Torehan Rasa Pada Tinta Pena Langit

Foto : pena langit
Aku yang begitu lama menanti suara surga
Mendamba pengharapan sampai pada tujuan
Namun hanya aku
Kau
Tidak juga

Waktu menelanjangi segala keyakinan
Jiwa kini hendak ditidurkan dalam pembaringanan abadi
Kau
Tidak juga memahami

Jika tidak pada syahdu lafaz indah mu
Adakah guratan aksara mati yang hendak kau sampaikan pada buta ku
Dalam aksara-aksara hampa yang tengah ku nikmati

Agar aku paham dan setidaknya melihat
Di mana
Ada suara surga yang tak sanggup di ucap bibir manis mu

Aku terbiar berdiri sendiri pada jalan berkabut bayang mu
Aku terbiar untuk memahami bahwa aksara ku hanya harapan hampa
Torehan rasa pada tinta pena langit hanya untaian aksara basi
Buta.
Dan mati.
^Kopi_kenangan

Dongeng Hegemoni Elektabilitas

foto : pena langit
Kenapa kepadaku kini konsep kosong
Tanpa cahaya kebenaran dalam pemaparan
Syarat pengetahuan bangsa yang terkuasai
Tuhan hanyalah pelampiasan dongeng hegemoni elektabilitas

Aku kata katakan 'ku lihat
Jalan-jalan dalam lemari yang di gerogoti tikus
Sengaja terpelihara dalam tubuh hitam sang saka
Daun-daun biarkan berguguran dimana-mana
Masih ada petugas pembersih yang akan memungutnya dalam selokan

Lintasan Kornea menjadi strata sosial
Ilmu terpendam jauh dalam Bumi
Dalam diri jauh tertusuk duri
Mumpuni masih jauh di ujung sana
Ya
Sudahlah
Yang penting syarat sertifikat dan kertas yang berstempel kita akan di akui
Ginanjar Gie
13 Oktober 2019
^Kopi_kenangan

Kau Puisiku

foto : ilustrasi puisi
Disisi sunyi kudapati kebimbangan
Disisi terang kudapati sudut hampa
Di balik rindu tersimpan sesayat luka
Derita jiwa ,cinta di balik tirai malam

Akulah hamparan gundah yang tak pernah kau temukan
Mimpi dalam mimpi membalut kisah dalam dilema
Lika-liku kehidupan membawa pada cakrawala yang mematikan
Rintihan rindu tak jua terobati
Jiwa kian menyiksa dalam sudut malam

Ahhhh...
Mungkin kali ini harus ku ikhlaskan cinta merenggut segala-galanya
Menjadikan diri hilang dalam ada yang tak pernah sadar
Membalut nyeri dalam luka yang tertawa di ujung pena

Kau puisiku
Makna yang tertawar tanpa makna
Hingga lahir fatwa tanpa dosa
Memberi peluang asa yang menganga

Aku bingung
Aku takut
Aku benci
Aku muak dengan ini semua
Aku tak ingin kamu sekarang

Kau telah merenggut segalanya
Kau telah melenyapkan semuanya
Kau telah memba-bi-bu kan segala suara
Kau betina liar yang memenjara pikiranku
30 September 2019
^Kopi_kenangan
Ginanjar Gie

Rona Indah Sang Pengusik Jiwa

foto : ilustrasi puisi
Tiada aku disini
Bersama lagu-lagu jiwa melayang
Terbang tinggi melampaui semesta
Melewati atmosfir-atmosfir pikiran
Hilanglah jiwa dalam diri

Pena penantian menggores sakit
Putih suci menampung bulir-bulir mutiara di sudut netra
Jatuh tertetes di sampul-sampul yang ter-sketsakan
Rona indah sang pengusik jiwa tergambar disana
Di dalam tinta yang telah tertoreh

Di atas kertas wajahnya tercipta
Pada semesta pikiran bersama Pena Langit
Jatuhlah bubuhan-bubuhan tinta
Jadilah jadi-jadian
Terharap

Sua
Adalah asa yang terlampir dalam cita
Semoga
Ingin ini pada yang di damba
Ginanjar Gie
03 Oktober 2019

Biarkan Sang Waktu Berlalu

Selamat pagi Tangsel kini aku rindu
Rongsokkan
Tak ada yang peduli
Kekiri-kekanan tanpa ada hirau
Siapa juga peduli
eks.

Dalam rinai ranum hari
Panas Jalan Berteduh pohon dalam pengapnya aspal licin
Membludak pikiran rentan tentang satu
in

Jalan-jalanan seharusnya masih sepi
Namun Sesak menyeruduk tanpa henti
Hilang ilalang dalam naungan firdausi
Rapal demi rapal kini naik tanpa bukti
on

Hmmmmm
Sudahlah
Ikhlaskan saja

Biarkan pagi datang
Biarkan sang waktu berlalu
Sebab hadir  yang terharap adalah doa yang tak pernah terkabul.
Gie
12 sep 2019
#kecewa
^Kopi_kenangan