SUATU SAATKU PASTI AKAN DATANG

Ilustrasi photo penulis

Aku bersama keramain kota
Menunggu pembeli di persimpangan jalan
Duduk termenung sambil meratap
Bahagia mana yang akan ku rengkuh
Sementara mobil berdesakan
Menawar pun enggan

Aku masih terus menunggu
Bersabar adalah kata yang tiada henti tengah ku rayu
Melawan ego peradaban yang kian maju
Disini bahagia ku terkikis layu
Hendak mengubah dengan kata baru

Lelah melepuh menempuh jenuh
Jelma menjelma bosan tak henti
Mendaki harap yang kian tak berujung
Semoga laksa tercapai asa

Aku bosan dari kata
Mereguk mimpi tengah terjengah
Melawan nasib yang tak kunjung beradu
Himpit mengapit pikiran picik
Lentera padam dalam pandangan semu

Aku meraih tetap pada cita
Mencium nasib tetap menjerit
Titik tak berujung tanpa koma
Hingga tanda tanya mengahalangi tanda seru
Aku bangkit
Namun kata miskin siap menjerat

Miskin ialah kata yang paling di benci oleh setiap manusia
Miskin ilmu
Miskin harta
Miskin semuanya

Ia tertidur mengendap dalam jiwa pemalas
Membui semua dalam penjara jiwa

Ah...Sudahlah aku bukan pemalas
Juga bukan si miskin
sebab bubuhan aksaraku
Tengah menjemput kata kaya
Yang entah kapan akan berdamai dalam nasib

Suatu saatku pasti akan datang
Membawa nasib tunduk pada kaki
Hingga cita dan asa semua tercapai dan tergapai

SUARA HATI ANAK ANGKAT

Ilustrasi puisi


Aku menunggu pagi yang kemarin tak sempat ku sambut
Ia berlalu begitu saja tanpa kata
Sementara malam enggan menyapa
Hingga aku terbuai dalam mimpi petaka

Aku tetap pada malam
Menuai tuan yang tak pernah ku tau
Selama ini aku adalah anak dari ibu yang tak pernah ku tau
Aku adalah anak yang tak pernah di lihat oleh kandunganku

Anggapku

Aku terlahir dari jiwa yang tulus
Ia terpenjara dalam duka sang nasib
Merelakan putry di besarkan oleh orang

Aku besar dalam lingkungan istimewa
Tanpa ku tau jiwaku berada di gubuk yang berbeda
Menjelajahi harta tanpa hak
Sebab yang ku tau
Besarku tak ada darah
Besarku tak ada campur
Aku di pungut dari buaian ibuku
Untuk di besarkan dalam istana sang bunda

Bunda kau tau
Aku ingin susu dari ASI
aku ingin di peluk oleh ibuku
Ibu kandungku

Bunda inilah suara hatiku
Suara hatia anak yang di jauhkan dari ibu
Ibu kandungku

Bunda izinkan aku kembali
Kembali dalam buaiannya
Sebab surgaku ada disana
Di telapak kaki ibuku


Catatan : Tulisan ini saya hadirkan untuk menyampaikan isi hati teman saya yang kemarin curhat, bahwa dia anak angkat yang sengaja di pendam bertahun-tahun oleh orang yang membesarkannya

AKU TAK SEDANG BERADA DISINI

Ilustrasi puncak puisi

Aku begitu jauh saat ini
Bahkan langit sudah ku telanjangi
Mencapai putih di atas hitam
Hingga puncak-puncak semua tertampak

Putih kabut selaksa malaikat
Di atas punce aku berseru
Namun tak sempat ku nikmati
Londa kembali hadir di depanku

Aku mendaki semua milik semesta
Dalam diam di atas kasur sufi
Mendekatkan diri hendak ke lazuardi
Sampai pula di bawah ranjang pembaringan

Aku pergi bersama bidadari-bidadari cantik
Aku tak sedang berada di sini
Aku tak tau siap yang sedang menulis
Sementara aku sedang menikmati semilir angin dia alam bebas

Lu telusuri lembah demi lembah
Semua lembah adalah sunyi dan gelap
Aku datang bersama cahaya
Menguraikan guratan untuk keindahan

Aku bukan pendaki yang hebat
Aku tak mampu mencapai puncak yang bermil-mil
Tapi ia mampu
Ia adalah pikiranku
Menggambarkan semuanya lewat imajinasi
Yang bahkan orang tak pernah melihatnya

Aku tak sedang berada disini
Sebab aku petualang tanpa tuan
Ia pergia bermuara bagai hembusan angin
Menjelma kabut
aku pulang

SUKA DUKA SANG KERTAS

Ilustrasi puisi

SUKA DUKA SANG KERTAS

Kertas itu sepi
Ia terdiam tanpa suara
Menguraikan semua tanpa desah
Ia terlahir setelah di lahirkan
Ia menggagas semua ide
Menampung semua jeritan tanpa tangis
Ia tabah dalam segala hinaan tinta
Menjeritpun enggan

Bagi jiwa sedang kesepian
Ia mampu mengeruikan semua keluh kesah di atasnya
Sebelum ia remuk dan mencabik si kertas
Kasian.....
Kau sungguh tak berarti

Suka duka sang kertas
Ia penyimak dari seluruh pengamat
Ia adalah keselurahan orchestra alam
Ia adalaIah pendiam dari semua yang bisu
Ialah si penurut dari segala budak

Murka si penulis adalah jawaban terhinanya sucimu
Pujiannya sang filsuf langit tetap mengotori kesucianmu
Sebab si pembaca tak tau apa yang tertuang di dalamnya

Keluh kesah sang kertas
Ia terdiam membisu di atas murkanya sang tinta penulis
Memberontakpun tak mampu
Bahkan tuk mengeluarkan tangisnya ia harus rela dinistakan kesuciannya

Kasian sang kertas
Kertas itu adalah aku
Kertas itu adala pikiranku
Ia suci tanpa noda
Menguraikan semua kalimat tanpa paksa
Sebelum si penikmat menistalan dengan tafsirannya

Kertas itu adalah dia
Dia yang ku umpamakan tuk mendengar
Dari setiap bunyi dari alunan guratanku
Mencapai kasih tanpa perlu di dendang
Menguraikan seluruh rasa
Entah kapan akan terbaca

Kertas itu adalah kita
Tersulam ikrar di atasnya
Namaku dan namamu berbaris rapi di atasnya
Sesudah wali berikrar tanpa paksa
Seperangkat alat sholat pengesah jalannya.

TANGGA MENUJU LANGIT

Ilustrasi reverensi tulisan


Tangga menuju langit ialah semesta
Semua yang ada ialah pemikiran Tuhan
Yang memaksa kaum sufistik untuk maknainya
Bukan memaknai siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya
Tapi siapa yang mengenal Tuhannya maka dia akan mengenal dirinya.

Simbolis mencapai langit ialah pikiran
Namun jauh di dalamnya ada khodam yang harus di mengerti
Bahwa setiap yang ada di semesta adalah Dzatnya
Wujud dari sifatnya yang agung yang tak bisa dipisahkan darinya
Namun tak pernah setara dengannya

Ia adalah tinggi tak berujung
Mencapainya membutuhkan mi'raj hakiki
Di dalamnya menisbatkan kesucian jiwa
Jiwa yang telah di ridhai

Sufistik berkata aku lebih baik masuk neraka Allah Ridho, dari pada masuk syurga Allah tak ridho

Itah mi'raj para sufi
Bahwa manusia harus melakukan mi'raj
Untuk mencapai pemikiran sufistik
Mi'raj adalah mimpi suci peneguh jiwa
Mi'raj adalah pencapaian pikiran menuju pena Tuhan
Membezakan semuanya

Lihatlah kafilah
Mereka berisra menuju pulau ke pulau
Daerah ke daerah
Bangsa menuju negara
Adalah semua pencapaian menuju langit

Tak semua perjalanan menuju Tuhan
Selama jiwamu masih di bubuhi kedengkian dan kecintaan kepada Duniawi
Kau tak akan bisa mencapai pada mi'raj
Meski kau melakukan isra keseluruh semesta

Pikiranmu adalah mi'rajnya
Namun jiwa mu adalah tangganya
Kau tak akan bisa melewati tangga itu
Jika masih terselip kotoran didalamnya
Sebab kau akan tergelicir di dalamnya

Adalah benar rumah tanpa dasar maka akan ambruk
Begitupun dengan tarekat tanpa sariat.
Pikiran menuju sufi adalah bersihkan diri dan kerjakan syariatnya