DOA DI BALIK MEGAHNYA GEDUNG PROSTITUSI

Foto : ilustrasi
Ada doa di balik megah dan tingginya gedung prostitusi
Ingin bebas dari belenggu neraka
Doa yang tak sempat terikrar
Ia terpendam nun jauh dalam kholbu
Hendak apa kemana ia merebah
Dosa tertelan di atas ranjang empuk

Ada doa di balik jeruji
Seorang pecandu terpenjara karena membunuh diri
Membunuh generasi dari dalih mereka
Sedang di dalam megahnya kantor birokrasi
Tangan besi siap membunuh seluruh hak rakyat

Ada doa di balik gubuk peot di pematang sawah
Seorang lelaki buta terkantuk menunggu istri
Di sana-sini tak ada cahaya
Ia melamun meratap diri
Doa terkabul mata tak mungkin bisa lagi
Melihat apa lagi

Ada doa di pinggir trotoar
Sang penyair jalanan yang sedang membaca
Suara semesta tengah berbisik
Lihai pada dunia
Hilanglah adab pun etika jua estetika
Terlindes peradaban produk milenial
Terlahir dari rahim kapitalis
Generasi tanpa produksi inovasi
Terbunuh dengan keji di atas meja warung internet

Ada doa di balik puisi
Semoga kau berkata dan berteriak sepertiku
Disini sana
Kita terbitkan fajar kebenaran di bumi mbari
Kita hidupkan peradaban di tanah sanggili
Mari berjanji

Dana ma mbora
Dana ma mbari
Kerajaan yang hilang di tanah Bima
Adalah simbolis dunia peradaban mulai
Kembali di rajut untuk sebuah reinance ketiga
Benahilah
Beranilah
Gie
23 Mei 2019

JALAN EKONOMI MIRIP LAMPU EKONOMAT

Foto : Penulis

Tuan
Ratu
Tahan
Malu

Kami menanggung
Pentas di atas panggung
Kami yang di pasung
Kami jua di suruh mulung

Dinda
Kanda
Janda
Kangginda

Turun segera
Serahkan jabatan
Kami tengah meminta
Tolong di indahkan

Tuan
Ratu
Pai ada

Di pinggiran
Perbatasan kabupaten pun propinsi
Di selat sape
Pulau ular

Mutiara
Hasil alam
Hasil laut
Kami punya

Lantas pembanguna mana yang kau beri
Haruskah para infestor asing yang membanfun jalan kami
Jalan ekonomi mirip lampu ekonomat
Tiga hari di pakai langsung mati
Mati
Gie
24 Mei 2019
Pena langit di bumi pai

AIR MATA

Foto : ilustari puisi
Di sayat mata yang tak tertuju
Terpendam rendam dalam lembah mata
Mengalirkan deraian musim semi
Di sisi gelap lembah masa lalu
Ingin menggapai bukit alaska

Dalam jemari yang sedang menari
Di sudut malam dua wakaf terjerat
Pergi kembali untuk pulang
Lalu lalang tanpa makna
Sementara
Semesta matamu masih membekas
Di dalamnya ada luka

Disisiku
Ada kau yang tak ku temui
Di puncak dua belas
Kita hilang dalam air mata
Tenggelam dalam masa lalu
Tak lagi saling menyapa
Kita hilang dalam tatap yang saling berpaut

Kau punya pilihan untuk pergi
Sedang aku punya pilihan untuk tetap bertahan
Kita di lembah semesta yang tak tertawan
Kita sama-sama punya pilihan di dalamnya yang jelaga siap menanti
Lanjutkan saja karena kita adalah periode yang tak di batasi oleh konstitusi.
Gie
17 Mei 2019
Pena langit di kota tepian air

MEREKA ADALAH CINTA

Foto : ilustrasi puisi
Bacalah syairku dinda
Jadilah tiada
Sebab Tuhan tiada Ada
Dimana-mana semua sua akan asa

Menyipit mata yang terapit
Jatuh bangun sebelum terjangkit
Kita sama ingin bangkit
Maka bangkitlah sebelum disapit

Serunai mengalun sendu di antara bukit
Jadilah anak pingit
Kita adalah anak buaian langit
Satu di antara sekelumit

Disana banyak tak terhitung
Tak terjumlah mengalahkan situng
Tuna wisma
Tuna netra
Tunas-tunas bangsa

Mereka adalah kita
Mereka adalah cinta
Mereka adalah agama
Kita satu dalam satu akidah bangsa

Ikutlah dalam satu majelis
Bacalah syair-syair mukhlis
Kalam terbaca dengan manis
Bacalah
Ketahuilah
Agama cinta adalah islam
Gie
16 Mei 2019
Pena langit di Kota Tepian Air
Kota Bima di ujung pena

PETA DALAM DIRI

Foto : ilustrasi puisi
Masih disini
Mencari dirja dalam kendali
Menggiring pikiran untuk intuisi
Sebilah kata yang ingin pergi
Meramu menemui
Hilangkan peta dalam diri

Satu adalah alif
Penyatuan antara dada dalam tiga kaf
Kelingking penanda satu
Ibu jari terhimpit menyatu
Kita tengah sama-sama
Mencari masing-masing

Sebelum tiba akal
Kita temui bekal
Yang tersekap nun jauh di dalam
Tercantum indah pada kalam
Salam
Gie
14 Mei 2019
Pena langit di bumi pai