Biarkan Sang Waktu Berlalu

Selamat pagi Tangsel kini aku rindu
Rongsokkan
Tak ada yang peduli
Kekiri-kekanan tanpa ada hirau
Siapa juga peduli
eks.

Dalam rinai ranum hari
Panas Jalan Berteduh pohon dalam pengapnya aspal licin
Membludak pikiran rentan tentang satu
in

Jalan-jalanan seharusnya masih sepi
Namun Sesak menyeruduk tanpa henti
Hilang ilalang dalam naungan firdausi
Rapal demi rapal kini naik tanpa bukti
on

Hmmmmm
Sudahlah
Ikhlaskan saja

Biarkan pagi datang
Biarkan sang waktu berlalu
Sebab hadir  yang terharap adalah doa yang tak pernah terkabul.
Gie
12 sep 2019
#kecewa
^Kopi_kenangan

Politik Rahim Kepentingan

foto : potret Bimaku
Janin-janin terlahir dalam rahim tanpa dosa
Dogma-dogma terlahir dari kubangan nista
Terpenjara makna dalam kesepakatan
Warna-warna kubu penjara kebebasan
Ego kesemestaan terbunuh dalam rahim kepentingan
Mencengangkan
Gie
24 sep 2019
#edempa
^Kopi_kenangan

Sorot Mata Yang Memuakkan

foto : ilustrasi puisi
Sekejam inikah hidup
Setiap mata yang tertatap Adalah luka yang menyayat
Membubuhi kenikmatan dengan kesakitan
Kesaktian yang mencabik
Dari sorot mata yang memuakkan

Lesung pipi yang memberi racun
Senyum sumringah yang membabat logika
Kemenangan yang kau dapat
Kebohongan di ujung gincu yang kau tawari dalam bait-bait setan

Hari demi hari terlewati dalam alunan merdunya suara
Auman yang membangunkan tidur dari lelap yang menjumpai mimpi indah
Tiap setiap bisikan ruh adalah nikmatnya hari
Entah dengan apa harus melewatkan waktu

Ahhhhhhhh
Iblis betinaku
Kau pembual yang menyesatkan
Benci...!!!!!!!
Gie
06 Oktober 2019
^Kopi_kenangan

Pena Langit Dalam Intuisi Puisi

Pena langit saat tampil bersama peserta juara satu sampela mbojo Mone. (Teguh Setiawan)
Semua dialektika selalu punya asas
Realis didalam rasio cara pandang
Mengajak menyusuri langit akan terbawa
Bersama Pena Langit dalam intuisi puisi

Keberadaan kini di pertanyakan
Luapan emosi kembali bergejolak
Persoalan Negara syarat perdebatan
Laungkan kekecewaan pada adab kepemimpinan

Instrumen pikiran kembali bermain
Mengacak sejarah yang tertanam dalam memori
Luapan-luapan aksa kembali terangkai dalam media
Syarat menjadi pribadi di intervensi oleh kepicikan berdialektika

Dada-dada di busungkan dalam syarat mencari nama
Siapa yang berdalih menang dia yang pegang liang
Kuburan masal pelacur-pelacur intelektual
Syarat menggurui menjadi yang besar
Hadirkan wacana tanpa solusi
Niscaya kau jadi pejuang tanpa implementasi
Sajak Gie
25 September 2019
^Kopi_kenangan

Berteriak Di Simpang Kiri Jalan

l
Memar mata saat melihat
Mulut terbungkam dalam semat
Sejarah-sejarah tercurah pekat
Tebalkan aksara sebagi penebal muka

Intruksi tanpa komunikasi
Sk-sk terlahir dalam narasi tanpa tuan
Sang tuan malas memelas asih
Lantas pada siapa tinta pertanggungjawaban
Jika yang punya nama tak mengakui keberadaannya

Kita berteriak di simpang kiri jalan
Perbaiki struktural juga sistem pemerintahan
Namun dalam tubuh masih menyimpan ribuan racun
Racun yang paling mematikan adalah lahirnya ketidak-percayaan dalam tubuh sendiri

Hmmmmmm
Sampaikan saja salam hormat
Kita bukan orang yang berambisi menuju midas
Sebab luka kawan-kawan masih terawat
Syarat perjuangan dengan ikhlas
Ginanjar Gie
13 Oktober 2019
^Kopi_kenangan