ASTA SEMESTAKU

Foto : ilustrasi puisi
Pada kata hujan
Semesta ku bernyanyi
Menyeruak ingin menjumpai
Melewati batas dimensi
Melipat jarak pada ilusi

Mengenang angka sembilan
Jam dinding terus berputar
Mengelilingi lingkaran 360
Uratku masih belum kurang
Derajat yang sama pada diagram jari-jari
Lingkaran pembunuh
Dalam satu tak pernah pergi
Membuntuti
Selalu berkejaran
Ingin pergi
Tak kuasa
Tetap terkungkung
Dalam satu
Terpuruk
Sendiri

Pada asta semestaku
Menikam buhum dalam-dalam
Pualam menepuk menumpuk pupuk
Kian memburuk
Haluan pikiran kian membusuk
Terpuruk

Kerinduan pada jiwa sunyi
Ingin menepi di ujung lilin
Pelita masih menerangi melati
Di dalam kholbu masih ingin terjalin
Seuntai doa terucap dalam hati
Semoga mengabulkan permohonan
Aamiin

Gie
16 April 2019
Pena langit di bumi pai

NYANYIAN PARA CALON

SEBENTAR LAGI
Foto : ilustrasi puisi
Dalam satu laga
Para kolega ber-elegi
Sukses yang gagal
Menang yang kalah
Mimpi yang nyata
Liga gagal dalam bilik pemungutan
Kasihan

Ada yang hanya di antar depan siloam
Ada yang di jemput oleh sumber waras
Ada yang di Tahan Bawaslu
Ada yang di bekuk KPK
Ada yang di tangkap oleh polisi
Ada yang tenang menyemangati diri
Ada yang duduk menunggu mati
Ada yang sedang belajar Undang-undang
Ada yang sedang belajar pakai dasi
Ada yang gerah memakai kemeja mahal
Ada yang tidur di pinggir trotoar
Ada yang sedang menulis puisi

Sebentar lagi
Sebelum pertiwi meringus payah
Bijih-bijih perutnya di gerogoti robot teknologi

Sebentar lagi
Setelah ikrar di depan mahkamah konstitusi
Aturan kembali di revisi
Limbah pabrik siap mengotori
Ikan-ikan punah akibat cemaran limbah

Sebentat lagi
Aktivis menagih janji
Setelah berkoar dengan orasi
Kita akan dapati amplop di bawah laci

Sebentar lagi
Rakyat kembali dikibuli
Jalan rusak jangan peduli
Yang penting hutan bisa di reboisasi
Setelah jagung di bagi gratis untuk petani
Kini pencitraan kembali ke persoalan erosi
Setelah daerah otonomi sendiri-sendiri
Pemerintah sibuk mencari-cari
Siapa yang dengan sudi
Menanam investasi
Untuk hasil bumi
Di kebiri

Ginanjar Gie
16 April 2019
Pena langit di bumi pai
Inspirasi pulau ular

INGAT MATI

Foto : ibu dok
Kehadiran maut merupakan isyarat bahwa kehidupan di dunia akan di lanjutkan dengan kehidupan yang Hakiki. Mautlah yang akan membangunkan manusia yang sedang terlena dengan kesenangan sementara, hingga paham bahwa kesenangan dunia adalah sesuatu yang fana dan yang akan memberi ganjaran siksa ketika berada pada fase pertanggung jawaban di dalam kuburan.

Kubur merupakan tempat kediaman, Tanah adalah tempat pembaringan, Cacing menjadi taman, Mungkar dan Nangkir sebagai sahabat yg menilai amalan, dan yang siap menjadi pemberi dan memperlihat segala sesuatu yang akan kita sdrapatkan setelah hari pembalasan di hari kiamat nanti.

Hari kiamat merupakan waktu yang telah di janjikan, yang akan datang tanpa manusia tau dan pasti akan meluluhlantakkan dunia dan segala macam isi dalam semesta. Sedangkan syurga dan Neraka merupakan rumah masa depan bagi setiap jiwa manusia..!

Maka dari itu, sesungguhnya hanya insan yang berakalah yang bisa memahami bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan sesudah mati setelah yaumil mahsyar atau yang kita kenal dengan hari pembalasan.

Jadi marilah kita mengingat bahwa Kubur dan akhirat merupakan dua destinasi yg mesti di tempuh oleh setiap insan, yang menjadi tempat dan hunian abadi bagi jiwa semua manuasia. Jadi Hanya dengan menunduk dan beramal ibadah kepadaNyalah yang mampu menyelamatkan diri dari kesengsaraan hany hakiki di akhirat kelak

#Coretan_Malam
Oleh ibu dok

JANJI LAGI : KITA HIDUP DALAM BUALAN ILUSI (Cobra Sahara)

Foto : ilustrasi puisi
Dalam naungan waktu
Wajah terpaksa di tata berkamusflase
Untuk sebuah senyum sinis
Dari manisnya senyuman
Yang di hiasi lesung pipi yang indah
Dengan gigi mentimun
Menata bahasa agar di nikmati
Kepercayaan tentu yang paling di harap
Meski diri sendiri tak mempercayai
Apa yang ia ucap sendiri
Muak dengan politik janji
Atas nama rakyat dan kesejahteraan
Namun kesejahteraan hanya milik kaum malam di dalam kamar prostitusi
Sementara di kolong selokan bau amis mayat tertimbun
Di atasnya trotoar tempat Pena Langit menulis syair
Berdoa agar simiskin dan preman jalanan punya kesempatan
Mendapat surga di dunia pun di akhirat nanti

Janji lagi
Kita mati dalam bualan ilusi
Menikmati satu bahasa pemanis di ujung bibir dan lidah kobra sahara
Sementara lemari baja sedang di bobol para penjahat elit
Kita sedang tak waspada
Menikmati buaian mimpi para pemimpi yang hendak ingin jadi pemimpin

Nb: politik_buta_hati
Gie
14 April 2019
Pena langit di kota tepian air

ilo_peta

KHATULISTIWAKU YANG MANIS

Foto : ilustrasi puis
Buana semakin tua
Kita tetap pada kungkungan semesta
Perlindungan anak hanya sebuah asa
Perawan terobek dalam satu adegan asmara
Dimana Bhineka berkuasa?
Warna yang kita tawar berbeda selalu dan harus dengan paksa
Dimana lagi Pancasila tertanam dalam jiwa?
Berbeda keyakinan masih saling mencerca

Keharmonisan dalam berwarga negara
Cita-cita proklamator tercinta
Namun politik milenial memaksa
Merumuskan sendiri tentang makna
Hak asasi terjual di ujung senjata
Bahkan berjenggot di cap teroris musuh negara
gila....!!!!!

Kiri di tuduh sosial komunis
Kanan di tuduh neoliberalis
Di ajak berdiskusi malah bilang sudah finis
Rasa optimis telah di rombak menjadi pesimis
Miris

Lihatlah dalam kacamata paris
Menara tinggi sang borjuis
Makin tinggi jadi tempat strategis
Menumpuk dada para feminis
Stadium lima kata para pakar psikologis
Yang kecil di luar garis
Ambil aja kartu sembako gratis

Katulistiwaku yang manis
Indonesiaku humoris
Negaraku yang makin narsis
Generasi ku yang makin miris
Tiris
Lalu aduk bumbu supermasi
Baris-berbaris menunggu terpanggil antri
Para calon raja saling tawarkan janji
Kartu sehat, kartu sembako, kartu gila, kartu maling, juga kartu polusi

Gie
14 April 2019
Ilo peta
Pena langit di kota tepian air