SEBAB MEKARMU HANYA SEKALI

SAJAK GADIS SUCI
Foto : ilustrasi puisi
Suara gaok di atap rumah
Seorang ibu masih terlihat belum sadar
Terjatuh saat mendengar berita
Seorang anak sedang hamil muda

Aduh

Siapa ayahnya?
Jaddah
Jawab hati yang sedang miris
Menatap ironi jaman kini
Moral telah kritis
Hamil luar nikah jadi idaman hati

Seorang gadis terpasung
Dalam kamar ia gegaok
Meratap menunggu jawab sang penista
Memasang kelamin tanpa kasih
Pada perawan yang terenggut
Malam pertama hilang dalam satu pertemuan
Hangat malam hening
Kamar kosong tanpa penghuni
Kasihan ibu pertiwi
Tanah ternista oleh air mani

Kembali
Ingin bunuh diri
Namun rahim tak kosong lagi
Dua nyama terenggut dalam satu tragedi

Berpikir dua kali
Lebih baik yang belum lahir korban peristiwa ini
Jadilah darah berceceran di malam sepi
Bayi suci kini telah mati
Gadis manis yang sudah tak suci
Membunuh dengan aborsi

Sajak gadis suci
Yang terenggut perawan oleh bualan janji
Terpasung dalam mimpi-mimpi
Sementara sang kekasih telah pergi
Hilang setelah menikmati
Indah dan harumnya melati

Melati layu dalam buaian mata keranjang
Hilang di atas ranjang
Dengan nafsu garang
Singkirkan keindahan sarang

Sayang

Sebab mekarmu hanya sekali
Mekar merekah telah hilang dengan satu mimpi
Di persunting untuk menjadi
Istri terkasih kini hanya korban janji
Kepastian tanpa pasti
Harus ada yang mati

Adab biadab

Gie 10 April 2019
Kamar kos Penembakan
Pena langit di kota tepian air

KATA-KATA HAMPA

Foto : penulis sedang membuat lampu tidur
Aku bukan perangkai kata
Tapi aku hanyalah pengagum aksara
Kata-kata ku hampa jenderal
Aku tak mampu berimaji dalam prosamu
Aku adalah makna yang tak dapat ku artikan
Aku adalah diriku yang dalam kehampaan
Aku adalah ketiadaan

Aku bukan tuan bagi diriku
Pikiranku tak tertandingi oleh imajiku
Aku liar dalam semua warasku
Aku adalah sesuatu yang tak bisa terkendali

Aku masihlah waras
Namun kewarasnku bukan untukmu
Tidak juga untukku
Namun hanya untuk maknaku
Makna puisi yang tengah ku rangkai
Untukmu
Juga hatiku

Belum ada judul #masih amburadul

Jatuh cinta adalah sesuatu yang wajar bahkan lumrah, namun untuk memberikan cinta yang benar-benar tulus atau yang di sebut dengan cinta sejati adalah hal yang paling rumit dan sulit, sebab kepastian dalam menjlaaninya sering kita jumpai kebanyakan dari srtiap insan selalumemikirkan akal rasio dari pada memikirkan apa yang di rasakan oleh hati, lalu bermunculan ribuan petanyaan apakah itu cinta?
Banyak yang coba menjawab dengan bentuk peryanyaan juga.
"Apa itu cinta? Apakah hanya sebatas letupan rasa di ujung netra yang menelanjangi raut dan kemolekan postur tubuh lawan jenis?"
"Apa itu cinta? Apakkah dua kedipan mata yang salaibg bertatapan dengan senggama tangan yang bercengkrama di sudut malam dengan kesepian yang mencekam lalu menelanjangi imajinasi pada satu frasa surga?"

Sebenarnya apa itu cinta?.

ementara kita menunggu cinta yang akan di mulai, tanpa kita sadar itu adalah akhir dari penantian karena mereka telah dimiliki oleh pemilik. Cinta itu telah hilang bersama penantian kita yang tak mau mengutarakan dan mengungkapkan cinta yang kita punya terhadap orang yang kita inginkan.

Tak ada sesuatu yang bisa hadir dan datang tanpa ungkapan, sebab bagaimanapun cinta harus di ungkapkan dan wanita butuh itu, yaaaa... Butuh kepastian terhadap seorang pria yang mau mengatakan langsung dengan lantang yang menjejal di telinganya. Wanita butuh kepastian, wanita butuh pria yang jantan, sebab itu bijaklah dalam mencintai seorang wanita, karena mereka adalah hal terumit dari segala soal. Mereka adalah pemusnah logika filsafat, penghapus rumus fisika dan pembunuh rumus kimia, sebab mereka selalu lebih rumit dari segala rumus yang di ciptakan oleh para ahli ilmu pengetahuan. Mereka adalah Rumusan masalah yang tak punya sokusi dalam mencari kodrat dan hakikatnya, sebab mereka adalah rumusan Tuhan bukan rumus sains dan IPTEK.




JANGAN BILANG : KITA AKAN HILANG

Foto : Bupati Bima
Tanah subur dalam segala macam dedaunan
Tumbuh dalam adat yang saling peduli
Menasehati lalu saling membantu
Musyawarah dan gotong royong
Cerita masa lalu
Dalam dongeng sebelum tidur
Tanah tempat pijakan mantan perawan
Kini menjadi janda ganas dalam mengais rupiah
Puas-puaslah rakyat yang masih rindu akan kegilaan

Maja Labo Dahu kini jadi boikot jalan dengan palang
Ngaha aina ngoho kini jadi subsidi bibit jagung
Nggahi rawi pahu kini jadi hutan-hutan tumbang
Kemana kita harus pulang?

Tiada Rumah tanah kita sedang lapang
Tanah ombak kini jadi gudang
Para elit kini jadi dalang
Kita rakyat malang
Jangan bilang
Kita semua Hilang
Tak ada suara lagi di jalanan
Mimbar jalanan kini di pinjam partai politik
Elektabilitas kepetingan pribadi prioritas ideologi


Sarjana Hukum kini jadi Kepala Dinas Kominfo
Sarjana Pendidikan kini jadi Buruh di pasar
Sarjana tanpa bejana
Bukankan izasah telah ada?
Hahaha dongengin aja K dua
Mereka adalah orang suka bekerja
Meski tidak punya gaji untuk sekedar membeli pulsa
Salah siapa?

Buta huruf 
Buta mata
Buta hati
Punya mereka
Bukan aku
Apalagi kita
Karena kita telah menjadi kami
Yang terhianati setelah bilik suara di peroleh
Jangan bilang
Kita akan hilang


Gie
09 April 2019
Pena langit di kota tepian air

KOLOSAL RASA

Foto : Ibu Doktor (Sang Inspirator)
Terpisah dalam bentala
Petala yang tak mampu di lipat
Terkam bengis tak mampu tertepis
Tajam yang menyayat dalam
Jauh antara antero dan jagat dimensi surga
Kolosal rasa yang tak mampu tertera
Dengan kata apa yang tak tau bagaimana
Pada haru kasih Tuhan yang wanginya tak tercium

Untuk kekasih hayalku
Yang hadirku bukan apa dan siapa
Memagari tidurmu dengan do'a
Agar kau selamat dalam perjalanan jauhmu

Sungguh

Merangkul langit inginku
Mengutuk matahari bukan aku
Merawat bulan citaku
Meredam luka hidupku
Menghapus ego nuraniku

Namun

Kata-kata ku tersendak
Kalimatku hampa
Aku tak mampu berucap
Hanya intuisi yang ku rangkai dalam puisi
Mampu ku untuk menguntai
Setelahnya
Aku tak lagi punya
Tenaga dan kekuatan untuk menggerakkan
Segala aksara adalah ketiadaan
Dan
Aku bisu

Suatu apa yang hendak tertanya
Hilang akal dalam menjawab
Pikiran tanpa arah kemana
Kini semu mati terjerambab

Kemana apa aku siapa
Rasaku adalah mata tanpa kata
Kelana kala senja
Mengejar gelagat silau lentera
Bermunajatku Pada semesta
Hadirmu yang sementara
Jangan lagi memberi luka
Sebab hati telah lama kenyang dengan sayatan cinta

Salam malam dalam kelam
Mengusikmu dengan kalam
Semoga kau dapat mengkhatam
Segala luka yang telah lama ku pendam
Agar tak lagi kau buat legam

Semoga engkau adalah Doa
Yang terucap oleh semesta
Saat mendengar ratapan hati
Pada jiwa yang telah lama sunyi

#pengagum buta
Gie
09 April 2019
Pena langit di  kota tepian air