FILSAFAT RASA

Foto : Ilustrasi Puisi
FILSAFAT RASA

Oleh : Ginanjar Gie

Mata jalang melintang di sudut lintang timur
Lintang kemukus memenjara jiwa pada satu asa
Doa terpanjat bagi jiwa yang tengah merindu
Sesunggik apa sempat asa terurai ia meramu tiap ajian teryakini

Niscaya bukanlah suatu keagungan hampa
Sebab di ujung senja setiap harap pasti punya makna
Membubuhi rindu yang kian mendesak
Menghadirkan likuifaksi di ujung mimpi bibir bergetar

Aku bukanlah aliran empirisme jhon luck
Yang memandang elok sebagai muara sebuah rasa
Berbicara fisik adalah yang utama tentang kebenaran
Menyampingkan absolut pada metafisis logis sebuah rasa

Rasaku adalah titian platonis
Bahkan dalam kesucian jiwa aku berani menghadirkan makam geogratos
Untuk mewakili kebenaran cintaku tanpa fisik
Yang bersemayam jauh dalam hati dan pikiran

Hati dan pikiran berkata adalah suatu kebenaran
Maka itulah rasa sayang bermuara dengan murni
Tanpa logika tanpa dialektika jiwa
Filsafat rasaku yang bermuara
Itulah keindahan cinta yang hakiki

MANTAN JAHAT MANTAN PENJAHAT

Foto : Penulis

Mantan jahat mantan penjahat
Pembunuh hati saat subur akan rasa
Selaksa bunga yang sedang merekah di awal juni
Ia terinjak oleh kambing si gembala saat merumput di padang ilalang


Bunga itu tumbuh di ruas jalanan
Lalu terhembus angin yang meniup bibit baru pada peradaban
Hingga lahir benih di tanah lapang tempat kambing gembala mencari nafkah

Loakkan tertumpu di tepi trotoar
Bunga tumbuh di dalam sampah yang membusuk
Hadirkan narasi si bungsu tanpa orang tua
Berjalan terhempas tanpa tau jalan pulang
Lalu dewasa tanpa etika
Ia membunuh para pelacur dan penguasa jalanan
Ia adalah penjahat tanpa hati
Keji dari segala kata kajian
Bahkan mendekam dalam penjara bukan lagi sesuatu yang di takuti

Lalu ia berjumpa dengan seorang gadis belia di pinggir trotoar
Bergetar hati luluh di ujung mimpi
Harap cemas atas masa lalu kelam
Hadirkan asa semoga terlaksa laksana mimpi pujangga
Lalu tangan Tuhan memautkan kedua hati menjadi satu

Bahagia menghampiri lubuk hati yang merindu
Hari-hari pekat kini menjadi berwarna
Menjamu semua kegalaun atas dialek jiwa pada kerontang yang telah lama hilang dari dasar nurani
Hingga kebengisan menjadi majazi pada satu jiwa yang tertemu di pinggir kiri jalan jalanan

Kelembutan hati dari muara senyuman lentik mata yang begitu indah saat berpapas
Mata itu bermain seakan menggoda jiwa
Hingga gelombang-gelombang jiwa menyalurkan neuron pada kholbu untuk kembali memunculkan cinta pada jiwa yang telah lama hilang  nilai manusiawi

Jauh
Jauh sudah hubung terhubung
Menjalin rasa dalam satu nada seirama dalam alunan rindu bersama kidung alam-alam cinta
Semua bermuara pada satu hikayat yang indah
Senja tak terlewat dengan kesendirian
Ada jiwa yang selalu menemani meskipun kadang ia tak satu dalam gravitasi pijakan

Kekuatan-kekuatan kebengisan jiwa pembunuh perlahan mulai hilang dalam diri
Hingga muncul pasrah untuk kembali kepada kebenaran
Menjalin hubungan dengan Tuhan atas cinta dan hikmah yang telah diberi lewat sunggik senyumannya

Namun
Ketika ikrar telah terucap untuk bertaubat
Ia
Sang tercinta memutuskan untuk menghilang dalam pandangan
Menjadi pendiam dalam diam yang tak mau terusik
Hingga jiwa liar yang telah di kubur kembali datang
Menghadirkan Tuhan yang tak adil dalam ucapnya
Hingga ikrar suci tuk berhijrah kemudian pupus
Hilang
Hati kini kembali mati
Jiwa kini kembali legam
Nafsu kini semakin tertuang dalam tungku yang sedang di semai untuk menjadi bara keabadian

Mantan jahat
Mantan si penjahat
Kau lebih jahat dari penjahat
Hingga hijrah terhambat oleh bisikan bualan sombongmu
Menghancurkan hati dan juga hidup untuk sang penjahat


#NB
Cinta boleh, tapi jika kau ingin kembali kepada tuhan, kembali padanya jangan kembali atas dasar orang lain atau faktor lain

03 Oktober 2018
Kota Bima
Kamar kos inspirasi

AJIMAT DAN KHODAM ADALAH KITA

Foto : ilustrasi puisi
Dosa dan rindu adalah kita
Nostalgia dan luka adalah kita
Sastra dan prosa adalah kita
Ajimat dan khodam adalah kita

Sakit yang tak pernah sembuh di ujung mimpi adalah kita
Luka yang tereguk tiap ampas candu kopi adalah kita
Kehampaan pada harapan yang tertata di ujung asa mengerikan adalah kita
Wifiq dalam satu bagan sulaiman adalah kita

Kita adalah sesuatu yang berjalan di tapak yang sama namun tidak pada satu jalan
Kita adalah ruang kosong kehampaan yang masing-masing ingin di isi kembali
Kita adalah saraf-saraf yang hancur karena kafein dan nicotin harapan
Kita adalah senja tanpa harapan dari penikmat di balik bukit

Kita?
Dosakah?
Aku kau yang tak pernah menyatu
Meski harap untuk bersatu adalah ingin yang tak yang selalu terselip di bawah lentera Tuhan di tiap sajadahnya

DUNIAKU KINI TAK ELOK LAGI

Bayu sukma memanggil ruh
Mata suci dari yang tertuju
Hendak berpangku membawa pesan
Hikayat hati tertitah untuk merajut

Bunga kusuma melati putih
Cempaka berterbangan di jari gadis perawan
Menawar mimpi kebahagian di awal musim hujan
Hendakkah waktu akan tercapai iming

Maju merasuk si bunga mawar
Menawar hati yang telah lama mati
Hendakkah kau mau menyemai
Intrik sunyi di lapisan terdalam pembungkus kholbu

Butaku buta mata
Buta ku buta hati
Hendakkah sang bunga memekar di kemarau yang hampir mati
Sementara kembang kerontang akan madu perawan

Dunia kini tak elok lagi
Perawan hanyalah bualan tawar menawar di atas mimbar
Sementara busuk meracuni setiap hidung yang hidup
Hidung tersumbat si pesek kini di hina

Percayakahkah kau tentang bualan?
Pertanyaan konyol..!!!!
Kau akan tetap percaya dengan bualan
Jika kau mendengar dengan hati
Tapi tidak dengan pikiran

MADU SANG PERAWAN

Foto : ilustrasi puisi
Lautku lautan luas
Bacaanku kitab tak beraksara
Ia terpendam pada dinamika sosial
Setiap luka jiwa yang teraniaya

Asusila kini tampilkan taring di setiap tempat
Dengan lantang semua media menyuarakan kemaksiatan
Bahkan di iklan kini tertampil situs mengerikan
Hingga saraf kanan dari otak tak mampu membendung kemauan sang kiri

Tak usah berbicara tentang bunga yang wangi
Tak usah berbicara tentang madu yang suci
Tak usah berbicara tentang kesaktian malam pertama
Sebab itu hanya ada dalam dongeng sebuah kisah fiksi

Jangan bertanya tentang bunga yang wangi?
Madu sang perawan?
Apalagi..!!!
Hahaha
Itu hanya bualan jaman yang merayu di dunia yang hampir senja

Tak ada lagi yang bisa di percaya
Perawan itu hanya darah yang mengalir
Madu pun ikut mengalir di setiap sarang lebah
Lalu kau bertanya tentang adab wanita?

Sudahlah
Jangan percaya sama semua yang terjadi
Itu adalah antologi naskah yang di ceritakan Tuhan
Tuhan opini
Tuhan deadline
Aku tak percaya tuhan yang demikian

Aku percaya Ilah
Ilah ku Allah
Bahwa jika engkau baik
Maka kau akan menemukan pasangan yang baik
Itu janjinya
Yakinlah