CAPEK

Penulis. (kantin depan kampus)

Terapit oleh segunung penat
Di ujung waktu yang hendak ingin ku gapai
Ia tercabik sekulum senyum
Merekah rasa di suaka alam tempat berpijak
Hendak terkandas niat di ujung kaki
Capek melamun pun jua pikiran

Melamun sajak dalam urain bisu
Ia bangkit dalam segala bidang
Namun malas tetap jua menjadi
Menjelma setan dalam aliran darah
Hingga terkoyak semua semangat

Hmmmmmm
Lelah terkulai di atas pembaringan
Merebah lelap badan penuh luka
Sebab untai tak mampu terwakilkan oleh kertas
Hanya kehampaan dan rasa lelah yang tak jua mau hilang

Berharap ada setitik cahaya matamu
Mata ibu
Mata ayah
Yang bisa memberikan seribu tenaga
Memberikan seribu kekuatan
Untukku
Untuk rasa capek ku
Semoga terwujudkan

DESIS

Penulis (Lokasi:ASI MBOJO)

realistismu kini semakin sinis
menebas membabat bebas
apatismu menggorok sadis
kaum borjuis menjelma sebagai pengemis
menanam bibit-bibit komunis,
demokrasi sebagai topeng kapitalis
nasionalis terkikis menipis
menggoyahkan menara yakinku yg miris
suara orasi kini menjadi najis
Sebab amplop adalah tempat yang paling manis
Bagi para penjilat yang berlabel aktivis

PERCAKAPAN SORE

Ilustrasi (lokasi:dana traha)

Sebelum kau pulang aku mengajakmu ke sebuah bukit dana traha, dimana disitu kau bisa melihat semua penghunian kota tepian air.
Lalu kita beranjak dari kepengapan udara dana traha, sambil memintaku untuk mengambil gambar posemu dengan kamera hp mu.

Kau berbisik sesuatu, bahwa kau ingin pergi berpose di depan masjid terapung. Hingga aku mengangguk, mengiyakan permintaanmu sebelum kau pulang ke kampungmu.

Hilir mudik kendaraan menyapa kita yang mengendarai kendaraan roda dua menuju masjid terapung yang terletak di amahami.


Anak-anak yang berjalan mengitari teras masjid menyambut kedatangan kita, sang keamanan masjid sedang bertugas menjaga masjid laksana menjaga emas 24 K (dua pulu empat karat) seberat tugu Monas yang ada di ujung menara.

Adzan sang bila tak lupa menyambut, ashar telah tiba, mengalun indah di setiap telinga kaum Muhammad. Hingga bergetar jua jiwa saat mendengarkan dengan khusuh lantun adzan sang bilal.

Ashar telah usai, sang imam mengucap salam di turut oleh semua makmum, lalu kita bergegas keluar dari bilik masing-masing, berjumpa di tempat parkiran masjid. Aku memegang tanganmu, kau mengajak ku untuk berpose bersama, lalu tak sempat ku benarkan raut muka, kata-kata tanpa makna tercetus tanpa sadar dari mulutku.

Aku :
"maukah kau jadi pelita di hati
membibing jalanku yg penuh duri
kuharap engkau bisa menjadi sesuatu yang ku impi
karena kau bagiku adalah calon permaisuri
yg akan bertahta di sanubari".

Kau:
"Kata-katamu sungguh menyentuh hati
Hingga ku berdiam diri
Tidak bisa ku ungkapkan lagi
Mulut ini seakan membisu tanpa aku sadari".

Aku:
"seuntai kata yang mewakili
atas rasa yang ku pendam di dlm hati
ketika jentik dari naluri ingin berambisi
harus apalagi
harus bagaimana lagi
jika kebisuanmu hanya akan membekukan hati".

Kau:
"Bahagia hati kini ku rasa
Ku tak bisa berkata apa-apa
Kau mengungkapkan kata yang tidak bisa ku cerna
Sungguh aku tercengang dan tak pernah menyangka"

Aku:
"ketika pikiran kini ingin ber_asa
atas rasa yang kian membara didalam dada
yang inginkan engkau menjadi pelita
pemberi cahaya ketika jalanku tak tak rata
pemberi arah ketika jalanku tak tertata
tolonglah wahai belahan jiwa
aku ingin engkau menjadi wanita yg bisa ku papah".

Kau:
Yakinkah kau memilih diriku yang hanya manusia biasa?
Bukankah masih banyak wanita yang lebih sempurna di luar sana?
Jika benar adanya cobalah kau buktikan wahai pujangga?
Ku tunggu kau melamarku di depan mama-papa".

Aku:
"bila dirimu bersedia
bilang sama mama-papa
aku akan segera kesana
meminangmu wahai wanita yang kudamba".



Setelah bercakap dengan indah, kaupun pamit dengan segala mimpi. Bahwa semua akan berakhir dengan indah di tangga rumah sang wali.

Bersambung......

PELACUR INTELEKTUAL

Ilustrasi puisi Sumber: line

Tiupan roh genit pelacur intelektual mewabah di penjuru universitas
Bersorak ramai pengunjung berhilir
Almamater di sandang jadi semboyan
Isi kepala di tanduk tanpa tanya

Heboh gempita sorak meriah
Laksanan jurus badan ikut mengalun
Bersama hasutan lagu yang tersuara oleh artis ternama

Almamater di telanjangi oleh hasutan musik
Berdendang riang si ibu janda
Datang meruah tertimpa ruangan
Berdesak-desak sang junior datang

Selamat datang mahasiswa baru
Sang orator senior berpijak di atas mimbar
Berteriak kampanye laksana tagar ganti
Memberi sambutan penyanyi terkenal

Telanjangi saja dadaku
Aku tak jauh dari iming-iming
Mengawini sirubah berjubah tanpa kain
Sebab harumnya ialah hasrat pembesar kepala urat

Kau intelek?
Ah sudahlah
Telanjangi saja di pembaringan
Sebab pestanya telah usai
Kata seorang rektor di ujung gedung

WANITA PERGERAKAN TELAH LAHIR KEMBALI

Ilustrasi pergerakan wanita


Terkulai di tepi jaman
Membasuh air mata di ujung pipi yang hendak jatuh
Ia berbaring dalam hasutan sejarah
Menggapai konak pada pembebasan hak asasi

Lalu rezim menindas menghimpit semua literasi kiri
Mereka di cap sebagai pemberontak tak manusiawi
Komunis adalah dalih penindasan terstruktur
Hingga terwujud emansipasi tanpa daya
Nawacita telah hilang di tindas waktu
Dalih agama adalah rujukannya.

Apakah tulang rusuk adalah jalannya??
Lalu membengkok yang kemudian menunggu di luruskan?
Apakah jalanan buntut untuk menuntut semua pembodohan?
Apakah jalanan adalah penindasan yang terisolir dari jiwa pergerakan??
Apakah hanya mereka yang berotot kawat yang bisa berorasi??

Habis terang terbitlah terang telah hilang
Terbungkus rapi selaksa mumi mesir
Ia mengendap di jiwa-jiwa feminim
Yang entah kapan akan lenyap

Telah berabad-abad hilang
Lalu datang di abad dua puluh satu
Sorak ramai dari generasi feminim yang kokoh
Ia terlahir dari reinkarnasi sang kartini
Memberi mimpi pasti pada generasi

Apakah mereka akan terhenti??
Tidak
Tidak
Tidak sama sekali
Meski telur janin mengendap di dalam rahim
Ia berdiri di atas mimbar jalanan
Menyeruput kata-kata sampah
Penyampai aspirasi kaum proletar yang terhempas
Jiwa buruh yang tertindas adalah suaranya
Suara emas yang lantang sampai ke ulu hati para penghuni birokrasi

Kau tak akan mampu mendengarnya
Sebab suaranya adalah gelegar yang terpendam selama ini
Ia mampu
Ia bisa
Pasti.

Pergerakan wanita adalah wujud wajib
Hidupkan suara teriakkan hak
Sebab demokrasi adalah suara Tuhan bagi kaum feminim.