PEREMPUAN AKSIONER HMI

Spesial untuk Yunda Karni dan Yunda Fitry
Foto : karni & fitry

Laksana daun hijau pemberi oksigen
Hitam malam berikan ketenangan
Hijau hitam menyatu dalam pandangan
Menunduklah kader dalam satu bendera naungan

HMI yang permai
Jiwamu adalah ideologi kami
Semua yang bernaung berjiwa ksatria dibawa panji islami
Kami ada HMI untuk kemajuan negeri

Dikala organisasi terkena virus degradasi
Terlahir perempuan berjiwa insani
Menyatukan kader dalam satu persepsi
Nilai dasar perjuangan harus tertanam dalam hati

Jiwa perempuan super
Tertanam dalam tubuh perempuan suci
Perempuan aksioner sang revolusioner
Terlahir dari Tubuh ideologi HMI

Perempuan perkasa tanpa kasar
Berjiwa pemimpin demi mimpi besar
HMI dalam jiwa yang menyala dan berkobar
Hijau hitam pasti akan tetap berkibar

Aksioner sejati
Perempuan dengan jiwa kartini
Tertempa dengan ilmu-iman-amal yang mumpuni
Perempuan itu adalah fitryani dan karni
Yang telah memberikan segenap jiwa raganya untuk HMI

AKU MEMILIH PERGI

Oleh :Desti
Foto : penulis
Perjalanan Melupakanmu
Aku memutuskan untuk berhenti. Membiarkan remah-remah kenangan yang pernah kita ciptakan, tersapu angin bersama gugur daun kering yang merapuh. Dengan gemetar kututup kotak memori yang berisikan keping-keping hati yang dulu sempat tersusun rapi, kini berantakan nyaris tak membentuk. Kita; simpul yang telah tandas, ingin segera aku kuburkan dalam-dalam di dasar segara perasaan yang kau tinggalkan.
Aku memutuskan untuk berhenti.

Membiarkanmu pergi tanpa peduli telah menghancurkan harapku. Sedang aku harus mengemasi segala cerita yang pernah kita rangkai, menaruhnya di laci paling dasar dan menguncinya, agar tak lagi kubuka. Kuakui, melupakanmu bukan perkara mudah, terlebih ketika kenangan kita beterbangan seperti capung kala petang mencumbu senja; indah yang harus kuhentikan.

Aku dan kamu sempat menjadi kita yang melangkah seiring. Membunuh waktu dan rindu dalam riak tawa dalam ruang semesta tanpa batas. Hingga pada suatu ketika perpisahan mengalir dari birai kenestapaan. Beku; serupa gelas kaca yang kau biarkan menggigil dalam dekap musim dingin. Dadaku sesak, lidahku kelu. Ada hampa di sana yang sedang mempersiapkan diri, melepas ceria satu demi satu.

Air mataku gugur setiap kali kuingat kamu, setiap kali bayangan tawamu terlintas dalam anganku. Tidak lagi ada rindu sebagai alasan untuk jumpa denganmu, tidak ada lagi perjalanan untuk menuntaskannya. Kini dan selanjutnya, aku akan menanggung rindu sendirian, menikamnya dengan kejam. Meski akhirnya, jantungku layak terhunus pedang panas yang menyala saga. Tak apa, jika ini adalah jalanku untuk bahagiamu.

Pasca kepergianmu, ada yang harus berkali-kali kuhadapi. Sepi yang menggaungkan jerit nurani, pun dengan luka yang kian perih, dihujani derai yang mengalir dari sudut netra. Aku baik-baik saja, sejujurnya aku telah muak dengan pernyataan itu. Berulang kali kurayu diri agar mau berdamai dengan segala yang tersisa. Menyiapkan langkah untuk mengurungi perjalanan baru; perjalanan melupakanmu.

Pernah kamu bertanya, perihal apa yang bisa kamu lakukan untuk membuatku membaik. Berdoalah, berdoalah agar segala ingatan tentangmu segera terpangkas. Pun dengan aku sedang berusaha mengendalikan hatiku, menghapus aksara yang menyusun namamu. Menata kembali hari depanku yang tanpamu. Berdoalah untukku, dan aku percaya bahwa mengarungi perjalanan melupakanmu, aku mampu.

Satu Waktu, Ada satu waktu di mana aku membayangkan, bahwa bersamamu di masa depan adalah sebuah kebahagiaan.
Ada satu masa di mana kebersamaan denganmu, kukira akan selamanya hingga nanti menua. Namun waktu dan masa itu sudah usai, habis ditelan kecewa yang nyatanya hadir bertubi-tubi. Meski jujur saja, sesekali waktu aku masih akan tertawa mengingat kita yang dulu.
Seseorang pernah berkata, jika tawa sudah tercipta, maka tak lagi ada masalah untuk masa lalu itu. Mungkin kiranya itu benar, aku dan kamu sudah benar-benar saling melupa, hingga tak lagi peduli dengan apa yang kata orang-orang belum jua usai.

Untuk kamu yang pernah berada di penghujung harapku. Semoga kali ini kamu masih dan akan selalu baik-baik saja. Sebab di sini aku, sedang teramat baik karena telah merelakanmu untuk pergi.

YAKIN USAHA SAMPAI

Foto : sampul undangan pelantikan Ketua HMI Cabang Bima
Kembali bergeming
Suara-suara kini mulai bising
Masing-masing punya opini untuk menggiring
Himpunan di pecah dan di goreng
Dalam situasi genting
Kita terpelanting ingin saling membanting
Demi tercapai impian iming-iming
Demi ego untuk jadi pemenang

Kader terpecah belah
Tuding menuding siapa yang salah
Keadaan kita kini makin parah
Saling adu argument dalam amarah
Marah-marah

Tidakkah kita ingat perjuangan para senior
Yang membesarkan nama HMI dengan semangat yang berkobar
Menjalankan roda organisasi dengan mengkader
Bukan dengan intimidasi horor
Menyalahkan yang lain demi nama kita pribadi yang tenar

Abang senior
Yunda senior
Mari sejenak kita tundukkan pandangan kita
Kita kembali pada roda organisasi
Kita hidupkan nawacita HMI

mari...!!!!
Kembali kiat
Rumah kita tembat beribadat
Meski kita berasala dari yang berbeda adat
Kita terhimpun dalam satu pondasi yang kuat
Terhimpun dalam Himpunan Mahasiswa Islam yang mengikat
Silaturahmi untuk menambah bakat
Kualitas insan cita yang di cita-citakan oleh semua

Kita adalah keluarga
Mari gantungkan cita-cita kita bersama
Di bawah bendera hijau hitam nan perkasa
Kita pasti bisa

Yakin usaha sampai
Cita-cita kita tergapai
Akademisi yang kita tempuh tercapai
Insan cita yang kita gaungkan kita tanam dalam nurani
Agar terlahir pribadi yang hakiki
Pribadi yang bisa membawa perubahan untuk negeri

Indonesia Negara kita
Himpunan mahasiswa islam organisasi kita
Pancasila ideologi kita
Kita adalah penghimpun suara di segala penjuru semesta
Untuk menyiaran agama cinta
Islam
Agama yang di ridhoi Allah

AL-JAWI TANAH YANG DI RAHMATI

Foto : ilustrasi Tulisan
Jiwa leluhur memeluk dalam hening
Berbisik dalam gerakan tubuh yang dingin
Menyapa dengan senyuman yang meng-andai
Semoga tercapai cita untuk menemukan yang hilang
Dalam tubuh Bima yang menyimpan misteri
Harapnya dalam senandung bulu perindu yang tengah di bisikkan.

Sesuatu yang hilang harus di cari
Sanggili Nggoi yang tersirat haruslah tersurat untuk menyabut per-adab-an yang menyatukan antara semua persepsi yang di rumuskan dalam 73 cabang.
Ia hilang dalam sebuah samudera Al-fatih-hah, Tersembunyi di awal pembuka segala surah. Sulaiman melafazkan dalam surat yang terkirim dengan hud-hud dengan indah, Hingga puncak sinai tertunduk memeluk tubuhnya dalam menyaksikan kekuasaan kekuatan huruf ba-mim-laf-ha-ra- kha.

Kekuatan itu terus datang mengintai, mem-ber-diri-kan semua bulu yang hidup di dalam tubuh Bumi manusia, Hingga semesta pikiran tertuju pada intuisi yang meyakini bahwa alam dalam alam adalah keghoiban yang di isyaratkan sebagai kekuatan supnatural manusia.

Sembilan untuk mencapai sepuluh tengah di cari ia  di sembunyikan dalam semesta pikiran manusia, pencapaian cahaya dalam rumusan terpancaraku dalam aku hingga terpancar menjadi pancaran murni dari mata yang menatap cahaya keabadian.

Kenikmatan ini tak ada yang menjumpai selain diri, leluhur terus mendekap dalam-dalam, hingga keinginan terus dan terus membuka hijab dari segala hutuf yang tersurat.  Kemampuan terjamah oleh fituah-ffituah-fituah yang di anggap mitologi, namun jauh di dalamnya ada keyakinan yang akan di nikmati oleh jiwa setelah kita menyatu menjadi dalam peleburan akal budi manusia.

Inilah capaian, inilah titik p3ncapai bagi orang-orang yang sedang memeluk sunyi dan mendekap dalam rukuk dan sujud di kalan keheningan malam datang menyapa. Merenungi segala dinamika pikiran lalu bertanya tentang dimana diri dalam raganya, apakah hanyalah lahiriah atau ada sesuatu yag tersembunyi di dalam diri yang kerap lemas dan seketika kuat.

Kembali, setiap manusia memiliki jiwa untuk mencapai,namun tangga menujunya selalu berbeda untuk setiap manusia, itulah keindahan dalam mencapai dengan jiwa yang bersih dalam tanah jawi yang telah di rahmati.
Gie
24 Juli 2019
Pena langit di Bumi pai



PENYEBAB DEGRADASINYA PERGERAKAN MAHASISWA

Foto : penulis
Penulis : Desti
Editor : Ginanjar Gie

"Masa kini adalah masanya kita. Siapa yang diam, dia akan ditinggalkan dan dilupakan oleh Sejarah. Hanya orang kritis dan beranilah yang membuat perubahan”

Sejak jatuhnya Soeharto pada bulan Mei 1998, mahasiswa Indonesia terpecah menjadi dua blok besar. Kalau dulu mahasiswa berhimpun dalam satu barisan untuk melawan rezim diktator yang terkenal otoriter dimana tenaga, waktu, air mata, keringat, bahkan darah menjadi taruhannya, dimana para martir intelektual berguguran dan betapa mahal dampak huru hara setelah peristiwa-peristiwa tersebut, kini mereka seperti terpecah.

Saat ini terdapat blok yang melanjutkan tradisi heroik sebagai kekuatan parlemen jalanan yang blak-blakan saat menyoroti masalah kebangsaan dengan segala resikonya, namun adapula blok yang bersikap apatis dengan acuh tak acuh dalam menyikapi masalah-masalah kekinian, barangkali kita telah kehilangan musuh bersama sehingga menjadi demikian, dan begitulah yang sering terdengar.

Memang pada kenyataanya, setelah reformasi bergulir, kendati tidak serta merta membuat keadaan sosial, politik dan ekonomi jadi lebih baik, tetapi kebebasan mulai dapat dirasakan bukan hanya oleh kalangan aktivis tapi juga masyarakat pada umumnya. Orang-orang mulai bebas bekumpul, berpendapat, bahkan yang dulunya pengecut intelektual kini mulai berani keluar dari tempat persembunyian dan mengklaim sebagai pahlawan reformasi.

Sistem pemerintahan dirombak dan setelah reformasi, bergulirlah untuk pertama kalinya rakyat dapat memilih calon pemimpin mereka secara langsung. Setelah kekuasan beralih, keadaan menjadi lebih nyaman, gerakanpun lambat laun mengendur.

Sejatinya mahasiswa merupakan sebuah kekuatan besar yang telah mencatatkan namanya pada panggung sejarah di negeri ini. Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Sejak tahun 1908 sampai dengan tahu 1998, mahasiswa menjadi penyeimbang pemerintah yang represif, diktator dan bertindak semena-mena. Ada kebanggan tersendiri, bukan soal menurunkan diktator Soeharto; tetapi bagaimana perjungan akan keadilan dan kesejahteraan itu bisa mahasiswa sumbangkan kepada negara tercinta ini.
Saat ini, sejujurnya mahasiswa kehilangan orientasi gerakan.

Gerakan mahasiswa menjadi mandul, tidak substansif dan hanya sekedar corong sponsor saja. Idealisme yang di agung-agungkan sejak masa lampau akhirnya dengan sendirinya tergerus oleh zaman yang menghadirkan persaingan yang tidak sehat.

Aspirasi mahasiswa menuntut perbaikan dalam segala bidang kehidupan bangsa Indonesia harus dijamin oleh kepastian hukum. Sedangkan yang disebut hukum bagi bangsa Indonesia adalah hukum yang berkedaulatan rakyat, bukan hukum yang hanya menguntungkan dan menguatkan penguasa. Hal inilah yang belum dicapai oleh bangsa kita hingga saat ini. Oleh karena itu yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah mengembalikan kedaulatan kepada rakyat, kedaulatan milik rakyat, kedaulatan rakyat.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah siapa dan bagaimana kedaulatan rakyat dapat dikembalikan ke tangan pemiliknya?. Fenomena ini semakin menakutkan dan saban hari benar-benar mengguritalah sikap apatis dan tidak masifnya perjuangan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasi.

Kemandulan idealisme menjadi sebuah tuduhan awal untuk menjawab fenomena ini, dan angan sampai hal ini akhirnya menjadi mitos, bahwa kemandulan aksi dan perjuangan mahasiswa bertekuk lutut pada yang namanya fashion and food, atau dalam bahasa trend kita sekarang yang di sebut dengan pencitraan.

Dalam kacamata penulis, realiats yang terjadi kurang lebih sesuai dengan bahasa publik yang sering di ganungkan di dalam media sosial bahwasannya. "Mahasiswa apatis versus mahasiswa idealis (aktivis)."

Mahasiswa sekarang dalam pandangan sosial telah berkotak-kotak, dan masing-masing melindungi idologi kepentingan kelompok dan pribadinya, seperti halnya partai politik, mahasiswa sekarang dikendalikan oleh sebuah sistem kepentingan kelompok tersebut, hingga akhirnya mengakibatkan degradasi pada tingkat pembangunan infrastruktur dan Sumber daya manusia.  Karena srjatinya revolusi sosial haruslah terjadi dengan cara persatuan persepsi mahasiswa dimana sebagai generasi yang memegang tongkat estafet kemajuan sebuah bangsa.

Mendalami persoalan ini, seharusnya mahasiswa tidak mementingkan egisentrisnya atau kesenangan dan kemenangan diri sendiri dan seharusnya tidak perlu ada kotak yang memisahkan mahasiswa agar tercapai mimpi bersama dalam membangun bangsa yang kita cinta bersama ini.

"Perjuang kami sangat mudah karena kami hanya melawan penjajah, sedangkan perjuangan kalian sulit karena melawan bangsa sendiri"
Kutipan di atas tidak seharusnya kita amini dengan cara mengkotak-kmengkotak-kotakan diri dengamasing melindungi ideologi kepentingan, karena srjatinya kita adalah mahasiswa yabg akan memberi warna untuk kemajuan bangsa indonesia.

Sebagai seorang mahasiswa, yang hendak berbuat banyak bagi orang lain disekitar, sebenarnya inilah pilihan yang sebenarnyaharus kita ketahui bersama dan yang harus kita rubah secara totalitas secara bersama. Hilangkan pengkotakan dan satukan kembali seluruh elemen mahasiswa di bawah panji ”kedaulatan rakyat” dan dibawah ideologi "sumpah mahasiswa."

Kita bisa lihat dengan anaoisis bahwa Kemunduran ini merambah sampai kedalam tubuh organisasi-organisasi kemahasiswaan. Banyak mahasiswa yang memilih menjadi intelektual tradisional (rumah-kampus-rumah). Mungkin karena tuntutan hidup yang tidak menganjurkan mahasiswa untuk berlama-lama di kampus. Kuliah hingga 5 tahun atau lebih saat ini, bukan sebuah hal yang patut untuk dibanggakan. Biaya kuliah semakin mahal dari tahun ke tahunnya. Sehingga pilihannya cuma kuliah dan kuliah. Tidak untuk yang lainnya. Dalam kasus ini kita tidak bisa menghakimi kawan mahasiswa yang lainnya sebagai bagian dari yang tidak berkepedulian terhadap persoalan rumit bangsa ini. Hal ini bertolak belakang dengan para aktivis yang menyebut dirinya sebagai pelopor pergerakan atau kaum idealis. Menjadi intelektual organik adalah pilihan hidup. Yang tetap menjaga jangan sampai idealisme mahasiswa untuk memperjuangkan kesejahteraan sirna oleh kemilau kemajuan teknologi yang memudahkan hidup dengan mengenyampingkan semangat berpikir.

Kemampuan berpikir kritis mahasiswa terpasung oleh tawaran menggiurkan bernama globalisasi dan pasar bebas yang menyediakan segala sarana bagi manusia. Juga di dalamnya mahasiswa.

Persoalan kedua elemen (aktivis vs apatis) ini masih berkutat pada saling menjatuhkan dengan argumen masing-masing. Bagi saya secara pribadi cukup logis dan cemerlang dalam hal saling mempertahankan pendapat. Dua blok inilah yang saya yakini selalu bersengketa dikampus manapun. Mahasiswa aktivis menganggap mahasiswa apatis sebagai mahasiswa yang tidak peka, pragmatis, oportunis, pengkhianat intelektual, atau belum menyadari hakikatnya sebagai mahasiswa. Sebaliknya mahasiswa apatis menganggap mahasiswa aktivis sebagai orang-orang yang tidak ada kerjaan, yang sok ikut campur, keras kepala, cari ketenaran dan mengidap penyakit sok pahlawan. Pada keadaan seperti ini, tiap mahasiswa dari blok manapun harus mengedepankan akal sehat sebagai bukti kalau mereka adalah bagian dari komunitas intelektual.

Seharusnya eksistensialisme dan elitisme yang ditampilkan masing-masing blok segera dikikis bahkan dihilangkan, dan seharusnya kita mengingat dan merenungkan kembali catatan-catatan sejarah yang selalu menempatkan mahasiswa kritis ataupun pemuda sebagai pioneer perjuangan dalam menyatakan kebenaran. Jangan samapi blok ini yang dulu pernah berdarah-darah ketika memperjuangkan dan merebut kemerdekaan, menjatuhkan diktator soeharto,dll. Kini menjadi sebuah dongeng sebelum tidur.

Patut pula kita sadari bahwa tanpa radikalisme pemikiran mahasiswa kritis dan dukungan mahasiswa ataupun pemuda pada umumnya, niscaya sampai hari ini sejarah hanya akan melewatkan lembaran-lembaran kosong dalam buku catatanya.

Sampai pada pemikiran ini apa yang selayaknya kita lakukan? Terus maju dan pekikkan terus semangat perjuangan yang tak kenal henti. Sejatinya kita perlu reorientasi arah gerak dan perjuangan mahasiswa. Kita perlu ret-ret mempertanyakan sejauh mana kontribusi kita bagi bangsa ini. Dengan sejenak mengabaikan sejarah, kita perlu turun ke titik nadir untuk berkontemplasi dengan waktu dan diri kita mengkritisi sendiri jalan panjang perjuangan yang telah mahasiswa rintis di negeri ini.

Imbasnya cukup besar, sebagian besar organisasi mahasiswa mengeluhkan hal yang sama. Kekurangan kader militan yang secara kualitas dan kuantitas seimbang. Yang ada bukan hanya kader karbitan yang sesekali waktu bisa meninggalkan organisasi tanpa permisi. Organisasi intra kampus apalagi. Kini saatnya kita bangkit dari tidur panjang dan mimpi indah mengenaiheroiknya perjungan mahasiswa dulu. Itu dulu. Dulu sekali. Lampau.

Sekarang? Penting bagi kita memahami, saatnya kita bangkit dan bersatu. Dengan berbagai macam identitas kita yang perlu kita tampilkan cuma satu: MAHASISWA INDONESIA. Yang bersatu, teguh dan berintelektual. Hilangkan perbedaan kalau persamaan adalah kekuatan kita. Hilangkan persamaan kalau kita bisa menerima perbedaan sebagai jalan keluar terbaik untuk bersatu. Keduanya merupakan pilihan jitu bagi pengembangan kehidupan berbangsa dan bagi masyarakat agar tidak perlu jauh-jauh dari kata sejahtera.

Kita tidak ingin melihat perang saudara antara mahasiswa kritis dan mahasiswa apatis/pragmatis. Jika memang ada sesuatu yang tidak beres, ayo kita duduk bersama, berdialektika, dan mengerucutkan apa ataupun siapa musuh bersama kita dan musu itu adalah kapitalisme. Karena senjata kita adalah kata, dalam semangat persaudaraan, dan tetap berpedoman pada nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kebenaran. Harapan kita adalah seluruh blok mahasiswa (kelompok mahasiswa apapun) dapat bersinergi tanpa harus saling melempar stigma pada blok lain. Betapapun berat masalah-masalah kekinian, sudah seharusnya menjadi topik pembicaraan dan dicari solusi penyelesaianya. Daripada permusuhan, sungguh saya rindu melihat mahasiswa-mahasiswa dari strata sosial, agama, etnis dan latar belakang manapun berteriak dengan lantang dalam satu barisan kalau mereka adalah intelektual Indonesia yang melawan kejoliman di negeri ini dalam untaian pembebasan.

Kita hidup di dunia nyata. Segala impian dan kenangan mengenai perjuangan dan pergerakan mahasiswa bolehlah tetap ada tetapi jangan sampai kita terus terbuai olehnya. Tetap beraksi, fokus, dan mengedepankan intelektualitas sebagai kekuatan satu-satunya kita. Mahasiswa tidak bertindak dengan senjata. Bagi kita, senjata adalah kata-kata yang keluar dari kemurnian hari dan kejujuran dalam bertutur.

Satu lagi "Bangkit melawan diam ditindas"
Salam pembebasan
salam perjuangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia.