Mimpi

Foto : ilustrasi puisi
Perlahan keraguan mulai tumbuh
m
Memupuk rasa takut yang kian mematahkan semangat
Memenjara imaji tetap terkungkung
Lafazkan kata perkata dalam satu yakin

Tanya
Masih bertanya

Apakah harus jiwa ini tetap menjadi musafir ataukah pencarian ku akan tersendak oleh gulana dari bingkisan jiwa
Ataukah melepaskan semua ini
Lalu menghilang bersama pintasan cahaya

Masihku terjemahkan
Lain yang mengingatkan telinga
Tafsiran tanpa batas
Jagad tak mampu memapah
Namaku jauh terlampaui

Ku sudah semuamya
Kembali ku pada satu
Harapan pada mimpi
Impian
Yaa
Meraih mimpi merupakan impian semua jiwa
Namun bagaimana jika dlm menggapainya terbentang mistis yg tak pernah terbaca
Bingung
Gie
13 November 2019
^Kopi_kenangan

GENERASI PRAGMATIS

Penulis
Jubah kebinatangan
Alih fungsi jadi perangkai puisi
Sementara bait tengah di tuang dalam liarnya jiwa
Sastra kini hilang nilai etika maupun estetika

Loakkan adalah kata yang paling baik
Terucap fatwa dalam lingkaran cangkir
Kuping gelas kembali di raih
Sssstttt nikmat kopi tak senikmat sampahnya pikiran kalian

Mengambil alih alur pikiran
Mengabdi pada pikiran orang lain
Tanpa sadar pelacuran di kuasai nafsu
Rangkaikan saja satu bait 'tuk meraih sang jelita
Ucap kata tanpa takut
Meng-aku-kan diri dari cipta yang di ciptakan pikiran orang

Kasihan
Generasi pesimis
Generasi pragmatis
Ingin rasanya kembali membaptis
Agar setan-setan yang ada dalam darah serakah terbunuh oleh ilmu yang di transfusi
Bosan
Ingin hilang
Ingin memaki
Namun aku hanyalah pengajar
Tidak pendidik
Apalagi terdidik
03 Oktober 2019
Ginanjar Gie
^Kopi_kenangan

Keterpurukan wajah di Negeri Dongeng

Foto : ilustrasi puisi
Siapa yang di salahkan jika Negara begini?
Siapa yang bertanggung-jawab jika bangsa saling menuntut?
Siapa yang harus bergerak?
Siapa yang harus diam?
Siapa yang akan di tuntut?
Siapa yang akan menuntut?

Mahasiswa bersuara
Mereka teraniaya
Mereka di bungkam
Korban hegemoni sang hitam
Papua bersuara ingin merdeka
Sebagai korban RKUHP wujud pengalihan
Pasukan bersenjata di tarik kembali membunuh mahasiswa
Sipil bersenjata biarlah membunuh kawan-kawan pribumi
Suku-suku kembali membuat kubu
Kotak-kotak pahaman radikal menggugat mereka
Siapa bersuara di bunuh dengan kejam
Kasihan para pengaman Negara
Korban busur dari bualan PBB
Hak Asasi yang akan menjadi syarat berpisah dari NKRI
mari membaca aksara yang tak tertulis
Di balik mimpi membangun Negeri
Kepentingan mesiu dan bubuk hitam faktor utama
USA dan Jerman saling tebar kepentingan
Jakarta jadi persembahan darah
Darah mahasiswa yang terpropagandis oleh kepentingan penggerogot perut ibu pertiwi
Hahaha
Mari membaca
Tetap pada huruf-huruf yang tak pernah tertulis
Kita tunggu tanggal Dua Puluh
Bangkai manusia akan berguguran di jalanan
Masing-masing membela kepentingan
Siapa cepat dia dapat
Penggilingan
Penggulingan
Kita akan lihat wajah siapa yang akan terpuruk
Tunggu saj sejarah buram akan kembali tercatat
Syarat kepentingan masih tetap yang paling utama
Masyarakat sadar nilai akan kembali di wacanakan
Syarat terbentuk Negara berkemajuan
Negeri dongeng tetap bermain dan bernaung dalam setiap pikiran
Sudahlah
Titip saja semua cinta pada harapan
Kita bangun kembali semua yang telah rusak
Revolusi demi revolusi akan kembali di gaungkan
Yang jadi orator akan menjadi elit politik
Syarat inilah setiap dinamika terjadi
Mari lantunkan kalimat bual di atas mimbar
Demi rakyat kita turun ke jalan
Demi nama kita korbankan darah kawan
Ironi negeriku
25 September 2019
Ginanjar Gie
Kopi_kenangan
Ratapan malam yang menyayat kalbu
Tangis seakan jadi teman sejati dalam kesunyian yang sendu
Diam dalam gelap harapku
Seakan menjadi kesepian abadi dalam jiwaku
Kehampaan jadi lukisan duka di hatiku
Bila kumerindukan dirimu....

Negeriku Katanya

Puisi untuk negeriku
Negeri yang katanya Permusyawaratan perwakilan
Negeri yang katanya bersistem Demokrasi
Negeri yang penguasa dan elit politik yang katanya membawa perubahan

Katanya adil dan makmur bagi seluruh rakyat indonesia
Katanya Kemerdekaan mengantarkan rakyat kedepan pintu gerbang kemakmuran
Yaaaaa
Negeriku Katanya..!!!!

Dalam tanda tanya kita mau kemana
Revormasi menuju demokrasi
Demo yang tak berujung ada di pinggir jalan
Parlement jalanan menuntut keadilan
Jawaban dari ketidak adanya jawaban
Dari negeri ku yang katanya
Pemberi janji tiap periodesasi
Elit-elit bangsat yang senang membual

Lembaga-lembaga penuntut umum di bangun
Bangunan elit habiskan uang nagara
Dalil demi dalil pencitraan penunjang nama
Akhir kata lepentingan pribadi dan kelompok yang menjadi prioritas

Pembangunan intelektual lagi-lagi hanya wacana
Akal sehat di bungkam dan di penjara di bawah kubangan
Intelektual di buang di pinggir selokan
pendidikan jadi praktik kapitalisasi kaum borjuasi

Demokrasi adalah dalil periodesasi
Luka lama kembali terulang setiap Pergantian periode
Siapa yang berjanji siapa yang melaksanakan
Tak ada jalan untuk kembali percaya akan syarat kepemimpinan

Negeriku demokrasi
Untuk kekuasaan segala cara untuk di halalkan
Termasuk jual kepala
Pun bayar perkepala

Lembaga-lembaga umum kini mulai Bungkam
Tanpa alasana suara berikhtiar
Kerja nyata membangun sumber daya hanyalah wacana
Demokrasiku yang hampa