Luka Bertubi-tubi

Foto : Penulis
Lelahlah hari
Kau memberi lagi satu sayatan kasih
Menikam berkali-kali hingga luka mengulam pedih
Saat langit senja menari dalam tuaian kemilau jingga

Kenikmatan kasih yang telah hilang dalam ikrar sahabat tengah ku urai dalam puisi
Segala intuisi beserta kenangan telah menyatu dalam makna kata-kata
Berharap sunggik dari kasih sayangmu datang memapahku
Namun kau tak jua mau mengerti

Kau buta dalam penglihatanmu
Ambisi ingin di mengerti tetatp terdalih dalam gerak bibirmu
Sementara jauh disini
Pikiranku Nun jauh di ujung semesta
Bersama sahabatku yang kini terbang ke nirwana

Kenikmatan dalam membelai telah ku pelajari
Memeluk sunyi dari tungku yang di bakar sendiri
Hingga tak sempat ku berjabat dengan rindu
Kepergian dan kehilangan kembali menyambuk hati

Lalu
Kenikmatan mana lagi yang harus ku telusuri
Sementara segala lara telah ku telanjangi
Hati nelangsa dalam buaian mimpi
Jua sakit akan kata pisah dari hati yang di harap untuk menemani saat pedih

foto : Penulis
Kemana lagi kaki akan memapah
Kemana langkah akan terarah
Penjuru kota telah habis
Bekas tapakkan bisa kau lihat di pinggir trotoar

Langkah
Langkahilah
Sudahi perjalanan ini
Tiada ada tujuan dalam pencapaian
Selalu kata hampa yang datang menghampiri

Luang
Luangkanlah waktu
Lihatlah aku disini
Bersama luka yang makin melebam
Bersama mimpi yang tengah tak pasti
Menunggu sempat untuk hadirkan takdir dalam pangkuan
Agar kebahagian tiba di masa yang akan datang
Meski tidak dengan wajahmu
Tapi dengan jiwamu yang telah memenjara kehiduapanku
Doaku

Nostalgia Lara

Foto : ilustrasi puisi
Lantunan adzan berkumandang mengiringi kepergian
Mengantarmu pada liang lahat
Pada pembaringan abadi setiap jiwa
Yang terikrar di tiap falsafah kehidupan

Teriring air mata di atas nisan
menjumpai pedih yang terketuk dalam batin
Semburat senyum persahabatan kian menertawa
Kenang-kenangan membawa pada cakrawala yang hilang

Tuhan...
Bukanku menyalahkan takdir
Bukan pula ku kutuk sabdamu
Bukan juga ku gugat kasih sayang dan rahmatmu

Namun...
Tuhan....
Inikah sakit yang tertawar dari setiap skenario takdirmu
Inikah bukti dari cinta yang kau cipta untuk penyatuan
Inikah balasan atas setiap kasih kita pada manusia
Inikah yang di rasa untuk setiap untaian tali rahim yang terikat pada kata persahabatan


Mengapa?
Mengapa harus ada pertemuan
Jika pertemuanberujung perpisahan
Memberikan luka
Menanam benih-benih kepedihan
Mematikan hasrat dan nafsu pada setiap yang menumbuhkan saraf

Tuhan....
Tak terwakilkan kata sakitnya
Telah kehabisan kalimat untuk mengurainya
segala dilema atas kepergian sahabat yang baru saja kemarrin menemaniku minum kopin sambil mengsap rokok di tengah kebekuan malam
Bercerita tentang pahit manisnya perjuangan dan tentang kenikmatan dalam berorasi untuk sesama

Kenangan itu
Segala kalimat motivasi
Semua retorika yang menginspirasi
Teukir dan tercatat dalam pikiran

Ahhhh
Kembali
Sebutir embun yang tak di undang hadir di sudut pelipis
Menemui bayang wajah sahabat yang kini telah tiada
Meracuni rasa yang ingin kembali  bercengkrama
Atas ide-ide jail yang pernah teucap dalam canda setiap kita bersama

Rasanya...
Kenapa harus ada rasa yang demikian
Kenapa Demikian sesakit ini merelakan kepergian
Bukankah kemarin kau memerintahkanku untuk belajar?
Kemarin kau mengocehi segala perbuatan yang melanggar untuk di perbaiki

Namun
Hari ini kau diam membisu seribu bahasa
Bahkan teriak dan isak tangisku di telingamu tak kau hiraukan

Apakah kau tuli?
Sobat........
Bangunlah
Mari berdansa denganku dalam alunan lagu kebangsaan
Suara kita adalah suara yang akan menggetarkan istana

Ayo sahabat bangunlah
Jangan diam
Jangan mebisu seperti ini
Bangunlah.....

Ya..... Tuhan...
Gilakah aku
Hilangkah kewarasanku?
Kenapa tak kau bangunkan ia
Kenapa kau renggut kehidupannya

Tuhannnnnn

Seribu kali kata waras ada di kepalaku
Namun kenangan ini berjuta kali menyambuk derita
kepergianna adalah kehilangan keseimbangan kehidupa
Maka kembalikan ia dalam bentuk yang sempurna
dalam reinkaarnasi untuk penemani hidupku
Bukan wajahnya
Bukan jiwanya
Tapi anak yang sedang di kandung istrinya tolong selamatkan ia sebagai pemberi hidayah untuk menyembuhkan segala luka bagi orang-orang yang telah di tinggalkan.

Rabbana atina fiddunniya hasanah wa fill akhirratil khasanah wakina azzabarnar






TENTANG YANG HILANG

Foto : ilustrasi puisi
Semua berlalu tanpa makna
Seseorang yang terharap jadi pelipur lara
Kini pergi meninggalkan luka
Memberi sakit sesakti Bara

Bermula pada ambisi
Ingin memiliki cinta dari sang tambatan hati
menjadikan diri terbunuh sepi
lalu lalang begitu ia tetap pada pelukan sunyi

Mendekapku dalam penantian abadi
Berharap abdi menjadi sisi pembaringan hati
Atas rasa yang kian menjadi
Menjadikan diri ini sebagai sanduran hati

Sungguh
Kau berlalu tanpa kata
Kabar tiada ada
Kemana kamu aku tiada
Tau apa tentangmu sama siapa

Tolong
Lihatlah
Palingkan pandangan untuk sekedar menoleh
Ada hati di sini yang tengah menanti
Bersamamu hadir sebagai pelipur lara

Datanglah
Buatlah rangkaian kataku menjadi bermakna
Karena Puisi ini ku tulis untukmu
Untuk hatiku yang telah di culik sepi
Atasmu yang pernah singgah lalu pergi

Lihatlah
Serangkai kata kini telah menjadi Rima
Menuangkan segala pilu kenangan yang ada
Jauh sudah telah ku tempuh masa
Menjalin cinta di atas bahtera
Namun kini telah tenggelam di dalam samudra
Bersama irama jemari dalam karya

Setalah sekian luka yang telah terawat dalam hari-hari yang di lewati
Kini aku mulai ber-intuisi
Untuk krhadiran secara utuh dalam pikiranku juga dalam hidupku
Harapku
Gie
10 September 2019
^Kopi_kenangan

Kenalan Di Dunia Ghoib

Foto : ilustrasi puisi
Dalam malam yang gelap, kulewati hutan-hutan kota yang telah tersulap menjadi tempat muda-mudi bermadu kasih.
Ku temui seorang gadis yang memanggilku dengan siulan mesra di balik batang pohon lebat, sedang aku adalah pemyda kolot yang baru saja pindah ke kota.
Aku mendekati arah gadis yang bersiul dengan mesra, bersama keberanian yang terkumpul sedari tadi dengan rasa gemetar ku selami tangannya, dengan wajag yang di pasang se so sweet mungkin.
"Ujang" ucapku sambil menyodorkan tangan kepada gadis tersebut.
sang gadis menjaeab dengan suara yang seakan mendesah
"Laras"
Percakapan dimulai, dari sabang sampai merauke habis sudah di bahas, lalu kami terdiam karena telag kehabisan kalimat untuk di bicarakan.
Si laras kbali membuka suara dengan nada yang sedikit dipadukan seperti para penyanyi Jazz
"Ujang nama panjangnya apa"
Dengan sedikit tersipu coba ku rangakai maksud pertanyan, yang kemudian ku tepis dengan mimik muka yang mengajak untuk bercanda.
"Bujangan ras" jawabku
Laras tak mau kalah, rupanya ia lagi sensitive, tanggapannya sangat menakutkan hingga bulu kuduk mulai berdiri.
Ia tak segan membuka sabuknya sambil memasang muka garang yang seajan melahap, kemudian berkata.
"Laras panjang" Sambil memperlihatkan senjatanya di balik selangkangan.
Perasaan takut yang tak terduga menyerang diriku, keringat dingin berkucuran di malam dingin membasahi bajuku. Dengan seribu alasan tanpa pikir panjang yang melebihi laras panjang mengambi langkah lalu berlari.
Laras tak mau kalah, ia mengejarku dengan senjata yang tak kembali di masukan dalan sarung, lalu berteriak "jangan lari" sambil mengejarku dan terus mengejar.
Aku kelelahan, tak ada tenaga, tak ada ide, dalam situasi gawat darurat bahkan melebihi tanda plus yang ada di atas ruang operasi.
Laras masih berteriak sambil mengejar dari belakang, sedang aku telah masuk kedalam semak-semak berduri guys.
Malam gelap yang hanya di tertawakan oleh bintang, si laras yang tengah mengejar dan terys mengejar berada di belakangku, aku terus berlari, di tengah nafas yang tersengal-sengal, konsentrasi rada buyar, aku berlari dengan kecepatan tinggi hingga membawa aku pada jurang kematian.
Aku terjatuh dan berteriak minta tolong dengan suara yang lantang. Kemudian aku terbangun dengan suara yang masih tergaung dalam ingatan juga gerakan mulut.
06 September 2019
Ginanjar_Gie
^Kopi_kenangan

Sedang Tak Ingin Menulis

Foto : ilustrasi puisi
Sedang Tak Ingin Menulis
Oleh : Pena Langit

Jauh ku lampaui waktu
Di sudut bibir-bibir pantai telah tertelanjangi
Samudera lepas landas dalam tabir cadas
Vulkanik menyapu lazuardi di sudut lima
Mata kepala jadi saksi
Mata hati jangan ditanya...!!!
Kemuskilan memutar waktu menjadi tombak nestapa
Ketakutan mengungkap tabir menjadi tonggak-tonggak tua yang tak ternila
Ketakutan akan rasa mengiba nasib dalam-dalam
Ketakutan pada wajahmu menghukum nurani kemerdekaan
Laungkan kata pada kataku
Aku ingin menikmati gerak bibirmu
Dalam satu lafaz cadel satu huruf
Mim-pi dan harapan adalah pertemuan
Asa
Masih jauh
Sangat jauh
Jauh langkah
Jauh mimpi
Jauh kata
Jauhilah bisa bisa-bisa
Sebab luka yang terawat dengan diam akan berbuah dendam yang menyakitkan
Memberi seribu peluang untuk dekat
Memberi sejuta peluang untuk berajak
Jauh tak berjarak dekat tak menyatu adalah kita
Ketahuilah
Pengetahuanku melebihi hatiku
Namun logika tak pula mampu untuk menetralisir
Segala polemik berkecamuk di atas arasy
Nafsu pun enggan memberi perintah
Selesai usai ku wakili
Semu-semu terbuang percuma pada dinding-dinding dingin
Terpendam terendap bersama bulir embun
Pagi jua tak tau mau menyapa dengan apa
Jauh
Sangat jauh
Semua telah kulewati
Bahkan kata lewat masih tak sempat melewati
Di satu titik tanpa kata dan tanpa suara
Disana pembaringan semesta menyetubuhi pikiran didi diriku
Ketahuilah
Sedang kupikirkan pikiranku
Sedang ku telusuri indra perasa ku
Namun yang ada aku tak merasa
Rasa-rasa kini bagai perasaan
Aku sedang tak ingin menulis
Namun wajah pena bercumbu denganmu dalam kepalaku
Kepala yang mana jangan di tanya
Sebab kepala asumsi pun konsumsi kita beda persepsi
Lihatlah ini malam
Kata-kata tak terangkai yang telah menjadi paragraf
Sedang penulis enggan memegang pena
Sketsa-sketsa wajah kini mulai buram
Hilang ilalang di balik nasib malang
Kau tau
Kuwakili dan ku akhiri dengan tinta
Bahwa semua pengetahuanku tiada ada
Jika pertimbangan adalah kamu
Bersama takdirku
Camkan
Sajak Gie
06 September 2019
^Kopi_Kenangan