Dekapan Aksara

Foto : ilustrasi puisi
Rasa yang bergema dalam dada
Merintih tak bersuara
Berbisik tanpa kata
Mengharap tanpa pamrih
Padamu yang ku jabat waktu lalu
Di ujung senja kenangan

Kumbang-kumbang memberi warna sebelum putik sang bunga di buahi
Di buali dengan sakti
Memaksa perih hadir di jiwa
Menyakitkan

Mendekap dalam dekapan aksara
Diamku memaksa imaji
Terbang bersama reruntuhan harap yang masih sempat tersemai
Atas doa dalam rindu yang kini ku rajut
Meski hadirmu hanyalah bualan fatamorgana

Mendekaplah dalam dekapan aksara
Diamku memaksa imaji
Terbang bersama reruntuhan harap yang masih sempat tersemai
Atas doa dalam rindu yang kini ku rajut
Meski hadirmu hanyalah bualan fatamorgana

Menghardik yakin akan diri
Menemui cakrawala tanpa ujung
Memujamu meski bak penjarakan diri
Resiko mencitai selalu membuai kata iming
Dalam diam aku mengandai

Ratapan Kematian

Foto : makam
Kematian adalah bencana
Kiamat bagi para jiwa
Memberikan duka bagi para kolega
Meraih abadi di dalam syurga
Semoga kita adalah orang nya

Merintih sakit siksa
Dunia gelap akan dosa
Yang mendarah tak nyata
Dalam hati selalu dirasa

Pada siapa harus meratap
Dinding sudah tertatap
Kain kafan sudah terbungkus tetap
Tanah dan papan sudah menjadi atap

Ditempat yang lembab
Dingin diselimut gelap
Diri diselimut azab
Karna amal tak merangkap

Dalam suasana pengap
Tubuh yang terengah
Mohon ampun atas khilap
Namun telat sudah menjadi telah

Berlumuran keburukan
Didunia menyalahkan
Kini tinggal kekhawatiran
Dilupa amal kebajikan
Meratap adalah jalan
Terakhir adalah penyiksaan

Guratan Aksara Mati

Foto : ilustrasi puisi

Aku yang begitu lama menanti suara surga
Mendamba pengharapan sampai pada tujuan
Namun hanya aku
Kau
Tidak juga

Waktu menelanjangi segala keyakinan
Jiwa kini hendak ditidurkan dalam pembaringanan abadi
Kau
Tidak juga memahami

Jika tidak pada syahdu lafaz indah mu
Adakah guratan aksara mati yang hendak kau sampaikan pada buta ku
Dalam aksara-aksara hampa yang tengah ku nikmati

Agar aku paham dan setidaknya melihat
Di mana?
Ada suara surga yang tak sanggup di ucap bibir manis mu

Aku terbiar berdiri sendiri pada jalan berkabut bayang mu
Aku terbiar untuk memahami bahwa aksara ku hanya harapan hampa
Torehan rasa dan tintaku hanya untaian aksara basi
Buta.
Bahkan mati
Aku tetap ada juga tiada

Sebut Saja Para Pemburu (Berpetualang)

Foto : Para petualang sedang menuju Pulau Ular
Taken by : Bryan
Aku terluka
Aku Bermain rima
Aku bermain kata
Kau bermain rasa
Ucapku dalam kalimat tanda tanya
Pikirmu..!!!!!!

Aku disini bermain-main
Tanpa kau tau bahwa dalam setiap permainan terselip rindu yang bukan main-main
Karena rasa tak sebercanda itu
Karena rasa adalah hati yang berilusi 'tuk meraih
Karena rasa adalah kenikmatan setiap jiwa penikmat

Sebut saja kopi
Sebut saja candu
sebut saja puisi
Sebut saja para pemburu

Berpetualang...

Mereka adalah penikmat dalam meraih
Meski harap belum mampu menjabat dalam nyata
Karena yang tertuang dalam cangkir adalah pekat
Karena yang terlihat adalah gemetar tanpa aditif
Karena yang terbaca adalah syair bualan
Karena yang terhampar ialah hutan belantara

Namun jauh di dalamnya
Sang penyair menulis dengan hati
Bukan dengan tinta apalagi pikiran
Sang kelana mengukir dengan cita bukan dengan persepsi

Buntu
Ya kebuntuan
Tanpa mengenal waktu
Tanpa melihat paruh
Dalam diam yang tak mengenal kasih biru
Sang celoteh berbicara layaknya orator ulung

Seharusnya kau tau
Kau bisa membaca dari kesamaran
Bahwa ada hasrat yang terpendam disini
Bersama dengan perlakuanmu yang sengaja menitipkan rindu pada kesemuan
Karena hadirmu adalah mimpi yang tak pernah bisa ku untaikan lewat apa-apa
Sehingga bisa menatap rautmu dalam nyata

Sulit di lukis dan dirasa
Sketsa Rindu kian menggebu
Mencabik nestapa berkali-kali
Sakit ini coba teredam dengan rendaman asa

Ya....
Memang
Tidak semua kenyataan senikmat pemandangan
Tidak semua Indra perasa sesuai kenyataan
Karena semua yang kita lihat belum tentu benar.
Maka dalam samar imaji menatap skenari tak terlihat
Dalam buaian rasa yang mungkin sengaja mengkhianati.
_Ginanjar Gie_
22 Agustus 2019
^Kopi_kenangan

TERANGILAH HIDUPMU DENGAN AL-QUR'AN

Foto : ilustrasi puisi
Alunan lagu bersenandung di sebuah rumah
Hingga bulu setiap telinga yang mendengar berdiri bersama tertil yang sempurna
Fatimah binti khatab sedang terpada bersama sa'ad bin zaid di dalam kamar
Lalu Umar datang bersama kebengisan pedangnya
Hendak membunuh sang adik yang telah mengkhianati kaumnya sendiri
Namun potongan kalimat suci yang selaly di jaga oleh langit tak menghendaki umar untuk membunuh fatimah bersama adik iparnya
Umar bahkan berikrar salawat ketika mendengar alunan potongan ayat suci yang di bacakan oleh fatimah

Adik-adik ku
Ayat pertama telah memerintahkan sang baginda Syaidina Muhammad untuk membaca
Al-alaq adalah jalan untuk pengetahuan adik-adikku
Maka bacalah atas nama Tuhanmu

Bacalah
Ayat-ayat Alquran itu terasa indah menggetarkan hati

Saat kau latunkan dengan nada Tartil
Dengan Makhroj hurufmu yang Begitu fasih
Juga Hafalanmu yang begitu mengesankan hati

Duhai Adikku
Pelajarilah AlQuran Karena Allah
Mencintainya juga karena Allah
Dan Hafalkan juga untuk Allah

Sebab, Kenapa?
Karena DIA yang mengizinkanmu mampu menghafal

Aduhai Adikku…..
AlQuran itu tinggi derajatnya
Dekatilah dan berteman dengannya
Jangan pernah berteman asal-asal saja
Sebab Dia takkan rela menggiringmu keNeraka

Aduhai Adikku…….
Hiasilah Dunia ini dengan Syair-syair indah Allah
Terangilah Dunia ini dengan cahaya Al-Qur'an
Lengkapilah ilmu pengetahuamu dalam memahami isi Al-Qur'an
Ginanjar Gie
09 Desember 2018
#Nb
Puisi ini pernah di bacakan saat pengkajian dan acara pengajian yang di adakan oleh masyarakat Bolo.
pada saat itu, seorang ustadzah dari Jakarta yang mengisi materi dan kajiannya.