Kisah Kita

Kisah Kita
Oleh : Pena Langit
Waktu yang kian tak berjarak
Namun kita semakin di arak
Tiap setiap yang kita lakukan selalu marak
Mungkinkah sang tetangga yang coba membajak
Seiring waktu berjalan
Kau aku menjadi semesta
Hanya bersua pada kolosal suara
Intrik-intrik sunyi di depan kanvas tua
Tak ada lagi mawar antar pertemuan
Lapuk usia jua lapuk usai
Kita ingin menjumpai pisah
Hanya saja hati ini tak ingin lagi berpaling
Jauh
Sangat jauh
Nun jauh disana
Jarak yang memisah
Jeda yang mematah
Pemisah tubuh dalam wadah
Tinggalkan juntai jumpa di ujung sumpah
Kau telah berubah
Sepenuhnya telah menjadi yang lain
Kudapati dingin di setiap tatapmu
Kudapati liar saat bual bahasamu
Kau mencoba membuatku berpaling
Dengan sifatmu tanpa kata
Mendiamiku tanpa apa-apa
Namun aku tetap tak menggubris
Aku mungkin saja tahu
Bahkan sangat tahu tentang maumu
Kau yang telah berubah
Sifatmu yang telah lain
Namun aku selalu berpikir dua kali
Aku lebih baik menerima kamu yang telah berbeda dari pada harus mencari orang yang berbeda.
Itu saja
03 Sepetember 2019
Ginanjar_Gie
^Kopi_kenangan

Dalil Demokrasi

Dalil Demokrasi adalah :

Bukan tentang skandal seksual.
Tapi siapa yang mampu memberi data aktual.

Bukan hanya sekedar buang sial.
Tapi mampu mengatasi masalah sosial.

Bukan tentang Sang Ratu yang punya hasrat Binal.
Tapi tentang Hasrat membangun infrastruktur yang kekal.

Bukan tentang Siapa yang punya finansial.
Tapi tentang siapa yang punya taring dan juga terkenal.

Karena Demokrasi adalah tentang Bijaksana dan mampu bersikap adil.
Bukan hanya berbicara na-ni-nu tanpa dalil.

Karena Demokrasi adalah pertumbuhan ekonomi dengan di tandai kemajuan daya jual.
Bukan tentang pencitraan yang berujung cikal bakal tangan nakal.

Karena Demokrasi adalah tentang Pemimpin yang punya intelektual.
Bukan yang hanya bisa tebar janji dan selalu membual.
Ginanjar Gie

Luka Kian Menari

Kehadiran yang menyisakan luka
Kini kembali datang menggenggam harap
Menanti asa yang dulu pernah tertinggal
Jauh di sana kini menjadi mimpi harap-harap cemas

Luka kian menari
Memberi harapan jua kenangan
Kemana aku bawa luka hati
Pun jua cinta di hati

Kenangan harapan dan cinta
Melebur menjadi dilema
Di satu sisi kita jua pernah sama-sama luka
Kini haruskah menjalin untuk kembali memeluk kembali harapan itu?

Tanya

Kemanakah kita?
Haruskah ku tinggalkan luka lebam yang pernah ada
Atau haruskah 'ku terima mimpi dengan menenggelamkan luka
Dilema

Dalam sunyi
Aku menyelami mimpi
Memeluk selimut sepi
Sakitnya luka bisakah di perbaiki
Ataukah lagi akan menjadi kenangan
Bersama sisa napas langkah kita

Sampai ini
Sampai saat ini
Aku masih menanti yang pasti
Darimu atau dari jiwa yang benar-benar punya hati
Untukku
Untuk menemani hatiku
Selamanya.

Kenangan Dalam Dawai

Foto : ilustrasi puisi
Lekuk sosok sang terdamba
Di liuk-liuk bayu menyapa
Menoreh kenangan di atas kepala
Ingatan demi ingatan hampir lalu pamit

Hilang pergi datang kembali
Berlalu lalang tanpa perintah
Hadir selaksa burak
Pulang selaksa kilat

Kenangan dalam dawai
Bunyi-bunyi yang tersembunyi
Dalam dendam dendang sinden
Terhanyut jiwa terbasuh payah
Menyatu bersama selendang sutra
Sutra hitam pemberi ketenangan
Pun kenangan

Kembali..!!?

Senar sunyi tanpa suara
Berdendang tanpa kata
Melolong tanpa kuasa
Mengharap dalam asa
Semoga

Ucap kita yang tak sempat bersuara
Dalam dekap doa-doa sekap
Kita sama-sama memilih mati
Demi ego
Kita lalu bercerai dan hilang
Tanpa kabar
Tanpa kata
Tanpa pena
Gie
01 September 2019
08 : 50 pagi
^Kopi_kenangan

IRIAN BARAT YANG INGIN HILANG

Foto : penulis
Lok : tanah merah jakarta
Aku Kini berdiri di padang gersang
Dengan dua identitas yang tak teridentifikasi
Di kepalaku berwajah manusia
Dihatiku lebam oleh kera

Kera sakti telah kera-sukan
Bibit-bibit benci dari liur yang tak terjamah oleh adab
Menghukum nurani nun jauh lebih perih
Tertembak mati lebih mulia dari pada hidup di semak belukar nusantara

Lihatlah Tiang yang telah patah
Terbayar dengan konflik yang amat tegang
Sang saka tetap berkibar
Ban bakar telah menghiasi aspal
Masing-masing kita punya dendam

Pesan terpampang
NKRI harga mati
Perlahan semua semu mati
Kobar mengobar dendam bersama api
Api cinta bersama dendam
Lama telah di bungkam hati
Tersulut propa penopang

Dimana kini mereka bersandar
Satu sisi monyet mengandai
Satu sisi kera menyerang
Kita sama-sama tak kasat mata
Melihat sesuatu dalam gelap
Siapa di balik tragedi ini
Tragedi memilukan negeri
Satu kata pemecah kesatuan
Kini menjadi api yang menelan korban
Bahagia sang propagandis
Indonesia di telan duka
Nestapa dalam tanda kutip
Bahwasannya Irian barat kini akan kembali tenggelam
Bersabar wahai bung Karno
Perjuanganmu kembali di duduki
Mungkinkah ini akan kembali
Entahlah
Gie
31 Agustus 2019
Kos vivian