawah hingga para petani lain cemburu melihat kita.

Seharusnya pernikahan dan masa depan kita  tak serumit jaman ini, tak perlulah kita memasang pelaminan yang megah, juga memboikot dan memblokir jalanan kota dengan tenda, tanpa memikirkan hati para pengguna jalan yang getam karena pesta kita mengganggu perjalanannya.

Seharusnya pelaminan kita adalah padi yang menguning, yang menjadi bunga pengantin atas restu alam pada mimpi kita. Dan Seharusnya kita adalah dua hati anak petani yang akan bermadu kasih di atas pematang sawah setelah para petani memberikan doa restu pada upacara sakral kita.
Seharusnya kita
Semoga

Gie
08 April 2019
Pena langit di ujung senja

JIKA SESUATU BUKAN SESUATU

Foto : penulis
Adalah jika sesuatu bukan bumi
Adalah sesuatu bukan matahari
Adalah jika sesuatu bukan bulan
Adalah jika sesuatu bukan planet
Adalah jika sesuatu bukan kita
Adakah lagi yang akan kita kenali?
Kita terkungkung dalam satu bait kolosal
Zigot mati tertimbun tanah di bumi
Matahari hilang cahaya di terpa api
Planet berhamburan ingin pergi
Kemana kita berpangku
Kita tak pernah sampai pada satu
Kenikmatan murni ada pada jasad semesta
Lalu kita akan berkata masih belum, atau sudah tidak?
Bukankah kelahiran adalah dari ketiadaan yang ada? Lalu kenapa kehadiran selalu menjadi sakit ketika perjumpaan berada di ujung kata pulang yang tak akan kembali?
Bukankah bumi, matahari, dan ribuan penghuni galaksi adalah milik semua pemilik?
Lalu apa hak kita memaknai pemilik dengan penentuan?
Tidak.....!!!!!!
Kita adalah sesuatu yang fana
Dan yang abadi adalah keberadan

Gie
07 april 2019
Pena langit di kota tepian air

RINDU YANG TERBENTANG DI ATAS LANGIT

Foto : Rena
Wahai rindu yang membentang di atas langit yang tak bertepi
Kuingin menggapai dirimu di atas sana
Ku terbangkan apolo-apolo kepastian tuk menggapai hatimu yang tak bertiang

Betapa
Pun hati ini telah terpaut oleh sosok yang bersemayam dalam jiwamu
Ku ingin merajut dua kalimat dalam satu kata untuk aksara-akasa butaku
Untuk semua intuisi yang menghadirkan raut wajahmu dalam pikiranku

Matamu multatuliku
Aku kerontang dalam syahadat cintaku
Aku terkulai layu dalam binar matamu
Aku tergores hatiku ingin merangkulmu
Aku ingin kau jadi bagian dari diriku

Tatapan matamu membentur dinding kalbuku
Terasa ada gemuruh yang tak mampu terelakan
Dalam hatiku yang ingin berontak menerjang untuk pergi merangkulmu
Namun didi diriku tak sanggup melakukannya

Ratapan kasihku pada sosokmu
Sosok yang sekali bertemu namun menyimpan sejuta kenangan
Kenangan pada binar matamu yang indah
Yang memenjara jiwa bebasku untuk tetap terkungkung di bawah majazi oleh senyummu

Rangkain kataku tak mampu menerawang
Sedalam apa endapan terpendam dalam hatiku yang inginkan dirimu
Namun yakinku
Aku sudah tak tau lagi diriku
Sejak aku menatap matamu
Aku mati dalam hadirmu

Gie
TAMAN AMAHAMI
06 April 2019
Pena Langit di kota tepian air