TERHASUT DUNIA

Foto : ilustrasi puisi
Ku dapati kekejian ibu kota
Di dindin-dinding terminal kemunafikkan terpendam
Tiga puluh ribu cercaan sia-sia
Ibu gemuk setan tanpa kain bersuara telanjang
Datang tergopoh layaknya mopo
Tanpa lubang jalan ia terjatuh dalam dunia
Hingar bingar telah menutup mata
Mata hati kini pada kepuasan hawa nafsu
Kesemuan

Manusia
Hilang nilai adab dalam diri
Binantang mengalir dalam darah
Nafsu menguasai
Memperbudak
Menggibah
Memfitnah
Melacuri warna dunia
Matikan nilai kemanusian
Manusia yang hilang kemanusian

Binatang
Apa bedanya?
Tak ada
Hanya rupa
Raut
Jalan
Setelah memakan teman yang lemah
Yang kuat menjadi raja
Singa di hutan bekantara jelmaan jiwa
Manusia manusia
Manusia macam manusia
Manusia macam malaikag
Manusia macam binatang

Terhasut dunia
Lupa akhirat
Surga neraka potret kusut
Cerita usang di atas meja perjudian
Zarasthustra nietzsche
Hilanglah tuhan
Matilah aqidah
Keyakinan hanya ada di ujung bibir
Pemanis kata untuk para politisi
Sementara matilah rakyat yang memilih
Sengsara

Apa bedanya
Ibu gemuk di terminal
Elit politik
Semua sama ingin menguasai
Nafsu berkuasa
Menguasai aliran darah
Bosan..!!!!


Gie
20 April 2019
Pena langit di bumi pai
Inspirasi gunung keramat

VERTIGO MENYERANG KEPALA

KISAHMU
Foto : Angel
Kamu yang sedang berduka
Dalam dekap gelagat senja
Kita tercerai oleh gelap
Dalam kisah yang sama-sama pengap

Untai teruntai untuk berbisik
Selepas dahaga tawarkan oase
Langkah gontai kaki yang telah legam oleh jalan
Trotoar kota mana yang tak pernah terinjak
Semua jalan-(jalan) kita bukan?

Ini kisah kita
Bukan kisahmu
Kisahmu kutulis di ujung sajak
Agar dunia tau
Kita sama
Kita satu
Dalam album orkestra semesta
Kita sama
Kita satu
Dalam satu skenario langit

Kisahmu :
Lalu vertigo menyerang kepala
Kisah unik tertanam dengan duka
Lupakan kata terakhir yang terucap
Setelah terpelanting tubuh terebah di tanah
Manja kata paling tak berguna
Berguguran kemelut cahaya
Hitam kelam masa silam
Dingin kehidupan terjalani dengan tersengal

Nyanyian kematian terangkai di buku diari
Kenapa terlahir bayi tanpa kasih
Menjelma dalam tubuhku yang rapuh
Memar di badan bukan lagi soal cinta
Kenikmatan dalam dekapan entah terbuang di negeri mana
Sakit luka dan darah
Bukan
Sakit hatilah yang membawa ku kesini
Di negari yang tak aku kenal
Melepas penat di ujung ajal yang tak kunjung datang

Ayah
Kata sampah
Ibu
Kata neraka
Rembulanku adalah Bumi
Cahayaku adalah kematian
Dimana semua yang ku harap
Bahkan maut berkhianat kepadaku

Diari
Ya
Lembar demi lembar mengabadikan lukaku
Luka oleh ayah
Sakit di tinggal ibu
Merasuklah dalam jiwaku wahai sang ifrit
Aku menunggu hitammu
Ku gugat semua luka ini
Ku tunjukkan bilur yang telah bernanah
Agar menjadi cambuk kenangan
Kesuksesan tanpa mereka akan aku raih
Bukan
Bukan itu.aku butuh kasih sayang
Bukan harta
Bukan kesuksesan
Aku butuh rangkulan cinta

Phobia
Menikam kepala semua peristiwa
Amnesia yang terharap hanyalah sia-sia
Jaddahkah aku?

Cerminku
Mata dan telinga adalah kepunyaanya
Bukankah hanya jiwaku yang berbeda
Lantas apa?
Siapa?
Kenapa?
Jawaban..!!!
Tak ada yang sanggup
Bahkan cermin tetap diam
Dalam tabah aku menatap
Semoga jawaban adalah kembali
Kepangkuan ibu
Kepangkuan Tuhan
Kepangkuan surga

Namun

Aku terhempas di tepi malam
Tanpa Ayah
Tanpa Ibu
Tanpa kasih sayang
Aku anak semesta
Yang terbung oleh rahim suci
Untuk ku
Untuk surga
Aku tawarkan jiwa ku untuk neraka

Gie
19 April 2019
Pena langit di bumi pai
Inspirasi panen padi

MANTRA SUCI

Penulis sedang melakukan pengendalian energi
Gagak terus ber-geok
Terseok-seok dengan leok
Mookkkkk
Sapi betina tergorok
Persembahan pada golok
Sesembahan jampi sereok
Jorok

Infra terpancar
Di atas kuburan tetangga
Azimat dan wifik bernyanyi
Dapatkah di dapatkan
Kebenaran cahaya yang terpancar

"Sukma lara sang insani
Hentak-hentak bani adami
Benak kalut roh semesta
Tunduklah-tunduk kau langit dan bumi
Aku memanggil jiwa semesta
Merasuklah dalam ragaku
Menyatulah"

Mantra suci
Hanum harum kasturi
Zamrud melekat
Zaitun menetap
La haula wala quwwata illa billah

Gie
19 April 2019
Pena langit di bumi oi tui

GURUI AKU

SATIRE
Foto : buku antologi penulis
Karya untuk masa lalu
Kalimat melow ala melayu
Karya meluncur bak jet yang melaju
Tak terkendali seperti peluru
Menancap indah ke arah yang di tuju
Gurui aku
Sebab pasti kau tak mampu
Melawan pikiran yang kau anggap dungu

Hahaha
Manusia
Tak punya bakat dalam berkarya
Hanya mampu berdialektika
Menyerang lawan dengan vonis tanpa data
Dia pikir menang dengan kata
Tanpa kerja
Bukti usaha
Capaian kesuksesan yang luar biasa
Kau hanyalah sampah Bangsa dan Negara

Pasti bisa ku jangkau
Meski kau telah lampau
Akan ku kejar dalam waktu
Ku jadikan semua orang menjadi guru
Untukmu
Untuk sebuah pencapain agar tak semu
Ku buktikan padamu
Aku adalah aku
Yang tak bisa kau jebak dengan logika hampamu

Menelan peluh
Pikiran yang telah keruh
Di usia yang hampir paruh
Aku tak lagi ingin menjadi buruh
Terperintah jadi budak pun di suruh-suruh

Aku ingin merdeka
Bebas dari segala intervensi manusia
Aku ingin liar dalam berkarya
Tanpa harus di kungkung semesta
Yang kau tawar di ujung kata

Kini saatnya aku naik
Ke puncak tanpa jarak
Dengan Kemampuan yang telah di pacak
Pasti aku kan marak
Tapi kau jangan galak
Setelah aku berada di puncak

Kesuksesan hanya punya ku
Kau jauh
Kembali mintalah uang pada ibumu
Karena kau hanyalah babu

Gie
18 April 2019
Pena langit di semesta pai

TERUSLAH GILA

Jadilah gila dan buatlah dunia tertawa padamu, niscaya kau adalah kehidupan semesta yang akan merubah dogma peradaban yang telah hilang.