REVOLUSI PETANI

Ilustrasi puisi

Tak ada lagi tempat untuk pulang
Aku anak yang terbuang
Terjual di pinggir warung gorengan
Bersama penjual koran korengan

Mimpi terbeli untuk berjuang
Menjadi seorang bocah petualang
Berorasi di atas mimbar antonim beruang
Tak kenal panas meski hari telah masuk siang

Teringat sedari pagi
Belum satu teguk pun kopi ku nikmati
Sebab hari tani menuntutku berorasi
Melawan tirani yang suka beronani

Merah putih hijau biru kuning jingga
Warna pelangi politik indonesia
Yang mengisi ruas jalanan ibu kota
Menuntut harga sandang pangan kembali tertata

Satu lagi
Kata kopi revolusi
Peti mati para petani
Harus Terbuat dari besi
Agar mereka selalu abadi

SYAIR PETANI DAN ELIT POLITIK

Foto : penulis
Dengan dua lensa aku berkaca
Membaca dari pendengaranku yang tuli
Atas intrument yang di lantunkan oleh para elit
Cinta NKRI katanya
Pancasilais katanya
Demokrasi katanya
Bhineka tunggal ika katanya
Negara agraris katanya

Sementara di balik mimbar
Pelacuran kata siap di mainkan
Obral janji adalah taman firdausi bagi telinga tanpa saring
Sebab dompet pribadi menebal
Bolehlah kita beli orang

Ekonomi meroket
Tak usah ngutang lagi
Sejahterakan buruh
Usut tuntas kasus HAM (munir dan wiji tukul adalah misteri)
Inilah bukti bualan dalam mimpi sebelum tidur

Ah sudahlah
Ekonomi sosial tanyakan saja pada karlmax atau ferdrik angel
Ekonomi kapitalis tanyakan saja pada adam smith
Ekonomi syariah tanyakan saja pada google kata bang fahri karena kami bukan lagi berdebat tentang ekonomi syariah atau apapun itu
Itu terlalu rumit dalam rumus hidup kami
Yang kami minta ekonomi mikronya tolong di perbaiki
Sebab peti mati sudah kami siapkan sendiri
Tak usah memahat peti dari berlian
Tanah liat saja sudah cukup

Insektisida murahkan
Harga bawang naikkan
Nilai rupiah naik terhadap dolar
Korupsi di hukum mati
Petani berikan mobil dinas
Jangan hanya kepala dinas yang mendapat perlakuan yang istimewa dan hanya duduk di kantor
Sementara para petani jalan kaki sejauh lima kilo menuju kebun dan ladang untuk bercocok tanam

Revolusi petani
Tanggal 24 hari tani
Kami dari anak para petani
Siap tumbangkan tirani
Dijalanan kami berorasi
Menuntut para penguasa untuk di adili
Sebab pajak rumah dan sawah kami sudah terlalu tinggi

Sementara para petani tak pernah menghiraukan nasibnya
Mereka asyik bercanda ria di sebuah gubuk sawah
Harga cabe naik istri minta cerai
Harga BBM naik gagal kawin lagi
Harga Telur naik janda minta di poligami
Harga diri naik kayaknya 1989 harus terulang lagi
Revormasi revolusi petani
Besok pagi
Siap menggemparka penguasa negeri


BUNYI PENA

Foto : ilustrasi puisi
Bagaimana pena berbunyi?
Apakah semacama lagu goyang dua jari?
Ah tidak
Cara pena berbunyi ialah kata tanpa suara
Ia mengalir dari pikiran para intelek
Yang ingin merubah alam bawah sadar si pembaca

Pena adalah pasangan hidup bagi suami atau istri
Ia mewakili semua keistimewaan berpikir
Menuangkan segala suka duka
Tanpa ampun menguraikannya laksa banjir bandang melanda hunian warga

Pena adalah pedang
Yang mampu menikam tanpa bersentuhan
Ia bisa mematikan jiwa
Meski jarak berada di cakrawala
Ajiannya mampu memenjarakan setiap manusia
Meluluhlantakkan istana laksana pancasona legenda karmapala

Pena adalah sahabat terbaik
Yang selalu mendatangi setiap kau mau berkeluh kesah
Tanpa bising ia mendengar semua kisah
Hujatan kritikan rayuan bahkan penghambaan
Ia adalah tempat penampung semua kata-kata pun sampah

Sementara para sufismen bercerita
Bahwa di lauhil mahfudz berbunyi suara pena
Penulis takdir bagi setiap jiwa yang bernaung di dalam semesta
Menguraikan jodoh dan semuanya
Sebab itu pena sangat indah
Ia mampu menelanjangi tubuh bahkan dengan satu guratan

KITA ADALAH SATU DARI DUA YANG AKAN MENYATU

Foto : ilustrasi puisi

Setubuhi saja pikiran liarku
Aku sedang tak berbicara langit
Apalagi ilmu bumi
Aku sedang berbicara tentang kita
Tentang surga di antara kita
Yang ketika sendiri tak dapat kau miliki
Ayolah kau mengerti bukan?

Nikmati saja malam ini
Bersama hembusan angin malam yang dingin mencekam
Bersama lilin buta
Kau akan menikmati keindahan alam ini

Ayo
Nikmati saja
Aku pembawa peradaban
Jangan kau khianati keberadaanku
Aku adalah dunia tanpa punah
Jadi marilah

Aku datang menjadi tamu pembawa nikmat
Di sela lamunanmu tentang surga dari fatwa filsuf langit
Aku mencoba menafsirkannya bukan?
Kau tentu tau
Aku tak lagi berucap
Karena kita adalah satu dari dua yang akan menyatu

Gie

DEMOKRASI BUKAN AGAMA

Foto : ilustrasi puisi
Sumber foto : makeameme.org

Untuk apa kau tulis fatwa apalah
Aku sudah sejak lama membuangnya
Sebab tak ada lagi yang perlu kita sesalkan
Semua sudah tersirat dalam panggung demokrasi
Bahwa nilai elektabilitas lebih tinggi dari keyakinan

Ah sudahlah
Tak usah dulu kita bicara tentang langit
Sekarang mari kita nikmati saja yang ada di depan kita
Ayolah.....!!!!!
Ayolah sayang
Mari berdansa
Buang semua wibawa dan adab agama
Sebab politik dalam berdemokrasi bukan agama
Jadi mari kita ikuti intrument yang telah tercipta
Sebagai wujud kecintaan kita kepada umairah dan ulama

Ayolah sayang
Telanjangi saja semua kain pembungkusmu
Biarkan mata liar bebas menikmatinya
Karena terlalu angkuh jika kau masih mempertahankan kewibawaanmu

Jubah?
Tak usahlah
Besok juga bisa di beli yang terbuat dari sutera
Tak usah kau pedulikan
Sebab pesta baru saja di mulai
Ayo nikmati dansanya

Ayolah.....
Kau tunggu apalagi?
Kaum sedang menunggu
Tunggangan dari fatwa tuk menuju surga

Ayolah
Buang semua keyakinamu
Langit masih akan memberi hidayah
Percaya saja apa kataku
Kau akan mengerti tentang filsafat langit

Yakin saja.... Kata Adian di ujung acara
Kau mau apalagi?
Yakin sajalah
Tak usah dengar kata wiji rendra apalagi munir
Mereka telah abadi dalam dunianya
Mari kita berpangku tangan
Menjadi pendengar yang baik dari semua skenario
Kita bukan pemain
Ayolah
Kita pulang
Kita hanyalah budak dari negara
Yang menjadi penonton dari turnament elit

Ayolah tak usah bicara
Kita babu
Kita rakyat jelata
Kita bodoh
Kita adalah ulama Google celoteh fahri
Itulah demokrasi